
Foto : Dokumentasi Zona Bening
Tahukah, Naters? Satu potong pakaian yang kamu kenakan ternyata bisa menghabiskan sekitar 2.700 liter air dalam proses produksinya. Jumlah ini setara dengan kebutuhan minum seseorang selama tiga tahun.
Sayangnya, angka sebesar itu jarang terlintas di pikiran saat kita asyik scroll e-commerce atau berburu outfit Lebaran. Yang lebih sering menarik perhatian justru diskon, tren terbaru, dan keinginan untuk tampil berbeda.
Padahal, di balik satu outfit, ada jejak lingkungan yang panjang dan sering terabaikan. Dari sinilah, kebiasaan kecil perlahan bisa berkembang jadi persoalan yang lebih besar.
Zona Bening melihat pola ini sejak awal. Mereka membangun ruang belajar untuk anak muda agar lebih sadar terhadap lingkungan dan gaya hidupnya.
Program ini tidak langsung mendorong aksi. Mereka memulai dari edukasi melalui pembekalan yang mereka sebut sebagai Unit 9.

Foto : Dok Pribadi/Natera
“Jadi kalau ngomongin gimana sih proses perekrutannya itu, yang baru kita ada pembekalan sendiri, namanya unit 9″ Jelas Rere selaku Team Leader Zona Bening saat wawancara bersama Tim Natera
Unit ini menjadi ruang untuk belajar, berdiskusi, sekaligus membentuk cara berpikir kritis, didampingi mentor yang aktif di isu lingkungan dan zero waste.
Dari proses itu, mereka sadar bahwa isu lingkungan memang besar, tapi bisa dimulai dari langkah kecil. Karena itu, mereka membuat campaign yang dekat dengan anak muda, dengan fashion sebagai pintu masuknya.
Thrift & Thrive oleh Unit 9 cycle Zona Bening
Pada 16 hingga 17 Maret 2026 lalu, Unit 9 menggelar campaign bertajuk Thrift & Thrive di parkiran Retrorika, Kota Batu. Mereka memilih momen menjelang Lebaran, saat konsumsi pakaian meningkat.
“Kenapa kok thrift, karena dekat dengan kalian juga, fashion. Masalahnya adalah Setiap lebaran Kalian masih suka beli baju sendiri lagi gak?” Ujar Rere mengajak refleksi.
Alih-alih membeli baru, mereka mengajak orang untuk melihat kembali apa yang sudah dimiliki. Mereka menghadirkan aktivitas thrifting sebagai bentuk perlawanan terhadap fast fashion.
Thrifting bukan hanya soal hemat. Ini tentang memperpanjang usia pakaian dan mengurangi jejak air yang terbuang sia-sia.
Campaign ini juga bertepatan dengan Hari Air Sedunia pada 22 Maret. Mereka mengingatkan bahwa setiap pakaian menyimpan jejak air yang besar.

Foto : Dokumentasi Zona Bening
Selain thrifting, mereka juga menghadirkan refill station dari Zycel Reuse & Refill. Pengunjung bisa mengisi ulang sabun, deterjen, dan sampo dengan wadah sendiri.
Langkah ini membantu mengurangi sampah sekali pakai sekaligus menghemat pengeluaran. Konsepnya sederhana, tapi dampaknya nyata.
Melalui Thrift & Thrive, Unit 9 tidak hanya menyuarakan isu fast fashion. Mereka menciptakan pengalaman langsung bagi pengunjung yang membuat isu lingkungan terasa lebih dekat dan relevan dengan pilihan sehari-hari.
Zona Bening juga menegaskan satu hal penting. “Tren yang otentik tidak harus mengotori air dan tanah.”
Isu lingkungan memang tidak bisa diselesaikan sendirian. Namun, perubahan tidak selalu datang dari langkah besar. Perubahan sering lahir dari keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Memilih memakai baju lama, membeli lebih bijak, atau mengisi ulang produk harian. Semua itu terlihat sederhana, tapi punya dampak panjang.
“Yang paling keren Baju yang paling keren Baju yang saat ini ada” Jelasnya
Karena pada akhirnya, gaya hidup ramah lingkungan bukan soal tren. Ini tentang kesadaran yang kita pilih untuk hidupkan setiap hari.