
Foto: Instagram @feyzion.id
Di tengah derasnya tren fashion yang terus berganti di media sosial, banyak anak muda berlomba tampil paling update. Mulai dari outfit ala Pinterest, thrift haul TikTok, hingga streetwear kekinian, semuanya seolah harus dimiliki agar tetap relevan. Namun di balik budaya konsumsi tersebut, ada persoalan lingkungan yang sering luput dibahas, yaitu limbah fashion.
Founder Fashion by Zizi, Zizi, menilai fenomena ini membuat banyak orang membeli pakaian hanya demi mengikuti tren sesaat. Padahal, tidak sedikit pakaian yang akhirnya menumpuk di lemari atau berakhir menjadi sampah.
“Kalau Gen Z ya, generasi muda itu, jangan cuma ikut tren aja, tapi menciptakan tren lebih keren,” ujar Zizi.
Menurutnya, generasi muda punya posisi besar dalam menentukan arah tren fashion saat ini. Karena itu, anak muda juga bisa menjadi penggerak gaya hidup yang lebih sadar lingkungan.
Fashion Bukan Sekadar Estetika
Bagi Zizi, fashion tidak hanya soal tampil menarik, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bertanggung jawab terhadap apa yang dikenakannya. Ia menilai kesadaran soal sampah pakaian harus mulai dibangun dari hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Menciptakan tren sambil mengurangi sampah lingkungan menjadi dua hal yang harus dipertimbangkan. Jadi aku harapannya memang generasi muda jauh lebih aware untuk isu-isu lingkungan terkait, karena fashion itu day-to-day-nya kita loh,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa banyak orang belum sadar jika industri fashion menjadi salah satu penyumbang limbah terbesar. Kebiasaan membeli pakaian karena tren cepat berganti membuat siklus konsumsi fashion semakin tidak terkendali.
Karena itu, Zizi mencoba membawa pendekatan berbeda melalui konsep sustainable fashion yang ia bangun lewat brand Fashion by Zizi.
Dari Jeans Bekas Menjadi Karya Bernilai
Berbeda dari brand fashion pada umumnya, Fashion by Zizi mengolah jeans bekas menjadi produk fashion baru yang tetap terlihat artistik dan modern. Mulai dari outfit streetwear, pouch, belt, hingga aksesori multifungsi dibuat dari limbah denim yang dikumpulkan melalui program donasi.
Menariknya, ide tersebut justru bermula dari kebiasaan Zizi sendiri yang gemar mengoleksi jeans.
“Aku tuh suka banget sama jeans. Akhirnya saat aku program, gimana caranya jeans bekasku itu aku upcycle jadi sesuatu yang bernilai jual tinggi,” katanya.
Dua lemari penuh jeans miliknya bahkan diubah menjadi berbagai karya fashion dengan karakter unik. Menurutnya, setiap potongan denim memiliki ciri berbeda yang membuat produknya tidak pernah benar-benar sama.
Ia juga sengaja membangun desain yang artistik agar masyarakat tidak langsung memandang pakaian berbahan limbah sebagai sesuatu yang “murahan”.
“Aku mainnya di bagaimana aku melihat ini sebagai satu hal bernilai seni tinggi, artistik, baru nanti ada storytelling tentang limbahnya,” tambah Zizi.
Gen Z Bisa Jadi Penggerak Sustainable Fashion
Melalui kampanye upcycle denim yang dijalankannya, Zizi berharap semakin banyak anak muda mulai sadar bahwa pakaian lama tidak harus berakhir di tempat sampah. Ia juga ingin lebih banyak influencer dan fashion enthusiast membawa isu sustainable fashion ke media sosial.
Menurutnya, pengaruh tren di kalangan Gen Z sangat besar untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap fashion ramah lingkungan.