Malang – Di tengah meningkatnya limbah tekstil akibat budaya fast fashion, brand sustainable fashion Feyzion by Zizi hadir dengan pendekatan upcycle denim yang mengolah jeans bekas menjadi produk baru bernilai guna sejak mulai dikembangkan pada 2022. Didirikan oleh Zizi, brand ini membawa misi mengurangi limbah fashion sekaligus membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya tanggung jawab sosial dan lingkungan dalam industri mode.
Di balik rak-rak berisi potongan denim dan kain tradisional Nusantara, Feyzion by Zizi tumbuh dari keresahan yang sederhana yaitu terlalu banyak pakaian dibuang hanya karena tren berubah.
Bagi Zizi, industri fashion saat ini bergerak terlalu cepat. Tren berganti dalam hitungan minggu, produksi terus meningkat, dan pakaian perlahan berubah menjadi barang sekali pakai.
“Limbah fashion itu memang nomor satu,” ujarnya dalam wawancara daring bersama tim Natera.
Pernyataan itu bukan sekadar opini personal. Menurut United Nations Environment Programme, industri fashion menjadi salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar 8 hingga 10 persen emisi karbon global. Industri ini juga menghasilkan limbah tekstil dalam jumlah besar akibat pola produksi dan konsumsi yang terus meningkat.
Di Indonesia, fenomena fast fashion semakin dekat dengan kehidupan anak muda, terutama sejak media sosial membuat tren bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Pakaian tidak lagi dibeli karena kebutuhan, tetapi karena dorongan untuk terus mengikuti estetika yang sedang populer.
Akibatnya, banyak pakaian berakhir menjadi limbah hanya setelah dipakai beberapa kali.
Fast Fashion dan Budaya Konsumsi Instan
Menurut laporan Ellen MacArthur Foundation, satu truk sampah tekstil dibuang atau dibakar setiap detik di seluruh dunia akibat sistem fashion yang tidak berkelanjutan.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana industri fashion modern tidak hanya menciptakan tren, tetapi juga mempercepat budaya konsumsi instan.
Zizi melihat persoalan ini sebagai sesuatu yang harus mulai dibicarakan lebih serius, terutama di kalangan pelaku industri kreatif.
“Fashion enthusiast dan fashion designer harus lebih peduli terhadap lingkungan,” katanya.
Kesadaran itu kemudian menjadi fondasi lahirnya Feyzion by Zizi. Ketika banyak brand berlomba memproduksi barang baru, Feyzion justru memilih memanfaatkan limbah yang sudah ada.
Upcycle Denim dan “Kehidupan Kedua” untuk Pakaian Bekas
Konsep utama Feyzion adalah upcycle denim mengolah jeans bekas menjadi produk baru tanpa menghilangkan karakter asli kainnya.
Program ini diberi nama “Regeneration”, sebuah konsep yang menurut Zizi bukan hanya soal desain, tetapi juga tentang memberi kehidupan kedua bagi pakaian yang dianggap selesai.
“Regeneration itu fokus ke upcycle denim. Jadi kita memanfaatkan limbah untuk memberi hidup kedua bagi sampah fashion,” jelasnya.
Denim dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Zizi, jeans lama justru memiliki tekstur dan karakter yang tidak dimiliki bahan baru.
“Kalau jeans itu semakin lama usianya, justru semakin berkarakter,” ujarnya.
Di studio produksinya, jeans bekas dipilah berdasarkan warna, tekstur, dan kondisi kain. Potongan-potongan tersebut kemudian diolah menjadi berbagai produk seperti outer, pouch, tas, belt, hingga aksesori kecil lainnya.
Setiap produk dibuat dalam jumlah terbatas dan memiliki detail yang berbeda. Tidak ada potongan denim yang benar-benar sama, membuat setiap item memiliki identitas unik.
Pendekatan ini menjadi bentuk perlawanan terhadap sistem mass production dalam fast fashion yang cenderung menghasilkan produk seragam dalam jumlah besar.
Slow Fashion di Tengah Tren yang Bergerak Cepat
Jika fast fashion mengutamakan kecepatan produksi, Feyzion justru memilih jalur slow fashion konsep fashion berkelanjutan yang menekankan kualitas, daya guna panjang, dan proses produksi yang lebih bertanggung jawab.
“Kita benar-benar slow fashion. Jadi bajunya punya daya guna long term,” kata Zizi.
Prinsip ini tidak hanya terlihat dari material yang digunakan, tetapi juga dari cara Feyzion membangun cerita di setiap desainnya.
“Value-nya itu di desain dan story-nya. Kenapa baju itu ada,” ujarnya.
Selain denim, Feyzion juga memasukkan unsur wastra Nusantara seperti batik, songket, dan tenun ke dalam koleksinya. Konsep yang disebut “Elevate Wastra” ini menjadi cara Zizi menggabungkan budaya lokal dengan estetika urban modern.
“Semua produk utama kami pasti ada unsur kain tradisional Indonesia,” katanya.
Kain tradisional tersebut dipadukan dengan denim upcycle untuk menciptakan tampilan streetwear yang lebih dekat dengan gaya berpakaian generasi muda.
Membangun Awareness Lewat Industri Kreatif
Bagi Zizi, sustainability bukan hanya soal produk ramah lingkungan. Yang lebih penting adalah membangun awareness atau kesadaran kolektif tentang dampak industri fashion terhadap bumi.
Karena itu, Feyzion aktif mengadakan workshop dan kampanye donasi jeans bekas. Masyarakat diajak menyumbangkan denim lama yang kemudian diolah kembali menjadi produk baru.
Beberapa sekolah bahkan ikut terlibat dalam workshop sustainable fashion dengan membawa ratusan jeans bekas sebagai bahan praktik.
“Jadi mereka belajar bagaimana sampah fashion bisa jadi sesuatu yang punya nilai jual,” kata Zizi.
Kolaborasi juga dilakukan bersama komunitas kreatif dan ruang publik seperti Malang Creative Center untuk memperluas edukasi tentang sustainable fashion kepada anak muda.
Menurut Zizi, generasi muda sebenarnya punya potensi besar untuk mendorong perubahan budaya konsumsi. Namun, banyak yang belum sadar bahwa pakaian yang mereka miliki bisa memiliki umur lebih panjang.
“Jangan cuma ikut tren aja, tapi menciptakan tren lebih keren sambil mengurangi sampah lingkungan,” ujarnya.
Solusi Kecil di Tengah Krisis Besar
Feyzion by Zizi mungkin bukan brand besar dengan produksi massal. Namun, di tengah krisis limbah fashion global, langkah kecil seperti ini menjadi penting.
Upcycle denim yang dilakukan Feyzion menunjukkan bahwa kreativitas tidak selalu harus menghasilkan limbah baru. Justru dari pakaian bekas, lahir kemungkinan baru baik secara desain maupun kesadaran.
Di tengah industri mode yang bergerak cepat dan konsumtif, Feyzion memilih berjalan lebih lambat memperpanjang usia pakaian, mengangkat potensi lokal, dan mengingatkan bahwa fashion tidak seharusnya mengorbankan lingkungan.
Karena pada akhirnya, bagi Zizi, sustainability bukan tentang terlihat hijau di permukaan. Tetapi tentang bagaimana industri kreatif mulai bertanggung jawab atas jejak yang ditinggalkannya terhadap bumi.