
Deretan busana berbalut kain batik ecoprint diperagakan oleh Putra Putri Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (PAPIKA UMM) dalam sebuah fashion show runway di kawasan Kayutangan, Kota Malang. Di tengah keramaian ruang publik, aksi ini menjadi cara mereka menyuarakan pesan sederhana bahwa fashion bisa tetap modis sekaligus ramah terhadap lingkungan.
Industri fashion sendiri terus bergerak mengikuti perubahan zaman. Kini, fashion tidak lagi sekadar soal gaya atau tren semata. Di balik pilihan pakaian yang dikenakan, terdapat nilai, kesadaran, hingga tanggung jawab terhadap lingkungan. Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan tren sustainable fashion, sebuah gerakan yang mendorong praktik fesyen yang lebih ramah lingkungan.
Ini bedanya batik ecoprint dengan batik lain
Salah satu bentuk nyata dari tren ini hadir melalui batik ecoprint. Berbeda dengan teknik pewarnaan kain pada umumnya, batik ecoprint memanfaatkan bahan-bahan alami seperti daun, bunga, buah, dan berbagai jenis tumbuhan sebagai sumber warna sekaligus motif. Pigmen alami yang terdapat pada bahan organik tersebut menghasilkan pola unik pada kain, menciptakan motif yang tidak hanya indah tetapi juga lebih ramah bagi lingkungan.
Menariknya, batik ecoprint kini tidak lagi identik dengan kesan tradisional. Para perajin mulai mengembangkan desain dan motif yang lebih modern agar tetap selaras dengan perkembangan tren fashion. Adaptasi ini menjadi strategi penting untuk menjangkau generasi muda sekaligus menjaga keberlanjutan batik ecoprint sebagai bagian dari fashion masa kini.

Semangat tersebut juga diwujudkan oleh Putra Putri Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui aksi kampanye ini, mereka memperagakan busana dengan balutan kain batik ecoprint di tengah masyarakat melalui konsep Fashion Show Runaway di kawasan Kayutangan, Kota Malang. Bagi mereka, langkah ini bukan sekadar memperlihatkan estetika busana, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa fashion dapat menjadi media untuk menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan.
“Aksi ini kami lakukan sebagai bukti kepada masyarakat bahwa memadupadankan batik ecoprint di era saat ini masih sangat relevan dan modis. Selain itu, melalui campaign ini kami berharap masyarakat semakin aware terhadap pentingnya menjaga lingkungan,” ujar Yongki, Runner Up 1 Putra Putri Kampus UMM 2025.
Melalui kampanye ini, batik ecoprint tidak hanya dipromosikan sebagai produk fashion, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan menuju industri yang lebih berkelanjutan. Dengan semakin banyaknya anak muda yang terlibat, harapannya kesadaran terhadap fesyen ramah lingkungan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat.