
Foto : Dok Pribadi/Natera
Kota Malang — Hello Naters! TPA Supit Urang di Kota Malang menjadi salah satu lokasi yang mendapatkan program ERIC-SWM dari pemerintah. Melalui program ini, TPA Supit Urang dilengkapi berbagai teknologi canggih untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah. Salah satu inovasi unggulannya adalah windrow turner Backrush, mesin pengaduk kompos buatan Jerman yang dikenal sebagai salah satu peralatan tercanggih dalam proses pengomposan.
Windrow Turner Backrush dirancang untuk membalik, meng aerasi, dan meratakan tumpukan kompos (windrow) secara cepat dan konsisten. Drum pemutar yang besar dan bertenaga memungkinkan alat ini mengolah material organik dalam jumlah besar hanya dalam satu kali pengadukan. Mesin ini bekerja dengan cara menarik oksigen ke dalam tumpukan kompos sambil meratakan kelembapan, sehingga proses dekomposisi dapat berlangsung lebih optimal. Dalam konteks TPA Supit Urang yang menangani ratusan ton sampah organik, keberadaan alat ini menjadi salah satu kunci percepatan pengolahan.
“Semenjak ada mesin WTB ini, sekitar 15 ton kompos berhasil dihasilkan setiap harinya, dari 30 ton sampah organik yang ada.” ujar Arif Kepala Pengelolaan TPA Supit Urang kepada tim Natera.
Kompos yang diproduksi di TPA Supit Urang tidak serta-merta langsung dikomersialkan oleh DLH Kota Malang. Sebagian besar justru dibagikan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TPA. Langkah ini dilakukan agar sampah yang berasal dari warga dapat kembali memberikan manfaat bagi lingkungan mereka, sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya.
Selain dibagikan secara gratis, kompos hasil produksi TPA Supit Urang juga tersedia untuk dijual kepada masyarakat umum. Dilansir dari DDTCNews, DLH Kota Malang menetapkan harga Rp700 per kilogram, sementara kompos dalam kemasan plastik berisi 5 kilogram dijual dengan harga Rp4.500 per kemasan. Kebijakan ini diharapkan dapat memperluas pemanfaatan kompos sekaligus mendukung upaya pengurangan sampah organik di Kota Malang.

Foto : Dok Pribadi/Natera.
Tantangan pengelolaan sampah di Kota Malang memang tidak kecil. Setiap harinya, kota ini menghasilkan sekitar 740 ton sampah, dihitung dari rata-rata 0,62 kilogram sampah per jiwa. Sekilas terlihat kecil, namun bila ditotal berdasarkan populasi, jumlahnya membentuk gunungan sampah yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Sayangnya, tidak semua sampah ini berhasil tertangani dengan baik. Dari total 740 ton tersebut, hanya sekitar 490 ton yang mampu masuk ke TPA. Masih ada sekitar 240 ton sampah yang tercecer di luar seperti dibuang ke sungai, ditinggalkan di titik-titik pembuangan liar, atau bahkan dibakar oleh warga. Aktivitas ini belum hanya merusak lingkungan, tetapi juga memperparah polusi udara dan berdampak pada kesehatan masyarakat.

Foto : Dok Pribadi/Natera.
Di tengah kompleksitas tersebut, teknologi seperti Windrow Turner Backrush menjadi harapan baru. Mesin ini mampu mengolah kompos dalam volume besar, mempercepat waktu penguraian material organik, dan membantu mengurangi beban sampah yang menumpuk di TPA. Dengan kemampuan membalik windrow hanya dalam hitungan menit, proses yang sebelumnya memakan waktu berminggu-minggu dapat ditekan lebih efisien. Dampaknya bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga menghasilkan kompos berkualitas yang dapat dimanfaatkan kembali, baik untuk pertanian maupun penghijauan kota.
Keberadaan mesin buatan Jerman ini juga menandai langkah maju Kota Malang dalam mengadopsi teknologi berkelanjutan. Program ERIC-SWM menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar urusan membuang, tetapi tentang menciptakan siklus material yang lebih bertanggung jawab. Dengan teknologi tepat guna seperti Windrow Turner Backrush, TPA Supit Urang tidak hanya menjadi titik akhir sampah, tetapi juga pusat pengolahan yang lebih modern dan ramah lingkungan.