Kaliku, Gerakan Sungai yang Kini Menyebar ke Blitar dan Pasuruan

Malang – Berawal dari aksi membersihkan sungai di Pakisaji pada 2019, komunitas Kaliku berkembang menjadi gerakan lingkungan berbasis komunikasi dan kolaborasi yang kini menjangkau wilayah seperti Blitar dan Pasuruan. Dipimpin oleh Sugeng Widodo, Kelompok Aktivis Lingkungan Hidup dan Kelestarian Lingkungan (Kaliku) membangun pendekatan yang tidak hanya bertumpu pada aksi, tetapi pada cara berinteraksi dengan masyarakat untuk menciptakan perubahan yang bertahan.

Pagi itu, di tepian sungai kawasan Pakisaji, tumpukan sampah plastik masih terlihat menyangkut di bebatuan dan aliran air yang melambat. Bagi sebagian orang, itu mungkin pemandangan biasa. Namun bagi Sugeng, itulah titik awal.

“Sungainya sebenarnya bagus, tapi tertutup sampah. Dari situ saya mulai bergerak, pelan-pelan,” ujarnya dalam wawancara bersama tim Natera.

Langkah awal itu sederhana turun langsung ke sungai, memungut sampah, dan mengajak orang-orang terdekat untuk ikut terlibat. Tidak ada struktur organisasi, tidak ada program besar hanya aksi kecil yang dilakukan berulang.

Namun dari situ, satu hal menjadi jelas yaitu membersihkan sungai saja tidak cukup.

Komunikasi Membuka Pintu Perubahan

Kaliku kemudian berkembang bukan karena aksi besar, tetapi karena pendekatan komunikasi yang konsisten. Sugeng menyadari bahwa persoalan lingkungan tidak hanya soal sampah, tetapi soal kebiasaan.

Pendekatan formal sering kali tidak efektif. Bahasa yang terlalu teknis atau instruktif justru membuat masyarakat menjauh. Karena itu, Kaliku memilih jalur yang lebih sederhana yaitu percakapan.

“Kalau terlalu formal, orang kadang tidak nyaman. Jadi kami ngobrol santai saja, dari hati ke hati,” kata Sugeng.

Percakapan itu terjadi di banyak tempat di warung kopi, di pinggir sungai, hingga dalam kegiatan warga sehari-hari. Tidak ada panggung khusus, tidak ada jarak antara penggerak dan masyarakat.

Dari komunikasi yang cair ini, muncul kepercayaan. Dan dari kepercayaan, perlahan tumbuh kesadaran.

Beberapa warga yang awalnya hanya ikut-ikutan, mulai terlibat lebih jauh. Mereka membentuk kelompok kecil di lingkungannya, mengelola sampah secara mandiri, hingga menginisiasi kegiatan serupa di wilayah lain.

“Dari komunikasi itu akhirnya mereka bergerak sendiri. Itu yang paling penting,” ujar Sugeng.

Kolaborasi Menghubungkan Gerakan

Ketika komunikasi mulai membuka ruang, kolaborasi menjadi langkah berikutnya. Kaliku tidak membangun gerakan secara eksklusif, melainkan terbuka terhadap siapa pun yang ingin terlibat.

Kolaborasi dilakukan dengan berbagai pihak yaitu komunitas lingkungan, mahasiswa, institusi pendidikan, hingga pemerintah. Bentuknya pun beragam dari edukasi, kampanye, hingga aksi lapangan dalam skala besar.

Dalam salah satu kegiatan, ribuan peserta terlibat dalam aksi bersih sungai. Mayoritas adalah mahasiswa yang datang sebagai relawan, menunjukkan bahwa isu lingkungan memiliki resonansi kuat di kalangan generasi muda.

“Kolaborasi itu banyak sekali. Kami tidak bisa jalan sendiri,” kata Sugeng.

Pendekatan ini sejalan dengan rekomendasi United Nations Environment Programme yang menekankan bahwa penyelesaian masalah lingkungan membutuhkan kerja lintas sektor dan partisipasi kolektif masyarakat.

Menyebar Tanpa Cabang

Seiring waktu, gerakan Kaliku mulai meluas ke luar Malang. Namun, ekspansi ini tidak dilakukan melalui pembentukan cabang formal.

Di Blitar dan Pasuruan, misalnya, gerakan tumbuh dari komunitas lokal yang sudah ada. Kaliku hadir sebagai pendamping membantu menyusun sistem, memperkuat jaringan, dan berbagi pengalaman.

“Kita tidak bikin cabang. Kita dampingi teman-teman di daerah yang sudah bergerak,” jelas Sugeng.

Di Blitar, pendekatan dilakukan melalui edukasi berbasis komunitas, sementara di Pasuruan fokusnya lebih pada penguatan aksi lapangan dan pengelolaan sampah. Masing-masing daerah memiliki karakter berbeda, dan Kaliku memilih untuk menyesuaikan pendekatan, bukan menyeragamkan.

Model ini membuat gerakan terasa lebih organik. Tidak ada struktur yang kaku, tetapi ada koneksi yang terjaga.

Relawan, Energi yang Menghidupkan

Di balik perkembangan Kaliku, ada peran besar relawan. Tim inti yang berjumlah sekitar 10 orang bertugas mengelola arah gerakan, tetapi energi di lapangan datang dari volunteer.

Menariknya, banyak relawan datang tanpa latar belakang aktivisme. Mereka adalah mahasiswa, warga, bahkan pekerja yang ingin mencoba terlibat.

Namun, pengalaman langsung di lapangan sering kali menjadi titik balik.

“Kontribusi terbesar justru dari volunteer. Dari situ mereka belajar dan akhirnya peduli,” kata Sugeng.

Relawan tidak hanya membantu kegiatan, tetapi juga menjadi jembatan penyebaran ide ke lingkungan masing-masing.

Gerakan yang Tumbuh Perlahan

Kaliku tidak pernah mengklaim sebagai solusi. Sugeng menyebut gerakan ini sebagai “upaya” yang terus berjalan.

“Ini bukan solusi instan. Perubahan itu butuh waktu panjang,” ujarnya.

Realitas ini juga tercermin dalam laporan World Bank yang menyebut bahwa tantangan pengelolaan sampah di Indonesia tidak hanya terletak pada infrastruktur, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat.

Karena itu, Kaliku memilih fokus pada proses edukasi berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, dan konsistensi gerakan.

Program seperti “sekolah sungai” menjadi salah satu bentuk konkret, di mana masyarakat diajak memahami hubungan antara aktivitas sehari-hari dan kondisi lingkungan.

“Kaliku, Kalimu”

Nama Kaliku sendiri mengandung pesan sederhana “kaliku, kalimu” yaitu sungai milik kita bersama.

Filosofi ini menegaskan bahwa lingkungan bukan tanggung jawab satu pihak, melainkan tanggung jawab kolektif.

“Kaliku dan kalimu dijaga bersama. Karena sungai itu titik akhir dari semua aktivitas kita,” kata Sugeng.

Di tengah arus aktivisme yang sering kali bergantung pada momentum, Kaliku menunjukkan pendekatan yang berbeda. Tidak terburu-buru, tidak mencari sorotan, tetapi konsisten membangun komunikasi dan kolaborasi.

Bagi generasi muda, pesan ini terasa relevan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari aksi besar, tetapi dari percakapan kecil yang terus dijaga hingga akhirnya mengalir menjadi gerakan yang lebih luas, seperti sungai yang tak pernah benar-benar berhenti.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.