Yust Collection dan Kemandirian Warga

kegiatan yust collection pelatihan di rw sekitar
Lewat pelatihan di Balai RW, Yustin memberdayakan warga dan anak muda sekitar, membuktikan bahwa aksi kecil di komunitas bisa menghasilkan dampak lingkungan yang nyata.
Foto : Dokumentasi pelatihan di balai RW Yust Collection.

Hello Naters!—Beda dari gerakan lingkungan yang ribut kampanye sana sini, Yust Collection justru turun langsung ke warga setempat, mengajarkan kepada mereka cara mengolah sampah sendiri. Pelan, tapi berdampak besar.

Dari Sampah Plastik ke Yust Collection

Pagi belum sepenuhnya terang ketika Ernik Yustiana mulai menyibakkan dan memilah plastik-plastik bekas di bengkel daur ulangnya. Suara gesekan kresek itu seperti ritme pembuka dari rutinitas yang telah ia jalani bertahun-tahun. Bagi Yustiana, sampah bukan sekadar benda tak berguna ia percaya, dari tumpukan plastik bekas, bisa lahir perubahan besar.

Di tengah hiruk-pikuk Kota Malang yang terus berkembang, Yustiana memilih jalan berbeda. Saat banyak orang berlomba mengejar pekerjaan formal di luar sana, ia justru menekuni sesuatu yang sering dianggap kotor, rumit, bahkan remeh yaitu mendaur ulang sampah plastik. Dengan ketekunan dan keyakinan, ia membuktikan bahwa hal kecil di tangan yang tepat bisa memberi dampak nyata bagi lingkungan.

Keterampilan mengolah bahan bekas sudah dimiliki sejak ia duduk di bangku perkuliahan, namun baru pada tahun 2019 ia benar benar mengambil langkah konkret untuk mewujudkan ide ide kreatifnya. Dengan keberanian dan kreativitas yang tinggi, ia mendirikan Yust Collection, sebuah usaha kecil yang fokus mengolah sampah plastik menjadi produk fungsional dan bernilai jual. Dari rumahnya yang sekaligus menjadi bengkel kreatif, ia mulai merancang berbagai barang dari limbah yang biasanya dianggap tidak berguna, mengubahnya menjadi benda yang estetis sekaligus praktis.

Ia menamai lini produknya TSUY, sebuah brand yang lahir dari semangat untuk menciptakan perubahan nyata, sekaligus menjadi simbol bahwa inovasi bisa lahir dari hal hal sederhana di sekitar kita. Dari botol bekas, kantong plastik, hingga kertas yang menumpuk, setiap bahan dipilih, dibersihkan, dan dirakit dengan telaten hingga menjadi produk yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga memiliki karakter kuat.


Hampir semua bahan baku yang digunakan Yustin berasal dari tetangga-tetangga sekitar rumahnya. Setiap hari, ia dengan ramah membuka pintu rumahnya selebar mungkin untuk menerima limbah plastik yang diserahkan warga. Awalnya, banyak tetangga merasa heran melihat kebiasaannya mengumpulkan sampah plastik, benda yang bagi sebagian orang hanya dianggap limbah tak berguna. Namun, rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi antusiasme ketika mereka melihat hasil karyanya. Setiap warga yang menyetorkan sampah plastik mendapatkan imbalan berupa produk jadi, mulai dari dompet, tas belanja, hingga aksesori lain yang dibuat dari limbah tersebut.

Namun, Yustin tidak berhenti hanya pada produk. Sejak awal berdirinya Yust Collection, ia membawa misi yang lebih luas mengajak warga sekitar untuk ikut mengolah sampah mereka sendiri dan memahami nilai limbah yang sering diabaikan. Dari bengkel daur ulangnya, Yustin rutin menggelar pelatihan mulai dari cara memilah sampah, membersihkan bahan bekas, hingga mengubahnya menjadi barang yang berguna dan bernilai jual. Ia membuka pintu bagi siapa saja yang ingin belajar, tanpa memandang usia atau latar belakang, sehingga setiap orang bisa merasakan langsung bagaimana sampah dapat diubah menjadi peluang.

Apa yang awalnya hanya berupa usaha rumahan perlahan berubah menjadi gerakan lingkungan mini yang tumbuh di tengah pemukiman kota. Gerakan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan baru, tetapi juga menanamkan kesadaran lingkungan yang praktis dan konkret. Warga yang semula hanya membuang limbah plastik atau kertas, kini mulai melihatnya sebagai sumber daya yang bisa diolah. Dari bengkel sederhana itu, Yustin berhasil menciptakan komunitas kecil yang saling mendukung, belajar bersama, dan ikut merasakan dampak positif dari praktek daur ulang sehari hari sebuah bukti bahwa perubahan besar bisa lahir dari langkah-langkah kecil yang konsisten.


Inspirasi Besar dari Pelatihan Kecil Balai RW

Bertahun tahun menekuni dunia daur ulang membuat Yustin menyadari satu hal penting yaitu gerakan lingkungan tidak bisa berjalan sendirian. Ia menyadari bahwa perubahan yang nyata baru bisa tercapai ketika masyarakat sekitar ikut terlibat aktif, sekaligus memiliki keterampilan untuk mengolah sampah mereka sendiri, tanpa harus selalu bergantung pada ahli atau pakar lingkungan. Kesadaran itu kemudian menjadi pijakan Yustin untuk membangun komunitas yang mandiri dan sadar lingkungan.

Dari pemikiran itu, Yustin mulai rutin mengadakan pelatihan daur ulang di balai RW maupun di rumah rumah warga. Setiap sesi pelatihan selalu ia persiapkan dengan membawa bahan-bahan sederhana plastik bekas, gunting, dan beberapa contoh produk kreatif yang bisa dibuat dari limbah tersebut. Cara mengajarnya tidak kaku Yustin mengajar sambil bercanda, mendorong setiap peserta untuk mencoba langsung, dan memastikan semua orang merasa mampu. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki potensi untuk menghasilkan sesuatu dari sampah. Motivasi Yustin pun sederhana, namun kuat: warga harus mandiri. Ia ingin masyarakat tidak hanya tahu cara mengelola sampah, tapi juga merasakan kepuasan ketika karya mereka sendiri mampu memberi nilai ekonomi maupun estetika.

Harapan saya sederhana,” kata Bu Yust suatu sore ketika NATERA berkunjung. “Saya ingin warga bisa mengelola sampahnya sendiri. Jangan sampai mereka bergantung pada saya. Kalau saya tidak ada, mereka tetap bisa mandiri.”

Pelatihannya bukan sekadar soal membuat kerajinan, tetapi juga membangun rasa percaya diri, kesadaran, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Yustin ingin setiap rumah mampu mengolah sampah dari mereka sendiri, menciptakan perubahan kecil yang bertahan lama dan berdampak nyata bagi kehidupan sehari-hari.

Selain itu, Yustin membuka pasar bagi produk warga melalui jaringan Yust Collection, memastikan setiap karya memiliki nilai jual dan bisa ditemukan oleh pembeli. Dengan cara ini, ia tidak hanya mengolah sampah menjadi produk berguna, tetapi juga mengolah masyarakat menjadi lebih berdaya dan mandiri.

Gerakannya mungkin terlihat sederhana balai RW kecil, produk dari plastik bekas namun dampaknya nyata. Warga menjadi lebih peduli lingkungan, lebih mandiri, dan lebih siap menjaga ruang hidup mereka sendiri. Semua itu bermula dari satu perempuan yang percaya bahwa sampah bukan akhir, melainkan awal dari sesuatu yang bisa diperbaiki.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.