
Foto: Dok Pribadi/Natera
Di Malang, usaha berkelanjutan Thrills4Life menghadirkan produk eco print bermerek Thrilogic yang dibuat dari daun dan bunga tanpa zat kimia untuk menjawab persoalan limbah pewarna sintetis yang mencemari banyak sungai di Indonesia. Melalui proses manual yang berlangsung setiap hari di studio kecil mereka, Thrilogic menunjukkan bagaimana kain dapat diproduksi dengan lebih ramah lingkungan, lebih personal, dan tetap terjangkau.
Di tengah derasnya industri fashion cepat yang terus menekan bumi, Thrilogic melangkah pelan. Pelan dalam proses, pelan dalam produksi, dan pelan dalam mengambil keputusan. Namun justru dari gerak yang lambat itu, lahir karya yang penuh kedalaman. Kain-kain eco print mereka tampil dengan motif organik yang tidak bisa diprediksi urat daun yang halus, warna bunga yang meleleh lembut, hingga pigmen alami yang berubah mengikuti cuaca.
Eco print seringkali dianggap sekadar tren. Tetapi ketika masuk ke ruang kecil produksi Thrilogic, jelas bahwa yang mereka kerjakan jauh lebih besar dari itu. Mereka sedang menegosiasikan ulang hubungan manusia dengan alam: bukan eksploitasi, tapi kolaborasi.
“Setiap daun itu hidup. Kalau dia berubah sedikit saja, hasilnya berubah total. Itu yang bikin eco print menarik.” Ujar Cecilia dalam wawancara langsung bersama tim Natera
Menurut catatan lapangan tim Natera, eco print awalnya hanyalah eksperimen kecil. Thrills4Life sudah lebih dulu dikenal lewat PlastikaArt , lini produk upcycle plastik. Namun ketika mereka mencoba teknik eco print, ada sesuatu yang “klik”. Prosesnya penuh kejutan, penuh tantangan, tapi sekaligus membawa keterikatan emosional dengan daun-daun lokal yang mereka gunakan.
Dalam salah satu catatan lapangan tertulis “Warna muncul seperti sedang melihat alam meninggalkan jejaknya sendiri di kain.”
Eksperimen kecil itu kemudian berkembang menjadi identitas baru yairu Thrilogic.
Proses Produksi Eco Print Thrilogic
Berbeda dari banyak produsen eco print yang menambahkan penguat kimia agar warna lebih tegas, Thrilogic memilih rute yang lebih sulit mengandalkan 100% pigmen alami.
Langkahnya panjang:
- Memilih daun yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda
- Menyiapkan kain dengan bahan perendaman alami
- Menata daun hingga membentuk komposisi
- Menggulung dan mempres kain
- Mengukus perlahan selama beberapa jam
- Mengeringkan tanpa bahan tambahan
Dalam praktiknya, banyak batch yang gagal. Kadang warna tidak muncul. Kadang daun terlalu kering. Kadang urat daun terlalu keras hingga tidak menempel sempurna.
“Kalau gagal ya ulang lagi. Memang harus sabar.” ujar Cecillia dalam sesi wawancara
Meski begitu, Thrilogic tidak bergeser sedikit pun dari prinsipnya: tidak ada bahan kimia yang masuk ke dalam proses.
Keputusan ini sejalan dengan temuan Journal of Natural Fibers (2021) yang menyebutkan bahwa pewarna alami memiliki jejak karbon 70–90% lebih rendah dibanding pewarna sintetis industri yang menjadi salah satu penyebab utama pencemaran air di negara berkembang. Sementara itu, United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat bahwa 20% pencemaran air global berasal dari limbah pewarna tekstil.
Temuan tersebut menunjukkan mengapa pendekatan Thrilogic penting.
Motif Eco Print yang Tidak Pasaran

Foto: Dok Pribadi/Natera
Tidak ada dua kain Thrilogic yang identik. Motif eco print tergantung banyak hal: cuaca, tingkat kesegaran daun, kelembapan, hingga cara daun menempel pada serat kain.
“Kain ini kayak cerita dari hari itu. Daunnya mengalami apa, cuacanya bagaimana, semuanya terekam.” ujar Cecilia
Bagi konsumen Gen Z, hal-hal seperti ini memiliki nilai emosional. Mereka tidak hanya membeli kain mereka membeli cerita, konteks alam, dan pengalaman yang tidak mungkin digandakan oleh mesin. Dalam beberapa survei tren fashion, Gen Z cenderung memilih produk unik, handmade, dan berkelanjutan, jauh di atas preferensi generasi sebelumnya.
Menurut laporan Deloitte Global 2023 Gen Z & Millennial Survey, konsumen muda menuntut transparansi lingkungan dan menolak praktik greenwashing. Karakter Thrilogic cocok dengan pola nilai itu.
Dari Workshop hingga Kolaborasi Lokal
Ketika Thrilogic mulai dikenal, komunitas kreatif di Malang mulai melibatkan mereka dalam workshop dan pameran kecil. Sebagian coffee shop lokal bahkan menjadikan eco print Thrilogic sebagai bagian dari instalasi seni interior, seperti dicatat dalam field notes tim Natera.
Yang diburu bukan hanya produknya, tetapi knowledge sharing mengenai proses pewarnaan alami. Banyak anak muda ingin memahami cara kerja eco print yang intuitif, tidak tergesa-gesa, dan terasa seperti pengalaman meditasi visual.
Dari sinilah, Thrilogic menemukan peran baru: bukan hanya produsen, tetapi juga edukator kecil dalam gerakan fashion berkelanjutan.
Menghadapi Industri yang Jauh Lebih Besar
Di balik eco print yang lembut, ada isu yang lebih keras: limbah pewarna sintetis dari industri tekstil.
Laporan WALHI Jawa Barat menunjukkan banyak sungai di kawasan industri tekstil mengalami penurunan kualitas air akibat limbah pewarna.
Thrilogic tidak sedang menantang industri besar secara frontal. Mereka tahu skala mereka kecil. Namun seperti yang dikatakan pendirinya dalam wawancara “Produksi kami memang kecil. Tapi kalau tidak ada yang memulai, perubahan nggak akan terjadi.” ujar Cecilia
Lebih dari Sekadar Kain
Eco print Thrilogic adalah pengingat bahwa alam dapat memberi warna tanpa kita memaksanya. Bahwa kain bisa bercerita tanpa mesin. Bahwa fashion bisa berjalan lebih pelan tanpa kehilangan keindahan.
Thrills4Life memang memiliki lini lain seperti PlastikaArt, tetapi Thrilogic tetap menjadi sisi mereka yang paling dekat dengan alam, paling organik, dan paling menyentuh.
Di tengah dunia yang serba cepat, Thrilogic mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: Kalau daun saja bisa menciptakan keindahan, mengapa manusia harus selalu terburu-buru?