
Dokumentasi : Tim Natera
Kota Malang — Di tengah berkembangnya konsep ruang kreatif berbasis lingkungan, KHACE (Khatulistiwa Center) menghadirkan praktik urban farming Urban Farming di KHACE Malang : Dari Lahan Terbatas Menuju Ketahanan Pangan Mandiri. Tidak hanya menjadi ruang berkumpul komunitas, area ini juga difungsikan sebagai lahan percontohan pertanian kota yang dapat dimanfaatkan langsung oleh pengunjung maupun pengelola.
Konsep urban farming di KHACE berangkat dari visi komunitas arsitektur lanskap yang ingin menghadirkan ruang fungsional sekaligus berkelanjutan. Praktik ini mulai dilakukan sejak tahap awal pembangunan kawasan pada tahun 2025, ketika area mulai ditanami berbagai jenis tanaman pangan.
Koordinator KHACE, Judha Widitha, menjelaskan bahwa urban farming bukan sekadar aktivitas menanam, tetapi bagian dari sistem yang lebih luas untuk mendukung ketahanan pangan di wilayah perkotaan.
“Urban farming itu sebenarnya praktik pertanian yang di area perkotaan atau area urban. Karena lahannya terbatas, bagaimana dengan area terbatas itu tetap bisa bertani dan menghasilkan produk pertanian yang bisa dikonsumsi,” ujar Judha.
Urban Farming sebagai Media Percontohan
Praktik urban farming di KHACE dirancang sebagai area percontohan yang dapat dipelajari oleh masyarakat. Berbagai tanaman seperti tomat, cabai, terong, hingga kacang-kacangan ditanam di area kebun yang terintegrasi dengan aktivitas kantin.
Menurut Judha, hasil dari kebun tersebut tidak hanya menjadi pajangan edukasi, tetapi juga dimanfaatkan secara nyata untuk kebutuhan operasional.
“Yang sudah berjalan itu digunakan untuk kebutuhan kantin. Terkadang kalau panennya agak banyak, itu kami jual juga ke pengunjung atau ada yang mau petik sendiri,” jelasnya.
Model ini menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung, karena mereka tidak hanya menikmati suasana ruang hijau, tetapi juga bisa melihat langsung proses produksi pangan dari kebun ke meja makan.
Selain itu, kegiatan panen dilakukan oleh karyawan internal, sehingga urban farming di KHACE juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran bagi tim pengelola.
Menuju Konsep From Farm to Table
Urban farming di KHACE menjadi bagian dari konsep besar yang disebut from farm to table, yaitu memanfaatkan hasil kebun sebagai bahan utama menu makanan di kantin.
Beberapa menu bahkan telah menggunakan bahan hasil panen sendiri, seperti terong dan daun-daunan lokal yang diolah menjadi hidangan khas.
“Konsepnya sebenarnya nanti akan kami konsep bagaimana apa yang kami tanam itu bisa diolah menjadi menu yang ada di kantin,” kata Judha.
Langkah ini dinilai penting untuk memperpendek rantai distribusi pangan sekaligus memberikan edukasi kepada pengunjung tentang pentingnya konsumsi bahan lokal.
Integrasi Pertanian dan Peternakan
Tidak berhenti pada tanaman pangan, KHACE juga mulai mengembangkan integrasi pertanian dan peternakan sebagai bagian dari sistem berkelanjutan. Salah satu contoh yang sudah berjalan adalah keberadaan area peternakan ayam di bagian belakang kawasan.
Menurut Judha, konsep ini terinspirasi dari prinsip permakultur, di mana setiap elemen saling terhubung dan membentuk siklus yang berkelanjutan.
“Mulai dari apa yang ditanam, dimakan, kemudian semuanya kembali lagi ke situ. Kotoran ayam nanti dijadikan pupuk untuk tanaman,” ujarnya.
Ke depan, pengelola juga merencanakan penggunaan maggot untuk mengolah sampah organik dapur, sehingga limbah dapat dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak.
Sistem ini diharapkan dapat menciptakan siklus produksi yang minim limbah dan lebih ramah lingkungan.

Dokumentasi: Tim Natera
Tantangan dalam Mengembangkan Pertanian Organik
Meski telah berjalan, pengembangan urban farming di KHACE tidak terlepas dari berbagai tantangan, terutama dalam menjaga konsistensi praktik pertanian organik di tengah lingkungan sekitar yang masih menggunakan pestisida kimia.
Judha mengungkapkan bahwa kondisi tersebut menyebabkan hama lebih mudah menyerang tanaman di area urban farming.
“Urban farming di awal kami melakukan itu dengan full organik. Tapi kondisi lingkungan sekitar kan semuanya masih pakai pestisida, sehingga akhirnya tanaman di sini banyak yang berlubang,” jelasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, pengelola terus mencari teknik alternatif yang dapat menjaga tanaman tetap sehat tanpa merusak ekosistem alami.
Pendekatan yang digunakan bukan untuk membunuh hama, melainkan mengendalikan keberadaannya agar tidak merusak tanaman secara berlebihan.
Urban Farming sebagai Sarana Edukasi Lingkungan
Selain mendukung kebutuhan pangan, urban farming di KHACE juga berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Pengunjung dapat melihat langsung proses bercocok tanam, memanen hasil kebun, hingga memahami pentingnya pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
Tidak hanya itu, area ini juga dirancang sebagai ruang belajar terbuka yang memungkinkan berbagai kegiatan edukatif dilakukan di masa depan.
Seiring dengan berkembangnya aktivitas di KHACE, praktik urban farming diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk mulai menanam di rumah, meskipun dengan lahan terbatas.
Menurut kaca mata Natera. Dengan menggabungkan konsep pertanian kota, edukasi lingkungan, dan aktivitas komunitas, KHACE berupaya membuktikan bahwa ruang urban tetap memiliki potensi besar untuk mendukung gaya hidup berkelanjutan.