Tutri Crafts Merajut Tas Fashionable dari Sisa-Sisa Tekstil

Tutri Crafts di Pameran Beatiful Intr(ust)ash di Titik Koma Buring, Kota Malang.
Deretan tas rajut dan karya lainnya di Titik Koma Buring. Karya Tutri Crafts memperlihatkan cerita kehidupan kedua dari sisa-sisa tekstil yang indah dan fungsional.
Foto : Dok Pribadi/Natera

Saat memasuki ruang pameran, Tim Natera langsung berhadapan dengan deretan tas rajut berwarna cerah yang tersusun rapi. Di balik tampilannya, pameran Beautiful in Tra(Trust)ash menyimpan cerita tentang sisa tekstil di setiap karyanya. Simak kisahnya lebih jauh.

Punch Needle andalan Tutri Crafts

Punch needle menjadi teknik craft yang belakangan ini banyak orang gemari karena prosesnya mudah, menenangkan, dan hasilnya estetik. Jarum khusus membantu pengrajin memukul benang ke kain hingga membentuk tekstur fluffy tiga dimensi yang terasa hidup.

Teknik ini ramah untuk pemula. Prosesnya cepat, fun, dan bisa di berbagai medium seperti totebag, hiasan dinding, hingga aksesori kecil.

Bagi Tutri Crafts, punch needle menjadi cara untuk berbicara tentang sustainable crafting dan kemungkinan hidup kedua material yang seringkali kita anggap tak berguna.

Tekstur tas dari sisa-sisa tekstil buatan Tutri Crafts di Pameran Beatiful Intr(ust)ash di Titik Koma Buring, Kota Malang.
Kombinasi dua limbah tekstile dalam satu karya tas rajut oleh Tutri Crafts yang jadi sorotan di Pameran Beautiful Intr(ust)ash.
Foto : Dok Pribadi/Natera

Sejak 2023, Tutri Crafts aktif mengenalkan punch needle di Jawa Timur melalui berbagai workshop. Dari kegiatan ini, terbentuk komunitas belajar yang terus berkembang dan saling berbagi pengetahuan.

“Orang-orang yang aku ajarin ini sampe udah bikin workshop lagi sendiri.” ceritanya saat workshop LamaLama.id x Tutri Crafts, di Titik Koma Buring.

Bagi Tutri, keberlanjutan tak hanya soal material, tetapi juga tentang regenerasi pengetahuan. Material yang digunakan pun sebagian besar berasal dari limbah tekstil. Jeans bekas dan kain sisa, dicuci, dipilah, lalu diolah kembali dengan penuh perhatian.

Pasarnya cukup spesifik. Peminat Produk Tutri Crafts adalah mereka yang fashionable dan mengikuti tren, sekaligus mulai peduli pada proses di balik sebuah produk itu sendiri.

Hadiri Pameran Beautiful in Tra(Trust)ash

Pameran Beautiful in Tra(Trust)ash lahir dari keyakinan bahwa sesuatu yang biasanya berakhir di pembuanga sebenarnya masih menyimpan potensi. Pameran ini merajut ulang hubungan antara trash dan trust.

Selama lebih dari lima tahun, Tutri Crafts memegang kepercayaan bahwa setiap sisa bisa menjadi sesuatu yang indah ketika kita berikan kesempatan. Warna cerah, tekstur dan detail buatan tangan menjadi medium untuk membangun kepercayaan pada proses merajut limbah tekstil.

Tas rajut, bag charm, hingga macramé tak hadir sebagai objek saja. Mereka menjadi bukti bahwa transformasi bisa muncul dari cara kita memandang material.

Tutri Crafts di Pameran Beatiful Intr(ust)ash di Titik Koma Buring, Kota Malang.
Tutri Crafts berkolaborasi dengan Ilitterless dan Lama-Lama Indonesia dalam Pameran Beatiful Intr(ust)ash di Titik Koma Buring, Kota Malang.
Foto : Dok Pribadi/Natera

Pameran ini merupakan hasil kolaborasi ilitterless, lama-lama.id, dan Tutri Crafts. Ilitterless adalah organisasi yang berfokus pada pengelolaan sampah terintegrasi. sementara Lama-lama.id sendiri juga komunitas yang mengolah sampah tekstil menjadi barang baru.

Pameran hasil kolaborasi ini digelar di Titik Koma dan dirangkai informasinya melalui Sogatoo

“Biasa di Instagram Sogatoo Nanti di situ ada informasinya. Jadi Sogatoo yang rangkakan.” jelas Imam, karyawan Titik Koma.

Selain pameran, kolaborasi ini juga menghadirkan workshop yang fokus pada teknik punch needle di totebag kanvas sebagai media belajar yang aplikatif.

Pesan utama dari pameran ini sederhana namun penting, yaitu limbah tekstil masih bisa berguna kembali dan tidak seharusnya langsung berakhir di tempat pembuangan sampah.

Punch Needle dan Harapan Mengolah Limbah Plastik

Punch needle mulai ramai di Indonesia sejak 2023, terutama lewat Pinterest. Teknik ini termasuk dalam embroidery, namun karakter teksturnya membuatnya terasa lebih ekspresif dan fleksibel.

Salah satu karya tas Tutri Crafts di Pameran Beatiful Intr(ust)ash di Titik Koma Buring, Kota Malang.
Dari benang biasa lahir tas yang tak hanya cantik, tapi juga bercerita. Setiap rajutan Tutri Crafts menjadi bukti bahwa keberlanjutan bisa hadir dalam bentuk yang dekat dengan keseharian.
Foto : Dok Pribadi/Natera

Tutri melihat teknik ini sebagai pintu masuk edukasi. Ia rutin menggelar workshop hampir setiap bulan sejak 2023 untuk membuka akses belajar yang lebih luas.

Ke depan, Tutri ingin mengeksplorasi limbah lain. Salah satu yang sedang dipikirkan adalah mengolah plastik kresek menjadi benang.

“pengen ke limbah plastik dijadiin ke benang..”

Tujuannya bukan hanya eksplorasi teknik, tetapi juga upaya mengurangi sampah. Namun, menurut Tutri tantangan terbesarnya adalah membangun kepercayaan publik terhadap material bekas.

Tutri berupaya mengatasi itu melalui konten dan edukasi. Proses, kebersihan, dan transparansi menjadi kunci agar orang tak lagi merasa jijik terhadap material sisa.

Seperti pesan yang dibawa Beautiful in Tra(Trust)ash, keindahan tak selalu lahir dari sesuatu yang baru. Ia bisa tumbuh dari sisa, selama kita mau mempercayai proses dan memberi kesempatan kedua.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.