
Foto: Dok Pribadi/Natera
Malang Raya – Di sebuah rumah sederhana di tepi jalan Kota Malang, satu liter minyak jelantah disimpan rapi dalam botol bekas. Nilainya hanya Rp5.000 namun untuk mengambilnya, Hari Supriyatno harus mengendarai motor puluhan kilometer, menghabiskan bensin yang harganya justru lebih mahal dari jelantah itu sendiri. Meski begitu, ia tetap datang.
Hari adalah pendiri PALIM (Pahlawan Limbah Minyak Jelantah), sebuah inisiatif pengumpulan minyak jelantah yang telah berjalan hampir tujuh tahun. Berawal dari kondisi menganggur, tanpa modal dan tanpa pengalaman, Hari memilih jalan yang unik, yakni menjemput limbah dari rumah ke rumah tanpa batas minimal dan tanpa ongkos jemput.
“Kalau ada satu liter pun, tetap saya ambil,” ujar Hari.
Ia sadar betul bahwa secara hitung-hitungan ekonomi, keputusan itu sering kali merugikan. Bensin bisa habis Rp10.000, sementara jelantah yang diambil hanya bernilai separuhnya. Namun baginya, kerugian itu bukan alasan untuk berhenti.
Di lapangan, Hari melihat persoalan jelantah bukan sekadar urusan jual-beli, tetapi soal kebiasaan dan kesadaran lingkungan. Banyak rumah tangga yang masih membuang minyak bekas ke saluran air atau mencampurnya dengan sampah. Sebagian lainnya menggunakan ulang jelantah berkali-kali tanpa memahami dampak kesehatannya.
“Awalnya orang bilang, ‘Pak, cuma satu liter.’ Saya jawab, nggak apa-apa. Yang penting dikumpulkan,” kata Hari.
Keputusan untuk tetap datang, meski harus keluar kota dan tanpa membebankan ongkos kirim ke pelanggan, menjadi strategi sunyi PALIM. Hari menyebutnya sebagai proses membangun kepercayaan. Ia tak ingin masyarakat merasa terbebani atau enggan berpartisipasi hanya karena biaya tambahan.
Strategi ini kerap membuatnya harus memutar otak. Saat mengambil satu liter di daerah Batu, misalnya, Hari tidak langsung pulang. Ia menyusun rute, mencari calon pelanggan lain di sekitar lokasi agar perjalanan tetap efisien. Dari satu titik kecil itu, jaringan PALIM perlahan tumbuh.
“Anggap saja konsumen itu seperti mesin ATM. Awalnya satu liter, lama-lama bisa lima liter, bahkan lebih,” ujarnya.
Hari menyadari bahwa banyak pengepul lain menerapkan batas minimal pengambilan atau ongkos jemput. Secara bisnis, langkah itu masuk akal. Namun PALIM memilih jalan berbeda. Bagi Hari, jelantah bukan hanya komoditas, melainkan pintu masuk untuk edukasi lingkungan.
Hingga kini, PALIM mengumpulkan minyak jelantah dari rumah tangga, warung, kafe, bank sampah, hingga hotel. Jelantah tersebut kemudian disalurkan sebagai bahan baku biodiesel melalui pabrik mitra. Prosesnya panjang, ketat, dan tak selalu terlihat hasilnya secara langsung oleh masyarakat.
Namun Hari percaya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Mengambil satu liter jelantah hari ini, bisa berarti mencegah pencemaran air dan tanah di kemudian hari.
“Kalau semua orang nunggu untung dulu, siapa yang mau mulai?” ucapnya.
Di tengah harga BBM yang terus naik dan realitas lapangan yang melelahkan, komitmen Hari sering kali diuji. Ia masih turun sendiri ke lapangan, menyetir, mengangkat jerigen, sekaligus mengedukasi warga. Meski demikian, ia tak menyesali pilihannya.
Baginya, bensin yang lebih mahal dari jelantah adalah harga yang harus dibayar untuk membangun kesadaran. Sebab di balik satu liter minyak bekas, ada potensi perubahan perilaku dan itu nilainya jauh lebih besar dari sekadar angka rupiah.