Kaliku hidupkan Sungai jadi Ruang Belajar

Sugeng Widodo saat ditemui tim Natera di Base Camp Kaliku, Pakisaji
Foto: Dokumentasi Pribadi/Natera

Di banyak tempat, sungai sering jadi “tempat terakhir” dari semua masalah: sampah rumah tangga, limbah, sampai ketidaksadaran manusia. Tapi di Desa Wringinsongo (Pakisaji), cerita itu coba dibalik oleh Kaliku (Kelompok Aktivis Lingkungan Hidup dan Kelestarian Budaya). Bukan hanya dibersihkan, sungai justru dijadikan titik awal membangun ekosistem sekaligus ruang belajar.

Semua bermula dari langkah sederhananya, saat Sugeng Widodo turun sendiri ke sungai untuk membersihkan sampah. Dari langkah itu kemudian ia menjadi penggagas Kaliku hingga menjadi komunitas besar yang berdampak. 

“Awalnya saya sendiri, kemudian karena konsisten, banyak yang ikut,” ungkap Sugeng.

Dari situ lah perubahan pelan-pelan terjadi. Sungai tidak dibeton, tidak “dirapikan” secara instan. Kaliku memilih cara yang lebih ramah, yaitu dengan menyusun batu tanpa semen agar aliran tetap alami dan biota tetap hidup. Hasilnya? Udang dan ikan lokal mulai kembali. Ekosistem yang sempat hilang, perlahan pulih.

Dari Sungai ke Sekolah

Momentum pandemi justru membuka jalan baru. Ketika sekolah formal berhenti, Kaliku mengubah sungai jadi ruang belajar.

“Akhirnya kita tarik anak-anak ini untuk sekolah di sungai,” kata Sugeng.

Di sini, anak-anak tidak hanya duduk dan mendengar. Mereka belajar langsung dari lingkungan: mengenali air, membersihkan sungai, hingga memahami bahwa air bisa jadi sumber energi lewat mikrohidro. Bahkan sempat ada perpustakaan kecil yang jadi pelengkap ruang belajar ini.

Sekolah sungai ini kemudian berkembang jadi gagasan yang lebih besar bukan sekadar aktivitas sementara, tapi model pendidikan lingkungan.

“Kita ingin bikin sekolah sungai, edukasi pengelolaan lingkungan terintegrasi,” jelas Sugeng.

Ekosistem Itu Bukan Cuma Alam

Kaliku bukan hanya membangun ekosistem sungai, tapi juga ekosistem sosial. Masyarakat dilibatkan langsung dari bersih sungai, menanam pohon, sampai pengelolaan sampah seperti kompos dari eceng gondok. Bahkan, pendekatan yang dipakai pun jauh dari formalitas.

“Kita ngobrol, ngopi bareng. Kalau formal-formalan, nggak nyampe,” ujarnya.

Dari obrolan santai itu, lahir kelompok-kelompok kecil yang mulai bergerak. Kaliku pun kini tidak hanya di satu titik, tapi ikut membina komunitas di berbagai daerah.

Meski begitu, jalan yang ditempuh tidak mulus. Sampah tetap datang, bahkan lebih cepat dari upaya membersihkannya. Masyarakat masih membuang sampah setiap detik, namun bersih sungai ini dilakukan hanya satu kali dalam satu bulan.

Selain itu, faktor ekonomi sering menjadi alasan utama bagi masyarakat yang di edukasi agar turut menjaga kebersihan lingkungan. Namun, kesadaran lingkungan kerap kalah dengan kebutuhan sehari-hari.


Kaliku berupaya menjadikan langkah mereka sebagai bagian dari perjuangan menjaga bumi. Kaliku menyadari bahwa apa yang mereka lakukan bukan solusi instan. Tapi setidaknya, ini jadi awal.

“Gerakan yang kami lakukan ini bukan jawaban, tapi upaya,” ujar Sugeng.

Dari sungai, mereka belajar satu hal sederhana: kalau ingin memperbaiki lingkungan, tidak cukup hanya kampanye. Harus ada ruang belajar, ruang tumbuh, dan ruang untuk berubah—pelan-pelan, tapi nyata.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.