
Foto: Dok Pribadi/Natera
KOTA BATU – Di balik aktivitas dapur Cafe Retrorika, Kota Batu, sisa makanan tidak langsung berakhir di tempat sampah, melainkan dipilah dan diolah menjadi kompos menggunakan cairan EM4 dan eco enzyme oleh tim internal kafe sebagai upaya menekan residu dan mengurangi ketergantungan pada TPA. Praktik ini dijalankan langsung oleh dekomposer Retrorika, Refandy Burnes, dan menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah berbasis sumber yang telah diterapkan sejak kafe berdiri.
Setiap hari, limbah organik dari dapur Retrorika dikumpulkan terlebih dahulu sebelum masuk ke proses pengolahan.
“Yang paling banyak itu sisa makanan dapur, karena setiap hari selalu ada sisa dari proses masak,” ujar Refandy Burnes saat ditemui tim Natera
Dipilah Sejak Dapur
Berdasarkan catatan lapangan tim Natera, sampah dapur Retrorika telah dipilah sejak awal menjadi tiga kelompok yaitu organik, anorganik, dan residu. Untuk sampah organik, pemilahannya masih dibagi dua. Sisa makanan tertentu dialihkan sebagai pakan ternak melalui program Retro Farm, sementara dedaunan dan sisa organik lain masuk ke jalur kompos
Menurut Refan, pemilahan sejak sumber menjadi kunci agar proses pengomposan berjalan optimal.
“Kalau sudah tercampur, itu yang bikin susah diolah. Makanya dari dapur sudah dipisah,” Ujar Refan.
Pemisahan ini juga membantu menekan volume residu yang benar-benar tidak bisa diolah, yang jumlahnya relatif kecil.
EM4 untuk Mempercepat Pembusukan Kompos

Foto: Dok Pribadi/Natera
Limbah organik yang masuk jalur kompos tidak langsung difermentasi. Tahap awalnya adalah penggilingan, yang dilakukan menyesuaikan jumlah limbah yang terkumpul.
“Tidak setiap hari digiling, nunggu penuh dulu. Biasanya dilakukan pagi sebelum siang,” jelas Refan.
Penggilingan ini bertujuan memperkecil ukuran bahan agar proses pembusukan berjalan lebih cepat dan merata.
Setelah digiling, limbah tersebut disemprot cairan EM4. Menurut Refan, cairan ini berfungsi membantu mempercepat proses pembusukan.
“Pakai EM4 supaya prosesnya lebih cepat. Tanpa EM4 bisa, tapi lama,” ujarnya.
Takaran yang digunakan pun sederhana, sekitar satu tutup EM4 untuk satu liter larutan semprot, lalu disemprotkan merata ke seluruh tumpukan limbah.
Proses fermentasi dilakukan secara tertutup dan tidak memerlukan pengadukan rutin.
“Tidak perlu sering diaduk, karena fokusnya fermentasi,” kata Refan.
Cara ini dipilih untuk menjaga proses tetap stabil, sekaligus meminimalkan bau dan gangguan serangga di area kafe.
Eco-Enzyme sebagai Pendamping

Foto: Dok Pribadi/Natera
Selain EM4, Retrorika juga memanfaatkan eco enzyme sebagai cairan pendamping. Hal ini disampaikan langsung oleh pemilik Cafe Retrorika, Ismi Wahid.
“Kami memang pakainya EM4, tapi kadang-kadang juga pakai air leri atau eco enzyme. Itu untuk pemakaian sendiri, tidak dikomersialkan,” ujar Ismi
Eco enzyme di Retrorika tidak hanya digunakan dalam proses pengomposan, tetapi juga untuk kebutuhan domestik lain. Ismi mengaku memanfaatkan eco enzyme sebagai bilasan akhir saat mencuci pakaian.
“Baunya nggak nempel. Yang penting sisa deterjennya hilang,” katanya.
Menurut Ismi, pemanfaatan eco enzyme ini lebih pada upaya mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis dalam aktivitas sehari-hari.
Kemudian eco enzyme dipilih karena relatif mudah dibuat, meski membutuhkan waktu fermentasi hingga tiga bulan. Salah satunya retrorika pernah membuat eco enzyme dari daun jeruk.
“Resepnya banyak di internet, gampang, tapi memang harus sabar,” ujarnya.
Kompos untuk Kebutuhan Internal
Hasil kompos dari dapur Retrorika tidak dijual. Seluruhnya digunakan untuk kebutuhan internal, terutama untuk menyuburkan tanaman di area kafe dan unit usaha tanaman hias mereka, Retro Plant.
“Komposnya dipakai sendiri, untuk tanaman Retrorika,” kata Refan
Sementara itu, sampah anorganik yang tidak bisa diolah di internal langsung disetorkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu. Residu yang tersisa jumlahnya relatif kecil, sekitar 15 persen dari total sampah harian kafe, sebagaimana dicatat dalam field notes tim Natera
Mengurangi Beban TPA
Ismi menyebut, praktik pengelolaan sampah internal ini juga berkaitan dengan kondisi pengelolaan sampah di Kota Batu. Saat ini, pengolahan sampah organik skala besar dilakukan di TPA Tlekung, Kecamatan Junrejo, yang dikelola DLH Kota Batu dan telah dilengkapi instalasi pengomposan. Informasi resmi mengenai TPA Tlekung dapat diakses melalui laman DLH Kota Batu
“Di Batu itu masyarakat sudah dihimbau untuk pilah sampah, terutama organik dan anorganik. Jadi yang organik bisa diolah,” ujar Ismi
Praktik Kecil yang Konsisten
Sejak berdiri pada 2018, Retrorika membawa konsep green entrepreneur dan konsisten menerapkan prinsip 5R refuse, reduce, reuse, recycle, dan repair. Berbagai barang bekas dimodifikasi menjadi elemen interior kafe, sementara sampah dapur diupayakan kembali ke tanah dalam bentuk kompos.
Data KLHK menunjukkan bahwa sampah organik masih mendominasi timbulan sampah nasional, dengan kontribusi besar berasal dari aktivitas rumah tangga dan usaha kuliner.
Namun bagi Retrorika, data tersebut bukan sekadar angka.
“Mindset kami adalah penggunaan barang secara bijak. Sampah itu bukan akhir, tapi bagian dari siklus,” kata Ismi.
Di tengah krisis sampah perkotaan, praktik yang dilakukan Cafe Retrorika menunjukkan bahwa pengelolaan sampah organik bisa dimulai dari dapur pelan, konsisten, dan berbasis kesadaran. Dari sisa makanan, lahir kompos dari dapur, kembali ke tanah.