
Foto: Dok. Pribadi/Natera.
Pagi itu, deretan botol plastik bekas tak lagi terlihat seperti sampah. Di tangan puluhan siswa berseragam, benda yang biasanya berakhir di tempat pembuangan justru berubah jadi bahan baku ide. Aula dipenuhi suara gunting, lem tembak, dan diskusi kecil seolah semua sepakat bahwa plastik tidak harus berakhir sia-sia.
Sebanyak 20 sekolah Adiwiyata di Malang Raya mengikuti pelatihan Upcycle Plastic Creation yang diinisiasi oleh Hotbottles Recycle Company bersama Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Bukan sekadar workshop, kegiatan ini jadi ruang belajar tentang cara baru memandang sampah.
Di tengah kegiatan, Taufiq Saguanto menegaskan bahwa upcycle bukan hal rumit.
“Kita sering diminta bikin kerajinan di sekolah, tapi masih pakai barang baru. Padahal bisa dari barang bekas, dan itu bisa bantu mengurangi sampah plastik,” jelasnya.
Pesan itu terasa dekat dengan realita sekolah. Banyak program lingkungan berjalan, tapi belum menyentuh kebiasaan sehari-hari. Pelatihan ini mencoba menjembatani dari teori ke praktik.

Foto: Dok. Pribadi/Natera.
Salah satu siswa OSIS dari SMA Negeri 8 Kota Malang melihatnya sebagai peluang.
“Saya berharap bisa belajar recycle yang bisa menghasilkan uang juga. Apalagi di OSIS kami lagi fokus ke sampah plastik,” ujarnya.
Di titik ini, upcycle bukan hanya soal peduli lingkungan. Tapi juga soal kreativitas dan potensi ekonomi.
Belajar Bicara, Belajar Menggerakkan
Menariknya, pelatihan ini tidak berhenti di prakarya. Peserta juga diajak memahami bagaimana menyampaikan ide.
Materi public speaking oleh Okta membuka ruang bagi siswa untuk berani bicara. Sementara Aditya lewat sesi desain visual mengajarkan bahwa pesan lingkungan perlu dikemas menarik agar lebih luas diterima.

Foto: Tim HotBottles.
Pendekatan ini terasa relevan karena hari ini, perubahan sering dimulai dari konten.
Kolaborasi dengan kampus juga jadi bagian penting. Novin Farid Setyo Wibowo menilai kegiatan ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga komunikasi.
“Mahasiswa dan siswa perlu belajar bahwa isu lingkungan harus dikomunikasikan dengan cara yang tepat. Kalau pesannya sampai, dampaknya bisa jauh lebih besar,” ujarnya singkat.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang dan H. Asmualik Anggota DPRD Komisi D, menandakan bahwa isu ini mendapat perhatian lintas sektor.
Langkah Kecil, Dampak yang Menyebar
Di akhir sesi, meja-meja dipenuhi karya. Tidak semuanya sempurna, tapi semuanya punya cerita.
Dari botol bekas yang sering diabaikan, lahir ide-ide baru yang lebih bermakna. Bagi 20 sekolah Adiwiyata ini, pelatihan bukan sekadar kegiatan seremonial melainkan titik awal.

Foto: Tim HotBottles.
Di tengah krisis plastik yang terus bertambah, langkah kecil seperti ini terasa penting. Karena perubahan besar sering dimulai dari hal sederhana: cara baru melihat sampah.