
Foto : Dokumentasi Pribadi
Di tengah krisis sampah dan konsumsi berlebih, peran anak muda semakin sering muncul sebagai kunci perubahan.
Dalam webinar “Youth Powered Circular Future: Implementasi Ekonomi Sirkular Indonesia Berbasis Strategi Global”, GreenSkill ID mengundang Jessica Laihad, CEO dan Co-Founder Triftin, bersama Dimas Dwi Pangestu, pendiri Trash Ranger ID, untuk membahas peran anak muda dalam ekonomi sirkular.
Mengawali sesi pertama, Jessica Laihad mengajak anak muda Indonesia mengambil peran aktif dalam ekonomi sirkular. Menurutnya, kekuatan perubahan berada di tangan generasi muda.
Ekonomi Sirkular di Tangan Anak Muda
Di titik ini, peran generasi muda menjadi krusial. Mereka membentuk selera pasar dan arah konsumsi. Jessica menyoroti fakta demografi yang tak terbantahkan. Di mana Gen Z dan milenial menguasai 53% populasi Indonesia.
“20 tahun ke depan yang punya buying power ya those two generations,” tegasnya. Artinya, pilihan konsumsi dan suara mereka akan menentukan arah pasar.
70-80% pengguna media sosial juga dari dua generasi ini. Kekuatan digital ini, lanjutnya, harus dimanfaatkan. Media sosial bisa mempercepat penyebaran nilai baru. Konsumsi sadar dapat tumbuh dari konten dan komunitas.
“Kita harus mendorong circular economy, karena kita tahu apa yang relatable,” tegasnya. Anak muda didorong memulai dari hal sederhana seperti membuat konten.
Ia meyakini kepekaan dan kreativitas anak muda menjadi kunci menghadirkan solusi yang bermakna.
Daur Ulang Bukan Solusi Utama
Jessica melihat pola yang sama di berbagai negara. Dunia masih berjalan dengan sistem produksi yang boros sumber daya. Dari semua barang yang terjual, hanya sekitar 10 persen berasal dari material yang dapat terdaur ulang.
“Recycling shouldn’t be the number one solution, Kita harus sebisa mungkin circulate dulu sebelum ke recycling.” Ia menekankan ekonomi sirkular tidak berhenti pada daur ulang.
Indonesia juga menghadapi tantangan sistemik dalam pengelolaan limbah. Sampah basah dan kering masih sering bercampur dalam satu wadah. Kondisi ini membuat proses daur ulang menjadi lebih rumit dan membutuhkan biaya lebih besar.
Desain Produk dan Regulasi Global
Oleh karena itu, solusi berkelanjutan harus dimulai dari hulu. Jessica menekankan pentingnya sustainable product design. Produk harus dirancang agar mudah dipakai ulang, diperbaiki, atau didaur ulang.
“Produk dirancang untuk bisa di pakai ulang, untuk di recycle atau untuk di upcycle,” tegasnya.
Ia mengambil contoh dari negara maju. Di Denmark, perusahaan diwajibkan memotong emisi gas rumah kaca 70% pada 2030. Sementara Jerman menargetkan recycling rate hingga 90%. Regulasi ketat ini memaksa bisnis berinovasi sejak tahap desain.
Jessica juga mengapresiasi inisiatif bisnis global. Brand seperti Patagonia menggunakan minimal 70% material daur ulang. Mereka juga memiliki program take back untuk produk bekas pelanggan. Bahkan Meta berinvestasi pada energi terbarukan untuk pusat data mereka.
Ekonomi Sirkular sebagai Arah Baru
“Ekonomi sirkular membuka lapangan kerja baru. Our GDP and PDB itu bisa increase estimated by 2-3% dengan implementasi circular economy,” paparnya.
Ia meyakini sektor seperti pengelolaan limbah, logistik, dan ekonomi kreatif akan tumbuh pesat. Namun Indonesia juga menghadapi tantangan nyata. Krisis iklim dapat mengancam ketahanan pangan dan mata pencaharian.
Di sinilah peran anak muda menjadi penentu. Dengan bergabung dalam komunitas seperti Trash Ranger, mereka dapat saling menguatkan.
“Kita kalau udah di komunitas tersebut pasti jadi saling semangatin,” tambah Jessica tentang pentingnya kolaborasi.
Menurut Jessica anak muda juga perlu mengasah green skills yang semakin dibutuhkan. Keahlian ini akan menjadi investasi berharga di masa depan. Setiap keputusan membeli, menjual, dan berkarya anak muda sedang merajut masa depan Indonesia yang lebih sirkular dan berkelanjutan.