
Foto; Dokumentasi Lapor Pilah Sampah
Di sebuah siang yang hangat di Kota Batu, percakapan tentang sampah justru terasa ringan. Tidak kaku, tidak menggurui. Di antara tawa kecil dan cerita-cerita sederhana, ada satu benang merah yang terus diulang, perubahan itu tidak bisa sendirian.
Di sinilah Zona Bening berdiri bukan sekadar komunitas, tapi ruang belajar yang terus bergerak. Bagi mereka, lingkungan bukan hanya soal aksi bersih-bersih, tapi tentang membangun relasi dengan manusia, dengan alam, dan dengan berbagai pihak yang punya visi serupa.
Awal yang Tidak Sendiri
Cerita Zona Bening tidak lahir dari satu orang atau satu momen. Ia berakar dari gerakan lama sejak 2004, saat isu kebeningan sungai menjadi perhatian bersama. Seiring waktu, gerakan ini bertransformasi menjadi komunitas yang lebih terstruktur sejak 2011 tetap membawa semangat yang sama edukasi sebelum aksi.
Namun satu hal yang tidak berubah: mereka tidak pernah berjalan sendiri.
“Kalau ngomong lingkungan, itu urusan kolektif,” ujar salah satu penggerak komunitas dalam wawancara.
Kalimat itu bukan jargon. Ia hidup dalam cara mereka bekerja.
Kolaborasi sebagai Cara Bertahan
Di Kota Batu, upaya mengelola sampah bukan hanya urusan pemerintah. Zona Bening mengambil peran sebagai jembatan menghubungkan komunitas, warga, hingga instansi resmi.
Salah satu bentuk konkret kolaborasi itu hadir melalui keterlibatan anggota mereka dalam Tim Pendamping Pilah Sampah Kota Batu. Tim ini bermitra langsung dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, fokus pada pengurangan dan penanganan sampah dari sumbernya.
Meski tidak semua anggota komunitas terlibat secara formal, semangatnya tetap sama bergerak bersama, dengan peran masing-masing.
Kolaborasi ini tidak selalu berbentuk proyek besar. Justru seringkali hadir dalam bentuk yang lebih cair kampanye, edukasi, hingga kegiatan seperti clean up day atau diskusi lingkungan lintas komunitas.
Di sinilah kekuatannya fleksibel, tapi konsisten.
Dari Komunitas ke Komunitas
Zona Bening juga tidak berdiri di “ruang sendiri”. Mereka aktif berjejaring dengan berbagai komunitas lain mulai dari gerakan zero waste, komunitas edukasi anak, hingga inisiatif gaya hidup hijau.
Kolaborasi dengan komunitas seperti Omah Hijau misalnya, membuka ruang belajar baru dari penggunaan bahan alami seperti lerak untuk mencuci, hingga refleksi gaya hidup sehari-hari yang lebih ramah lingkungan.
Ada juga kerja bareng dengan komunitas lain dalam kegiatan edukasi anak dan diskusi lintas isu. Tidak melulu soal sampah, tapi juga tentang relasi manusia dengan alam secara lebih luas.
Bagi mereka, kolaborasi bukan soal siapa paling benar, tapi siapa mau belajar bareng.
Gaya Baru untuk Generasi Baru
Yang menarik, cara mereka menyampaikan isu lingkungan terasa dekat dengan gaya Gen Z. Tidak selalu serius. Kadang justru lewat hal-hal sederhana seperti nongkrong sambil bawa tumbler sendiri, mix and match baju lama daripada beli baru, atau jalan-jalan sambil belajar mengenali ekosistem.
Pendekatannya bukan “harus sempurna”, tapi “mulai dulu”.
“Enggak harus langsung zero waste. Pakai aja apa yang ada dulu,” kata salah satu narasumber.
Pendekatan ini terasa relevan di tengah gaya hidup Gen Z yang cepat, impulsif, dan penuh distraksi. Alih-alih melarang, mereka mengajak pelan-pelan dengan bahasa yang relatable.
Tantangan yang Tidak Selesai
Meski kolaborasi terus dibangun, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah menjaga konsistensi relawan dalam jangka panjang. Tidak semua orang bisa terus hadir, tidak semua semangat bisa stabil.
Tapi justru di situ letak kekuatan komunitas saling menguatkan.
Mereka percaya, selama ada ruang untuk belajar dan silaturahmi, gerakan ini akan terus hidup. Bahkan ketika berjalan pelan.
Lebih dari Sekadar Sampah
Pada akhirnya, cerita Zona Bening bukan hanya tentang pilah sampah. Ini tentang cara melihat dunia bahwa masalah lingkungan tidak bisa diselesaikan dengan satu solusi, satu pihak, atau satu generasi.
Ia butuh kolaborasi.
Dari komunitas ke komunitas. Dari warga ke pemerintah. Dari kebiasaan kecil ke perubahan besar.
Dan mungkin, dari satu percakapan sederhana seperti siang itu di Kota Batu perubahan bisa mulai terjadi.