Murah, Praktis, Tapi Mengancam: Menelusuri Asal Usul Plastik dan Dampak bagi Lingkungan

Koordinator Zona Bening sedang diwawancarai oleh tim liputan di area  cafe terbuka yang dipenuhi tanaman hijau di Kota Batu.
Koordinator Zona Bening saat diwawancarai terkait upaya komunitas dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan di Kota Batu. 
Dokumentasi: Tim Natera.

Kota Batu – Plastik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dari kemasan makanan hingga kebutuhan rumah tangga, material ini hadir karena sifatnya yang praktis dan murah. Namun di balik kemudahan tersebut, plastik menyimpan persoalan lingkungan yang terus membesar.

Fenomena ini juga menjadi perhatian komunitas lingkungan seperti Zona Bening, yang melihat bagaimana penggunaan plastik sekali pakai masih menjadi kebiasaan masyarakat.

Mengapa Plastik Bisa Sangat Murah?

Harga plastik yang terjangkau tidak lepas dari bahan bakunya. Plastik umumnya diproduksi dari turunan minyak bumi dan gas alam, yang dalam skala industri dapat diproses secara massal dengan biaya relatif rendah. Produksi dalam jumlah besar inilah yang membuat plastik menjadi pilihan utama dalam berbagai sektor industri.

Berdasarkan laporan United Nations Environment Programme, produksi plastik global mencapai lebih dari 400 juta ton setiap tahun, dengan sebagian besar digunakan untuk kemasan sekali pakai. Efisiensi produksi ini membuat plastik sulit tergantikan, meskipun dampaknya terhadap lingkungan sangat besar.

Selain itu, sistem ekonomi saat ini juga lebih menguntungkan produksi barang sekali pakai dibandingkan sistem daur ulang, sehingga plastik terus diproduksi dalam jumlah besar tanpa diimbangi pengelolaan limbah yang memadai. 

“Kadang kita merasa plastik itu paling mudah digunakan, padahal dampaknya ke lingkungan itu sangat panjang,” ujar salah satu perwakilan Zona Bening Rere dalam wawancara.

Dampak Lingkungan yang Terus Menguat

Di lapangan, penggunaan plastik sekali pakai menjadi salah satu penyumbang utama pencemaran lingkungan, terutama di kawasan perkotaan dan aliran sungai.

Zona Bening melihat persoalan ini secara langsung melalui aktivitas mereka. Plastik yang dibuang sembarangan seringkali berakhir di sungai, menyumbat aliran air, dan memperparah risiko banjir.

Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia menghasilkan sekitar 68 juta ton sampah per tahun, dengan sekitar 17 persen diantaranya merupakan sampah plastik. Sebagian besar sampah ini belum terkelola dengan baik dan berpotensi mencemari lingkungan.

Tidak hanya itu, plastik yang terurai dalam jangka waktu lama akan berubah menjadi mikroplastik yang dapat masuk ke rantai makanan. Studi dari World Health Organization bahkan menunjukkan bahwa mikroplastik telah ditemukan dalam air minum dan berpotensi berdampak pada kesehatan manusia.

Kesadaran yang Masih Perlu Dibangun

Meski dampaknya sudah banyak diketahui, penggunaan plastik sekali pakai masih sulit ditekan. Faktor kebiasaan, kemudahan, serta minimnya alternatif yang terjangkau menjadi tantangan utama.

Zona Bening menilai bahwa perubahan tidak hanya bergantung pada individu, tetapi juga pada sistem yang mendukung. Edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting agar kesadaran terhadap penggunaan plastik dapat meningkat.

“Kalau hanya mengandalkan satu pihak, itu sulit. Harus ada kerja sama antara masyarakat, komunitas, dan juga kebijakan dari pemerintah,” ungkap narasumber.

Mendorong Perubahan dari Hal Sederhana

Upaya mengurangi plastik sebenarnya dapat dimulai dari langkah kecil, seperti membawa tas belanja sendiri, menggunakan botol minum ulang, hingga mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai.

Gerakan komunitas seperti Zona Bening menjadi salah satu contoh bagaimana perubahan bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Melalui aksi dan edukasi, mereka mencoba membangun kesadaran bahwa persoalan plastik bukan hanya masalah sampah, tetapi juga masa depan lingkungan.

Di tengah meningkatnya produksi plastik global, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci untuk menekan dampak yang lebih besar. Tanpa itu, plastik yang hari ini dianggap praktis, justru akan menjadi beban lingkungan di masa mendatang.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.