Suara karung plastik diseret di lantai semen terdengar hampir bersamaan dengan bunyi botol-botol air mineral yang saling beradu. Pagi itu, halaman TPS3R Basama di Bandungrejosari, Kota Malang, belum terlalu ramai. Namun di sudut bangunan sederhana itu, tumpukan sampah anorganik sudah mulai berdatangan dari berbagai arah dari warga, sekolah, kafe, hingga komunitas.
Ada botol plastik, kardus bekas paket online, tutup botol warna-warni, hingga galon rusak yang kusam. Bagi sebagian orang, benda-benda itu mungkin sudah selesai masa pakainya. Tapi di BSIL (Bank Sampah Indah Lestari), perjalanan sampah justru baru dimulai.
Di tempat inilah sampah anorganik dipilah, dipisahkan, dicacah, lalu dikirim kembali menjadi bahan baku industri daur ulang.
“Pertanyaan yang sering muncul setelah orang diedukasi pilah sampah itu selalu sama, setelah dipilah terus dibawa ke mana?” ujar Mayedha.
Pertanyaan itu yang akhirnya melahirkan BSIL pada 2024. Awalnya, tim iLitterless hanya mengumpulkan sampah terpilah dari kafe dan warga di garasi rumah. Jumlahnya makin menumpuk, sementara kebutuhan tempat penyimpanan terus bertambah. Di saat yang sama, TPS3R Basama menawarkan kolaborasi untuk membangun bank sampah berbasis masyarakat.
Dari situ, BSIL tumbuh bukan sekadar jadi tempat setor sampah, tetapi juga menjadi off-taker sampah anorganik terpilah yang menghubungkan sampah rumah tangga dengan industri daur ulang.
Sampah Datang dalam Kondisi Berbeda
Sampah yang masuk ke BSIL tidak datang dalam kondisi sempurna. Sebagian masih bercampur label, ada yang kotor, bahkan belum dipisahkan tutup dan badannya.
Namun justru di situlah proses panjang itu dimulai.
Di BSIL, hampir semua jenis sampah anorganik diterima mulai dari plastik, karton, kardus, kaca, hingga besi-besian. Hanya sampah organik dan limbah berbahaya yang tidak diterima.
Setelah disetor atau dijemput dari warga, sampah langsung masuk tahap pemilahan detail. Botol plastik bening dipisahkan dari botol kebiruan. Tutup botol merah tidak dicampur dengan tutup biru. Bahkan label plastik pada botol juga harus dilepas karena memengaruhi nilai jual.
Semakin bersih dan terpilah, semakin tinggi harga sampah tersebut.
Bagi warga yang rutin memilah dari rumah, proses ini membuat perjalanan sampah jadi lebih cepat. Tapi bagi pekerja di TPS3R, pemilahan tetap dilakukan ulang untuk memastikan material benar-benar sesuai jenisnya.
Di tengah budaya belanja online dan konsumsi cepat yang lekat dengan Gen Z, jenis sampah yang paling sering masuk justru berasal dari aktivitas sehari-hari botol minuman, kemasan skincare, kardus paket, dan plastik rumah tangga.
Di Mesin Pencacah, Sampah Mulai Naik Level
Di salah satu bagian TPS3R Basama, mesin pencacah plastik berdiri dengan suara berisik yang nyaris tidak berhenti ketika dioperasikan.
Mesin itu menjadi salah satu tahap penting perjalanan sampah di BSIL.
Tidak semua plastik dicacah. BSIL saat ini fokus mengolah plastik jenis HDPE plastik yang biasa ditemukan pada tutup botol, galon, atau kemasan tertentu karena materialnya bisa dilelehkan ulang menjadi produk baru.
Tutup botol yang sudah dibersihkan akan dimasukkan ke mesin pencacah hingga berubah menjadi serpihan kecil bernama flakes.
Flakes inilah yang nantinya dikirim sebagai bahan baku daur ulang.
“Kalau jenis HDPE itu bisa dilelehkan lagi. Makanya kami cacah jadi flakes untuk kebutuhan recycle,” kata Mayedha.
Bagi banyak orang, serpihan plastik itu mungkin terlihat seperti potongan biasa. Namun di industri daur ulang, flakes punya nilai ekonomi tinggi karena menjadi bahan dasar berbagai produk baru.
BSIL sendiri bekerja sama dengan jaringan pengolahan daur ulang milik iLitterless yang mengembangkan material HDPE menjadi furnitur dan produk lain berbasis plastik daur ulang.
Sementara plastik jenis lain seperti PET tetap dipilah berdasarkan warna dan jenis sebelum dipres lalu dikirim ke pengepul dan pabrik daur ulang yang lebih besar.
Dari sana, sampah-sampah itu bisa berubah menjadi berbagai benda baru mulai dari perabot rumah tangga, furnitur, hingga komponen industri.
Bukan Sekadar Tempat Buang Sampah
Bagi BSIL, perjalanan sampah tidak berhenti di proses jual beli material.
Mereka juga mencoba membangun kesadaran bahwa sampah sebenarnya masih punya nilai jika dipilah sejak awal.
Karena itu, BSIL aktif bekerja sama dengan sekolah, pesantren, komunitas, hingga acara publik untuk mengedukasi soal pemilahan sampah.
Salah satunya lewat program di pesantren dan sekolah rakyat, di mana sampah botol dan kardus dipilah lalu disetorkan kembali ke BSIL untuk menjadi tabungan atau kas komunitas.
Di media sosial, edukasi itu dikemas lebih dekat dengan gaya hidup anak muda mulai dari workshop membuat keychain daur ulang hingga kampanye pengumpulan sampah skincare.
Namun di balik semua aktivitas itu, ada satu kekhawatiran besar yang terus mereka suarakan tempat pembuangan akhir yang semakin penuh.
Di BSIL, sampah memang masih terlihat seperti tumpukan botol, kardus, dan serpihan plastik. Tapi bagi mereka, setiap sampah yang berhasil dipilah adalah satu langkah kecil untuk memperpanjang umur bumi dan mencegah kota tenggelam dalam gunungan limbahnya sendiri.
