Kampanye Lingkungan Kini Lebih Realistis: Bukan Anti Plastik, Tapi Bijak Plastik

Produksi plastik semakin meningkat di pasar tradisional
Doc: validnews.id

Narasi tentang “zero waste” pernah menjadi simbol dan standardisasi gaya hidup masyarakat modern. Membawa tote bag, memakai sedotan stainless, hingga menolak plastik sekali pakai dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadap bumi. Namun, kini “bijak plastik” lebih digaungkan, sebab beberapa tahun terakhir, realita di lapangan menunjukkan hal yang lebih rumit, banyak masyarakat yang belum benar-benar bisa hidup tanpa plastik.

Pergeseran cara pandang inilah yang muncul dalam webinar Earth Talk bertajuk “Plastik Naik, Siapa yang Terdampak?” yang digelar Epic Indonesia bersama iLitterless dan GPLU dalam rangka Hari Bumi Sedunia 2026.

Poster digital webinar Earth Talk dalam rangka memperingati Hari Bumi 2026
Doc: Instagram @epyc.id

Di tengah naiknya harga plastik akibat persoalan geopolitik global dan ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor, diskusi ini justru membuka pertanyaan yang lebih besar, apakah solusi lingkungan harus selalu tentang menghapus plastik sepenuhnya?

Aktivis lingkungan sekaligus peraih Kalpataru Jawa Timur, Sulaiman Sulang, S.S. M.A.P., menilai kampanye lingkungan hari ini mulai bergerak ke arah yang lebih realistis.

“Bukan soal kampanye zero plastic waste-nya, justru beralih ke kampanye bijak plastik,” ujar Sulaiman, dalam diskusi tersebut.

Menurutnya, pemerintah saat ini berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi ada target pengurangan sampah plastik, tetapi di sisi lain industri plastik masih menjadi bagian besar dari roda ekonomi masyarakat.

“Kalau kita mau ekstrem, cukup pemerintah buat regulasi nutup semua pabrik-pabrik kemasan plastik di seluruh Indonesia selesai. Tapi apa dampaknya terhadap jutaan tenaga kerja kita?” lanjutnya.

Narasi ini menjadi penanda bahwa isu lingkungan tidak lagi sesederhana hitam dan putih. Plastik memang menjadi masalah, tetapi ketergantungan manusia terhadapnya juga belum bisa diputus dalam waktu singkat.

Plastik Masih jadi Penopang Gaya Hidup Modern

Ketergantungan terhadap plastik ternyata terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama di sektor food and beverage. Nina Amelia dari iLitterless juga turut mengatakan bahwa kenaikan harga plastik mulai berdampak langsung pada operasional kafe-kafe mitra mereka di Kota Malang.

Beberapa pelaku usaha bahkan mulai mempertimbangkan untuk menaikkan harga produk karena biaya kemasan yang ikut melonjak.

“Dampak dari kenaikan harga plastik tuh sangat terasa, jadi mau tidak mau mereka akhirnya berencana untuk menaikkan harga dari minuman mereka juga,” jelas Nina.

Situasi ini menunjukkan bagaimana plastik selama ini dianggap sebagai sesuatu yang murah, praktis, dan selalu tersedia. Ketika harganya naik, masyarakat baru menyadari betapa besarnya ketergantungan terhadap material tersebut.

Bukan hanya industri besar, kebiasaan kecil sehari-hari pun sulit dipisahkan dari plastik. Sulaiman bahkan mencontohkan pengalaman sederhana saat ia berbelanja di pasar.

“Kita itu nggak mau terlepas dari plastik. Kadang saya ke pasar spontan beli jeruk, ya plastik yang dibawa pasti yang dikasih sama tukang jualnya,” ungkapnya.

Kalimat sederhana itu justru menjadi gambaran paling nyata tentang kondisi masyarakat hari ini. Plastik bukan lagi sekadar pilihan, tetapi sudah menjadi bagian dari sistem hidup yang berjalan otomatis.

Dari Larangan menjadi Ajakan Lebih Realistis

Daripada mendorong pelarangan total, banyak komunitas lingkungan kini memilih pendekatan yang lebih membumi dan mudah diterapkan masyarakat. iLitterless, misalnya, mereka gencar mengajak anak muda untuk mengurangi plastik lewat kampanye yang dekat dengan lifestyle sehari-hari.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendorong kafe-kafe mitra memberikan promo khusus bagi pengunjung yang membawa tumbler sendiri.

“Kami ingin mendorong dan mendukung kafe mitra untuk mengadakan promo khusus untuk teman-teman yang membawa tumbler,” ujar Nina.

Menurutnya, perubahan perilaku tidak bisa dipaksakan dengan narasi yang terlalu keras. Anak muda justru lebih mudah terlibat ketika kampanye lingkungan dikemas dengan cara yang ringan dan menyenangkan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa kampanye lingkungan kini mulai bergeser dari sekadar ajakan mengurangi sampah menjadi upaya membangun kebiasaan baru yang lebih realistis dilakukan masyarakat.

Membawa tumbler, memilah sampah dari rumah, hingga menggunakan ulang kemasan bukan lagi diposisikan sebagai gaya hidup sempurna, melainkan langkah kecil yang konsisten.

Daur Ulang bukan Solusi Instan

Di tengah naiknya harga plastik, industri daur ulang juga mulai dilirik sebagai peluang baru. Namun menurut Nina, persoalannya tidak sesederhana mengubah sampah menjadi produk baru.

Masalah terbesar justru ada pada kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah secara tercampur. Akibatnya, banyak plastik yang sebenarnya masih bisa didaur ulang justru terkontaminasi dan membutuhkan biaya pencucian yang tinggi.

“Industri daur ulang punya kesempatan yang cukup bagus di momentum ini, tetapi pola pikir masyarakat juga masih susah untuk diubah,” jelas Nina.

Hal serupa juga dirasakan Sulaiman saat melakukan pendampingan masyarakat di berbagai daerah. Ia menyebut edukasi soal pengelolaan sampah di tingkat akar rumput masih menjadi tantangan besar.

Banyak masyarakat yang masih memandang sampah hanya sebagai sesuatu yang dibuang atau dijual tanpa memahami dampaknya terhadap lingkungan. Bahkan, praktik membakar sampah dan membuang sampah ke sungai masih sering ditemukan.

Situasi ini membuat persoalan plastik menjadi jauh lebih kompleks. Bukan hanya tentang mengganti kemasan atau mengurangi konsumsi, tetapi juga tentang membangun kesad4aran kolektif yang membutuhkan proses panjang.

Bijak Plastik sebagai Jalan Tengah yang Dipilih

Pada akhirnya, diskusi soal plastik hari ini tampaknya tidak lagi bergerak pada pertanyaan “pakai atau tidak pakai”. Sebab realitanya, masyarakat masih hidup berdampingan dengan plastik hampir di setiap aktivitasnya. Yang mulai berubah justru cara pandangnya.

Jika dulu kampanye lingkungan identik dengan penolakan total terhadap plastik, kini banyak pihak mulai percaya bahwa solusi paling mungkin adalah mengurangi penggunaan berlebihan dan mengelolanya dengan lebih bijak.

Mulai dari membawa tumbler sendiri, memilah sampah dari rumah, mendukung produk daur ulang, hingga membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.

Sebab di tengah dunia yang masih sangat bergantung pada plastik, mungkin yang benar-benar dibutuhkan bukan sekadar slogan “stop plastik”, tetapi kesadaran untuk menggunakan plastik dengan lebih bertanggung jawab.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.