
Foto Dok: Pribadi/Natera
Di sebuah sudut Desa Klanting, Kabupaten Lumajang, deretan kolam ikan tampak tenang di bawah terik matahari siang. Airnya tidak selalu jernih sedikit keruh dengan warna kecokelatan tetapi justru di situlah cerita tentang pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan dimulai.
Di tempat ini, Galang mengelola 21 kolam ikan yang berisi lele dan nila. Bagi sebagian orang, budidaya ikan mungkin terlihat sederhana: memberi pakan, menunggu ikan tumbuh, lalu panen. Namun di balik aktivitas itu, ada persoalan yang sering luput dari perhatian limbah air kolam.
Limbah utama dari kolam budidaya sebenarnya bukan bahan kimia berbahaya, melainkan sesuatu yang sangat alami: feses ikan. Meski terdengar sepele, jika dibiarkan mengalir langsung ke lingkungan, limbah ini bisa memicu bau tak sedap, menurunkan kualitas air, bahkan mencemari sungai.
Galang menyadari risiko itu sejak awal.
“Dalam budidaya perikanan, limbah yang dihasilkan biasanya berupa feses ikan,” ujar Galang saat ditemui di area kolamnya.
Alih-alih membuang air kolam langsung ke saluran umum atau sungai, ia memilih sistem pengelolaan yang lebih bertahap. Air dari kolam budidaya dialirkan terlebih dahulu ke sebuah kolam penampungan atau tandon.
Di sinilah proses “menenangkan” air terjadi.
Kolam Tandon, Tempat Limbah Menjadi Lebih Aman
Setiap kolam di area budidaya terhubung melalui saluran air yang dilengkapi bak kontrol. Sistem ini berfungsi mengatur aliran air limbah sebelum akhirnya masuk ke kolam tandon.
“Pengaliran limbah menggunakan bak kontrol, lalu dialirkan ke kolam tandon,” jelas Galang.
Kolam tandon berperan sebagai tempat penetralan air yang telah bercampur dengan sisa pakan dan feses ikan. Di dalam kolam ini, proses alami terjadi: partikel limbah mengendap, sementara sebagian bahan organik dimakan oleh ikan yang hidup di kolam tersebut.
Dengan cara ini, air yang sebelumnya penuh limbah perlahan menjadi lebih stabil sebelum akhirnya dialirkan kembali atau dibuang.
Bagi Galang, sistem ini bukan sekadar soal teknis budidaya, tetapi juga soal hubungan dengan lingkungan sekitar.
“Tujuannya untuk mengurangi polusi udara dan pencemaran air,” ujar Galang.
Artinya, kualitas air yang keluar dari kolam budidaya bisa berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Budidaya Ikan Tanpa Jadi Masalah Lingkungan

Foto Dok: Pribadi/Natera
Di banyak tempat, limbah kolam ikan sering menjadi sumber konflik kecil di lingkungan desa. Bau menyengat dari kolam atau air yang keruh mengalir ke sungai kerap memicu keluhan warga.
Galang ingin menghindari situasi itu.
“Manfaatnya yang pertama polusi udara bisa diperkecil,” ujarnya. “Yang kedua saya tidak menjadi omongan tetangga karena polusi tersebut.”
Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi menggambarkan realitas penting, pengelolaan limbah bukan hanya soal lingkungan, melainkan juga soal hubungan sosial.
Budidaya ikan yang tidak dikelola dengan baik bisa mengganggu kenyamanan warga sekitar. Sebaliknya, pengelolaan yang lebih ramah lingkungan membuat usaha tetap berjalan tanpa memicu konflik.
Potensi yang Masih Bisa Dikembangkan
Menariknya, air limbah dari kolam sebenarnya masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali. Kandungan nutrisi dari sisa pakan dan kotoran ikan dapat menjadi sumber makanan bagi organisme lain atau bahkan dimanfaatkan untuk budidaya berikutnya.
Galang mengakui potensi itu masih belum dimaksimalkan di tempatnya.
“Air dari kolam pertama sebenarnya masih bisa dimanfaatkan untuk kolam berikutnya,” ujarnya. “Tapi untuk saat ini masih belum dimanfaatkan dengan baik.”
Di masa depan, sistem ini bisa dikembangkan lebih jauh misalnya dengan metode filtrasi tambahan, pengendapan, atau bahkan penggunaan tanaman air yang mampu menyerap nutrisi berlebih.
Namun bagi Galang, langkah kecil yang ia lakukan sekarang sudah menjadi awal penting.
Dari Kolam Desa untuk Kesadaran Lingkungan
Di era ketika isu lingkungan sering dibicarakan di media sosial dan kampanye digital, praktik sederhana seperti yang dilakukan Galang menunjukkan bahwa perubahan juga bisa dimulai dari tingkat lokal.
Tanpa teknologi mahal atau instalasi rumit, sistem kolam tandon dan bak kontrol sudah mampu mengurangi dampak limbah budidaya ikan.
Cerita dari Desa Klanting ini memperlihatkan bahwa pengelolaan limbah bukan hanya urusan perusahaan besar atau proyek pemerintah. Petani ikan di desa pun bisa menjadi bagian dari solusi.
Bagi generasi muda yang semakin peduli pada isu lingkungan, praktik seperti ini menjadi pengingat bahwa keberlanjutan sering kali lahir dari keputusan-keputusan kecil sehari-hari.
Di kolam-kolam ikan Lumajang itu, air mungkin terlihat keruh. Namun di baliknya, ada upaya menjaga agar limbah tidak sekadar dibuang melainkan dikelola, dipahami, dan sebisa mungkin dimanfaatkan kembali.