Retrorika Beri Diskon 10% bagi yang Bawa Wadah Sendiri

Mengerjakan tugas sambil menikmati hidangan di cafe
Work From Cafe di kafe terasa nyaman, tapi sisa kemasan sekali pakai dari meja kita tetap melanjutkan perjalanannya,  ke tempat sampah hingga ke ekosistem yang ikut menanggung bebannya.
Foto : Dok Pribadi/Natera

Kamu mungkin sudah menyelesaikan tiga tugas kuliah sambil menyeruput kopi susu kekinian di sebuah cafe. Atau mungkin baru saja menghadiri meeting online dengan latar belakang estetik kedai kopi. Tapi pernahkah kamu berpikir, apa yang kamu tinggalkan di meja itu?

Di balik segelas kopi yang kita nikmati setiap hari, ada hal-hal yang sebenarnya luput dari perhatian kita. Kita membayar mahal untuk pengalaman, namun seringkali menerimanya dalam kemasan yang murah dan sekali pakai. Setiap gelas plastik yang kita pegang, setiap sedotan yang kita gunakan, meninggalkan jejak jejak yang tidak berhenti di tempat sampah, tapi berlanjut ke sungai, laut, dan akhirnya kembali ke meja makan kita sendiri.

Riuh Kafe di Kota Batu

Berbicara soal kafe, rasanya sulit mengabaikan Kota Batu. Udaranya yang sejuk dan panorama yang menenangkan membuat kota ini tumbuh sebagai ruang singgah yang ideal, terutama bagi bisnis-bisnis penunjang pariwisata seperti food and beverage. Pertumbuhannya pun terus naik dari tahun ke tahun.

Tak heran jika kini terdapat 515 kafe dan restoran yang menghiasi kota ini. Masing-masing menjadi panggung tersendiri bagi gaya ngopi yang kian beragam. Setiap akhir pekan, arus pengunjung terus memenuhi kedai: mahasiswa membuka laptopnya, pekerja remote mengejar deadline, dan keluarga menikmati suasana sambil mengabadikan momen.

Namun dari ratusan kafe tersebut, berapa banyak yang masih mengandalkan gelas plastik sekali pakai atau styrofoam untuk menyajikan menu mereka? Benda-benda yang hanya kita genggam sesaat itu justru meninggalkan jejak yang bertahan jauh lebih lama dari kunjungan kita.

Coba bayangkan Naters, jika setiap pengunjung menggunakan satu gelas plastik dan satu sedotan, maka dalam sehari terkumpul puluhan ribu sampah plastik. Dalam setahun? Angkanya mencapai jutaan. 

Misi Retrorika dengan Wadah Ramah Lingkungan

Di tengah anggapan bahwa segala sesuatu harus serba praktis, Retrorika justru punya cerita yang berbeda. Di kedai yang berlokasi di Jalan Dewi Mutmainah No. 3 ini, kamu tidak akan menemukan kemudahan instan yang biasa tersedia kafe pada umumnya.

Sebaliknya, kamu akan berhadapan dengan pilihan-pilihan yang sengaja dibuat tidak praktis, tidak ada tisu yang bisa diambil begitu saja, tidak ada sedotan plastik, dan tidak ada wadah styrofoam untuk membawa makanan pulang.

Ismi Wahid menceritakan konsep Zero  ala Retrorika
Di hadapan meja dari pintu bekas, Ismi Wahid tampak antusias bercerita kepada Tim Natera tentang bawa wadah sendiri ala Retrorika. Sebuah ajakan ringan namun tegas untuk mengurangi jejak sampah dari pilihan paling sederhana di keseharian kita.
Foto : Dok Pribadi/Natera

“Kami tidak anti plastik sepenuhnya, Kami hanya ingin orang menggunakan plastik dengan bijak.” Jelas Ismi selaku CEO Retrorika

Ingin membawa pulang pesanan? Kamu akan berjumpa dengan dua pilihan: membawa wadah sendiri, atau membeli kemasan ramah lingkungan mereka.

Jika ingin membawa makanan pulang, pengunjung perlu menanggung wadahnya sendiri. Retrorika menyediakan besek bambu dan botol kaca bagi siapa pun yang memilih opsi take away.

Menu Retrorika yang dikemas dengan besek dan botol kaca
Retrorika memilih besek dan botol kaca sebagai wadah takeaway. Langkah kecil ini mengingatkan kita bahwa kita bisa memulai keberlanjutan dari pilihan yang paling dekat dengan tangan kita.
Foto : Dok Pribadi/Natera

“Dan itu tidak kami cover. Kalau mau dibawa pulang pakai packaging besek, cuma 2.500 Rupiah,” lanjutnya

Yang menariknya lagi, harga itu bukan untuk mengambil untung.

“Kami tidak mengambil profit dari itu. Karena misi-nya adalah campaign.”

Diskon 10% sebagai Apresiasi untuk Kebiasaan Baik yang Mengubah Dunia

Sementara banyak usaha lain memberikan diskon untuk menarik lebih banyak konsumsi, Retrorika justru memberikan diskon 10%  untuk mengurangi sampah. Setiap pelanggan yang membawa wadah sendiri seperti tumbler untuk minuman atau kotak makan untuk makanan akan langsung mendapatkan potongan harga.

Mekanisme ini justru membalik pola umum: alih-alih memberi insentif untuk membeli lebih banyak, mereka memberi insentif kepada pengunjung untuk mengurangi limbah.

Papan misi Retrorika di pintu masuk
“Bawa wadah sendiri, dapat diskon 10%” begitulah misi Retrorika mengubah kebiasaan konsumsi menjadi aksi nyata untuk merawat Ibu bumi.
Foto : Dok Pribadi/Natera

“Kami malah memberikan 10% diskon untuk mereka yang take away, tapi bawa tempat sendiri, tumbler sendiri, atau food box sendiri. Ini reward bagi mereka. Oh, ternyata kamu sudah terbiasa bawa tumbler.”

Diskon-diskon ini menciptakan efek domino yang menarik. Pelanggan tidak hanya menghemat uang, tetapi juga merasa dihargai karena pilihan hidupnya. Mereka menjadi duta-duta kecil yang tanpa sadar mengampanyekan gaya hidup ramah lingkungan kepada teman-teman mereka.

Mungkin, diskon 10% itu hanya menghemat Rp 5.000-8.000 saja per transaksi. Tapi nilainya lebih dari sekadar angka. Itu adalah pengakuan bahwa pilihan kecil dengan membawa wadah sendiri adalah tindakan yang layak dihargai. 

Kolaborasi dengan Malaka Project, Retrorika Beri Diskon 20%

Retrorika telah menjalin kolaborasi dengan Malaka Project, sebuah gerakan edukasi digital yang tumbuh dari kegelisahan terhadap polarisasi politik, terbatasnya akses pendidikan berkualitas, dan melemahnya daya berpikir kritis di tengah masyarakat.. Hasil kolaborasi ini cukup menggiurkan, di mana pelanggan yang membawa tumbler edisi Malaka V1.0 mendapatkan diskon spesial 20% untuk pembelian kopi.

Hitam-putih tumbler Malaka Project dipajang di depan kasir ini jadi bagian kolaborasi baru. Penggunanya bisa mendapat potongan 20% untuk pembelian kopi di Retrorika.
Foto : Dok Pribadi/Natera

“Kami resmi menjadi kolaborator-partner Malaka Project,”

Kolaborasi ini bukan sekadar program diskon biasa. Ini adalah sinergi antara dua entitas yang memiliki visi sama, mengubah kebiasaan masyarakat dari ketergantungan plastik sekali pakai menuju gaya hidup berkelanjutan.

“Jadi teman-teman atau customer yang ke sini bawa tumbler Malaka mereka, malah kami beri diskon 20%.” Tambah Ismi

Setiap diskon 20% yang diberikan adalah investasi pada perubahan perilaku. Diskon ini menjadi sebuah cara untuk mengatakan bahwa membawa tumbler baik untuk lingkungan, dan menguntungkan secara finansial. Dengan begitu, Retrorika membangun loyalitas pelanggan sekaligus membangun masyarakat yang bijak akan setiap pilihan konsumsi mereka.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.