Malang – Capunglam Worm Fresh memperkenalkan worm bin sebagai alat sederhana yang memungkinkan rumah tangga mengolah sampah organik secara mandiri menjadi pupuk dan cacing bernilai ekonomi, melalui pendekatan edukatif yang disampaikan langsung oleh Cahyo Ilham Firmansyah Subagio bersama Adel dari tim Marketing. Metode ini ditawarkan sebagai solusi praktis agar pengelolaan sampah organik dapat dimulai dari rumah, tanpa teknologi rumit dan biaya besar.
Worm bin adalah wadah pengomposan berbasis cacing yang dirancang agar mudah diterapkan di skala rumah tangga. Sampah dapur seperti sisa sayur dan buah dimasukkan ke dalam wadah, kemudian diurai oleh cacing menjadi kascing atau pupuk organik. Di Capunglam, metode ini dikenalkan sebagai pintu masuk paling realistis bagi masyarakat yang ingin mulai mengelola sampah secara berkelanjutan.
Mengolah Sampah dari Hulu
Menurut Cahyo, persoalan terbesar pengelolaan sampah organik bukan terletak pada teknologi, melainkan kebiasaan. Banyak rumah tangga masih mencampur sampah sehingga seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Worm bin ditawarkan sebagai langkah awal yang bisa dilakukan siapa saja.
“Kalau sampah organik cuma dibuang, ya selesai di situ. Tapi kalau diolah pakai cacing, dia bisa jadi pupuk dan bahkan punya nilai ekonomi,” ujarnya dalam sesi diskusi yang terekam dalam transkrip wawancara.
Pendekatan ini menekankan pengelolaan di sumber. Dengan memilah dan mengolah sampah sejak dari dapur, beban pengangkutan dan penumpukan di TPA dapat ditekan secara signifikan.
Cara Kerja Worm Bin di Rumah
Dalam praktiknya, worm bin tidak membutuhkan ruang luas. Wadah bisa ditempatkan di halaman, teras, atau sudut rumah yang teduh. Sampah organik dimasukkan secara bertahap, kelembapan dijaga, lalu dibiarkan diurai oleh cacing. Dalam beberapa minggu, kascing dapat dipanen dan digunakan sebagai pupuk tanaman.
Cahyo menjelaskan bahwa sistem ini bekerja optimal jika dilakukan secara konsisten.
“Kuncinya itu rutin dan tahu porsinya. Kalau sudah terbiasa, ini justru memudahkan,” katanya.
Menurutnya, banyak orang gagal bukan karena metodenya rumit, tetapi karena kurang pendampingan dan berhenti di percobaan awal.
Pupuk dan Cacing Bernilai Ekonomi
Selain pupuk organik, worm bin juga menghasilkan cacing yang memiliki nilai ekonomi, terutama sebagai pakan ikan dan unggas. Di Capunglam, cacing menjadi bagian dari rantai ekonomi sirkular. Namun, Cahyo menegaskan bahwa untuk rumah tangga, manfaat ekonomi ini sebaiknya dipandang sebagai bonus.
“Jangan langsung mikir besar. Yang penting sampahnya beres dulu di rumah,” ujarnya.
Fokus utama tetap pada pengurangan sampah dan perbaikan lingkungan sekitar.
Adel menambahkan bahwa ketika masyarakat melihat hasil nyata dari sampah yang mereka kelola sendiri, persepsi terhadap sampah akan berubah.
“Begitu tahu sampahnya bisa jadi sesuatu yang berguna, orang jadi lebih peduli,” katanya.
Edukasi Lewat Praktik Langsung
Capunglam menempatkan edukasi sebagai bagian penting dalam pengenalan worm bin. Peserta tidak hanya mendapat penjelasan teori, tetapi juga melihat langsung bagaimana proses penguraian terjadi. Pendekatan ini dinilai lebih efektif untuk membangun kesadaran jangka panjang.
“Kalau cuma dengar teori, orang paham tapi belum tentu jalan. Tapi kalau lihat langsung, mereka kebayang bisa diterapin di rumah,” kata Cahyo.
Pendekatan praktis ini penting mengingat sampah organik masih mendominasi timbulan sampah nasional. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa lebih dari separuh sampah di Indonesia merupakan sampah organik, sehingga pengelolaan di sumber menjadi kunci pengurangan beban TPA
Sejalan dengan Ekonomi Sirkular
Metode worm bin sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular yang memandang limbah sebagai sumber daya. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menyebut vermicomposting sebagai metode efektif untuk mengolah limbah organik sekaligus meningkatkan kualitas tanah
Di Capunglam, konsep ini diterjemahkan secara praktis. Sampah organik diolah, hasilnya digunakan kembali untuk pertanian dan pakan ternak, menciptakan siklus tertutup yang meminimalkan residu.
“Ekonomi sirkular itu bukan teori. Intinya gimana limbah muter terus dan nggak jadi masalah,” ujar Cahyo.
Tantangan dan Kebiasaan Baru
Meski tergolong sederhana, worm bin tetap membutuhkan komitmen. Kesalahan seperti memberi pakan berlebihan atau tidak menjaga kelembapan dapat menyebabkan kegagalan. Cahyo mengakui bahwa perubahan kebiasaan memang tidak instan.
“Orang sering nyoba sekali, gagal, terus berhenti. Padahal kalau tahu caranya, ini bisa jalan lama,” katanya.
Karena itu, Capunglam mendorong pendekatan bertahap agar masyarakat tidak mudah menyerah.
Dari Rumah ke Dampak Lingkungan
Bagi Capunglam, perubahan besar dalam pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah. Ketika rumah tangga mampu mengolah sampah organiknya sendiri, dampaknya akan terasa secara kolektif mulai dari berkurangnya timbulan sampah hingga membaiknya kualitas tanah.
“Kalau rumah tangga sudah bisa ngolah sampahnya sendiri, beban lingkungan itu berkurang jauh,” ujar Cahyo.
Worm bin mungkin tampak sederhana, tetapi di tangan rumah tangga yang konsisten, alat ini menjadi langkah awal menuju pengelolaan sampah organik yang lebih berkelanjutan dimulai dari dapur, untuk lingkungan yang lebih sehat.