
Foto: https://www.kaliku-lestarinusantara.com/2025/08/kaliku-siapkan-bibit-untuk-giat.html
Halo Naters! Di tengah isu lingkungan yang sering terasa besar dan jauh, ada cerita yang justru dimulai dari hal paling dekat sungai di sekitar rumah. Bukan dari kampanye besar atau proyek raksasa, tapi dari keresahan sederhana yang akhirnya berubah jadi gerakan nyata.
Cerita ini datang dari Sugeng Widodo.
Apa sih Kaliku Itu?
Di balik nama Kaliku, ada semangat kolektif yang terus tumbuh. Kaliku merupakan Kelompok Aktivis Lingkungan Hidup dan Kelestarian Lingkungan yang lahir dari keresahan terhadap kondisi alam.
Awal tahun 2019, Sugeng melihat perubahan pada sungai di Pakisaji. Air tidak lagi jernih, bantaran mulai gundul, dan ekosistem kehilangan keseimbangan.
Alih-alih mengabaikan, ia memilih bergerak.
Sugeng lalu mengajak sepuluh rekannya. Mereka menyatukan keresahan yang sama, lalu membentuk Kaliku sebagai ruang untuk aksi.
“Kami sering lihat sungai, tapi dulu cuma lewat. Sampai akhirnya kami sadar, kondisi ini nggak bisa dibiarkan,” kata Sugeng.
Dari situ, Kaliku tidak berhenti di diskusi. Mereka langsung turun ke lapangan.
Dari Tanam Pohon Jadi Gerakan
Salah satu fokus utama Kaliku ada di aksi tanam pohon. Mereka melihat hilangnya vegetasi sebagai akar dari banyak masalah lingkungan mulai dari erosi, berkurangnya kualitas udara, hingga rusaknya ekosistem sungai.
Namun, Kaliku tidak asal menanam.
Di wilayah pedesaan, mereka memilih pohon buah seperti mangga, jeruk, dan nangka. Warga bisa merasakan manfaat langsung, tidak hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga ekonomi.
Sementara di lereng gunung, mereka menanam pohon seperti beringin yang memiliki akar kuat untuk menjaga struktur tanah.
“Kami menyesuaikan dengan kondisi lokasi. Kami ingin pohon yang kami tanam benar-benar hidup dan memberi manfaat,” ujar Sugeng.
Aksi ini terus berkembang. Tahun 2020, Kaliku mendapatkan dukungan dana dari PMI yang membantu memperluas gerakan mereka.
Namun, kekuatan utama Kaliku justru datang dari kolaborasi.
Mahasiswa hadir sebagai relawan. Dinas terkait ikut terlibat serta Warga sekitar mulai turun tangan. Dari situ, aksi tanam pohon berubah menjadi gerakan kolektif.
Menanam Jadi Cara Sederhana Jaga Bumi
Yang sering kita lupakan, hilangnya pohon membawa dampak besar bagi lingkungan. Tanah lebih mudah longsor, udara kehilangan kualitas, dan air tidak lagi tersaring secara alami. Di sinilah peran aksi kecil seperti menanam pohon menjadi penting.
Kaliku tidak hanya mengajak orang menanam, tetapi juga memahami. Mereka mengembangkan program seperti susur sungai dan sekolah sungai untuk membangun kesadaran.
“Kami ingin orang-orang tidak hanya ikut tanam, tapi juga paham kenapa ini penting,” kata Sugeng.
Dalam praktiknya, satu pohon membawa banyak dampak. Akar menjaga tanah, daun menghasilkan oksigen, dan lingkungan perlahan kembali seimbang.
Bagi Gen Z, pendekatan ini terasa dekat. Tidak harus langsung melakukan hal besar, cukup mulai dari langkah kecil yang konsisten.
Cerita komunitas menunjukkan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu butuh aksi besar. Kadang, cukup satu lubang tanah dan satu bibit pohon.
Di tengah dunia yang serba cepat, Kaliku memilih berhenti sejenak, menyentuh tanah, lalu menanam masa depan.
Mungkin kita tidak langsung ikut menanam hari ini. Tapi seperti Kaliku, kita selalu punya pilihan untuk mulai.
Dari satu pohon, perubahan bisa tumbuh.