Langkah Retrorika Menuju Low Carbon Brand

Bu Ismi, pemilik Retrorika sedang menjelaskan konsep Low Carbon Brand
Foto: Dok pribadi/Natera

Kafe Retrorika mulai menghitung jejak karbon dari aktivitas dapur sebagai bagian dari inisiatif low carbon brand sejak 2024. Langkah ini dilakukan untuk menekan emisi karbon sektor UMKM sekaligus mengajak konsumen lebih sadar terhadap dampak lingkungan dari makanan yang mereka konsumsi.

Umumnya, kesadaran akan krisis iklim selama ini kerap dilekatkan pada industri besar seperti pabrik, pembangkit listrik, atau korporasi multinasional. Namun di Kota Batu, sebuah kafe dengan skala UMKM justru memilih mengambil peran yang jarang disentuh pelaku usaha sejenis. Retrorika memulai langkah yang tidak sederhana dengan menghitung jejak karbon dari setiap proses bisnisnya, termasuk dari makanan yang disajikan ke pelanggan.

Konsep low carbon brand menjadi landasan utama inisiatif tersebut. Secara sederhana, low carbon brand adalah pendekatan bisnis yang berupaya meminimalkan jejak karbon mulai dari bahan baku, proses produksi, distribusi, hingga limbah (sertakan sumber)  serta transparan terhadap emisi yang dihasilkan. Bagi Retrorika, gagasan ini berangkat dari kesadaran bahwa krisis iklim tidak bisa hanya dibebankan pada industri besar.

“Jejak karbon itu bukan hanya dari bensin atau listrik, tapi juga dari makanan,” ujar Ismi, pemilik Retrorika.

Dari sanalah diskusi internal bermula. Menu yang selama ini dianggap netral, ternyata menyimpan emisi karbon yang tidak sedikit, tergantung pada bahan, proses, dan sisa yang dihasilkan.

Langkah awal yang dilakukan Retrorika adalah membenahi pengelolaan limbah dapur. Sisa makanan manusia dipisahkan sejak awal untuk dialihkan ke peternakan melalui program Retro Farm. Sementara sampah daun, kulit buah, dan sisa bumbu dapur masuk ke dekomposer. Pemilahan ini bukan hanya soal kebersihan, tetapi menjadi bagian dari upaya mengurangi emisi dari limbah organik yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Uniknya, setiap malam, sampah organik akan dikumpulkan, ditimbang, dan dicatat. Kemudian paginya, sisa makanan langsung dikirim ke peternak mitra. Proses cepat ini membuat limbah tidak menumpuk, tidak berbau, sekaligus memiliki nilai guna sebagai pakan ternak. Praktik tersebut secara tidak langsung memangkas emisi metana yang biasanya muncul dari pembusukan sampah organik di TPA.

Namun, inisiatif low carbon Retrorika tidak berhenti pada pengelolaan sampah. Kafe ini tengah mengembangkan konsep carbon tagging, yaitu pelabelan jejak karbon pada menu makanan. Nantinya, setiap hidangan akan memiliki estimasi emisi karbon dalam satuan kilogram.

Dari data tersebut, pelanggan diberi pilihan yaitu menebus jejak karbon dari makanan yang mereka konsumsi atau tidak. Skemanya bersifat sukarela, mirip dengan kompensasi karbon pada tiket perjalanan. Dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk penanaman pohon melalui mitra komunitas lingkungan.

“Bukan kewajiban, tapi pilihan. Kami ingin konsumen sadar dulu bahwa makanan pun punya jejak karbon,” kata Ismi. Menurutnya, kesadaran itu penting agar pelanggan lebih bijak mulai dari memilih menu hingga menghabiskan makanan di piring mereka.

Namun, proses menuju low carbon brand ini diakui tidak mudah. Penghitungan jejak karbon membutuhkan data detail, mulai dari konsumsi listrik, bahan bakar, bahan makanan, hingga limbah plastik. Konsep green accounting yang masih jarang diterapkan di level UMKM membuat prosesnya terasa rumit dan memakan waktu.

Meski demikian, Retrorika memilih tetap berjalan. Dorongannya datang dari diskusi dengan aktivis lingkungan dan kesadaran akan peran UMKM dalam krisis iklim. Dilansir dari ekon.go.id Di Indonesia, UMKM menyumbang sekitar 60% persen penopang ekonomi nasional. Artinya, jejak karbon sektor ini tidak bisa diabaikan.

Bagi Retrorika, low carbon brand bukan sekadar strategi pemasaran hijau. Ini adalah proses belajar baik bagi pengelola, kru, maupun konsumen. Dampaknya mulai terasa ketika pelanggan menyadari bahwa pilihan makan mereka memiliki konsekuensi lingkungan.

“Kadang pelanggan jadi mikir, ‘oh ternyata ada jejak karbonnya ya’, lalu mereka menghabiskan makanannya,” ujar Ismi.

Kesadaran kecil seperti itu dinilai lebih penting daripada klaim besar.

Di tengah realita UMKM yang masih berjuang bertahan secara ekonomi, langkah Retrorika mungkin terasa idealis. Namun justru dari skala kecil inilah perubahan bisa dimulai. Dengan menghitung, mengurangi, dan mengkomunikasikan jejak karbonnya, Retrorika menunjukkan bahwa transisi menuju bisnis rendah karbon bukan hal yang mustahil bahkan untuk sebuah kafe sederhana.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.