
Foto : DK Wardhani
Pagi di rumah DK Wardhani sering mulai dengan segelas air minum. Bagi banyak keluarga, air hanya kebutuhan sehari-hari. Namun bagi DK, air justru membuka banyak pertanyaan tentang kebiasaan yang selama ini dianggap wajar.
Ia tumbuh di masa ketika air minum tidak selalu datang dari botol atau galon. Orang tua mereka dulu merebus air lalu menyajikannya di teko atau kendi.
“Dulu enggak ada air mineral kemasan. Pasti sirup, gelas, semua keluar,” kenangnya saat wawancara bersama Tim Natera tentang masa kecilnya.
Namun keadaan berubah cepat. Air mineral kemasan kini hadir di hampir setiap ruang. Tamu datang, acara keluarga berlangsung, hingga perjalanan jauh, air botolan menjadi pilihan paling mudah.
DK melihat melihat perubahan cara pandang masyarakat. Plastik kemasan yang dulu dianggap tidak pantas kini justru dianggap praktis. Padahal, beberapa puluh tahun lalu hal itu hampir tidak ada.
“Plastik kalau kata mbah-mbah dulu kan enggak sopan. Tamu itu kayak ada gelas, kayak ada plastik, gitu,” ujarnya.
Bagi DK, perubahan kecil itu menyimpan cerita yang lebih besar. Ia mulai merenung tentang sumber air itu sendiri. Air yang sebenarnya berasal dari bumi yang sama.
“Ini nggak masuk akal. Air di our backyard, terus dia ngambil, dijual ke kita, kita beli lagi,” katanya.
Pertanyaan itu akhirnya mengubah kebiasaan keluarganya. DK mulai mencari cara agar rumahnya tidak lagi bergantung pada galon air minum.
Ketika Galon dan Plastik Jadi Pertanyaan Baru

Foto : Dok Pribadi/Natera
Ia mulai melihat tren air kemasan yang semakin masif. Hampir setiap rumah kini menyimpan galon plastik di sudut dapur.
Tren itu membuatnya bertanya tentang siapa sebenarnya yang diuntungkan dari sistem tersebut. Air, yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar manusia, justru berubah menjadi komoditas.
“Yang diuntungkan dari produksi ini itu siapa? Siapa yang dikasih kewenangan untuk ngambil air, jual air bayangin,” katanya.
Pertanyaan itu terus muncul setiap kali ia melihat air kemasan. Ia merasa ada sesuatu yang terasa janggal. Bagi DK, air seharusnya menjadi sesuatu yang mudah diakses semua orang. Bukan barang yang harus dibeli terus-menerus.
“Air itu supposed to be free for everybody,” katanya.
Selain persoalan akses, ia juga memikirkan dampak lingkungan. Setiap galon atau botol plastik meninggalkan jejak sampah.
Produksi air kemasan juga memerlukan wadah plastik, transportasi, hingga energi distribusi. Semua itu menambah beban lingkungan.
DK lalu memutuskan satu langkah sederhana di rumahnya. Ia berhenti membeli galon air minum.
“Makanya saya sekarang nggak pake galon udah,” ujarnya.
Keputusan itu tidak berarti masalah langsung selesai. Ia tetap membutuhkan sumber air minum yang aman untuk keluarganya. Dari situlah pencarian baru dimulai.
Terra Water dan Cara Baru Menghadirkan Air
DK mulai mencoba berbagai sistem penyaring air rumah tangga. Ia ingin menemukan cara yang lebih mandiri untuk memenuhi kebutuhan air minum keluarga.
Beberapa filter air sempat ia coba. Namun tidak semuanya cocok dengan kebutuhan rumah tangganya.
“Ada filter yang memerlukan perawatan rumit. Ada juga yang menimbulkan masalah baru pada pengelolaan limbah filter.” jelasnya
Pencarian itu akhirnya membawanya pada Terra Water. Sistem penyaring air berbasis terracotta ini menggunakan material tanah liat sebagai media filtrasi. Perangkat ini bekerja secara sederhana.
Air mengalir perlahan melalui lapisan filter tanah liat sebelum masuk ke wadah penampung. Air yang digunakan juga tidak harus berasal dari satu sumber tertentu, tapi cukup memanfaatkan air rumah tangga seperti air sumur atau keran.
DK mencoba sistem itu di rumahnya. Awalnya ia merasa ragu karena harga awal perangkat cukup tinggi. Namun kini keluarganya tidak lagi membeli galon. Air minum hadir dari penyaringan yang ia kelola sendiri di rumah.
Bagi DK, pilihan kecil seperti ini bisa membantu keluarga lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasar. Ia juga percaya perubahan rumah tangga dapat memicu kesadaran yang lebih luas.
“Rumah, merupakan titik awal banyak keputusan lingkungan. Dari dapur rumah, pilihan konsumsi dapat berubah.” Jelasnya.
Dan dari satu gelas air minum, percakapan tentang lingkungan bisa dimulai.