Tabungan Sampah BSIL Ubah Sampah Anorganik Jadi Bernilai

Tumpukan sampah anorganik menunggu proses pemilahan di Bank Sampah Indah Lestari (BSIL).
Foto: Dok Pribadi/Natera

Malang – Di tengah meningkatnya volume sampah dan ancaman keterbatasan kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA), Bank Sampah Indah Lestari (BSIL) mengembangkan Program Tabungan Sampah (TAPA) yang memungkinkan warga menyetorkan sampah anorganik untuk ditabung layaknya uang. Program yang dijalankan bersama masyarakat ini tidak hanya memberikan nilai ekonomi dari sampah yang dipilah, tetapi juga menjadi upaya nyata mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA.

Bagi sebagian besar masyarakat, sampah masih dianggap sebagai sesuatu yang harus segera dibuang. Setelah kantong sampah keluar dari rumah, urusannya dianggap selesai. Padahal, di balik botol plastik bekas minuman, kardus paket belanja daring, atau tumpukan kertas yang tidak terpakai, terdapat nilai ekonomi yang sering kali luput dari perhatian.

Pandangan inilah yang coba diubah oleh BSIL melalui Program Tabungan Sampah atau TAPA. Program tersebut dibangun atas prinsip sederhana yaitu sampah yang dipilah dengan baik masih memiliki nilai dan dapat menjadi bagian dari sistem ekonomi sirkular.

Dalam wawancara bersama tim Natera, Owner BSIL, Mayedha Adifirsta, menjelaskan bahwa kunci utama pengelolaan sampah bukan terletak pada teknologi yang rumit, melainkan pada kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.

“Langkah paling sederhananya pilah aja sampah organik dan anorganik. So simple itu,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi fondasi utama program TAPA. Sebab tanpa pemilahan dari sumber, sampah yang sebenarnya masih bernilai akan tercampur dengan sampah lain dan kehilangan peluang untuk didaur ulang.

Menabung dengan Sampah

Konsep tabungan sampah yang dijalankan BSIL sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sistem perbankan pada umumnya. Perbedaannya terletak pada apa yang disetor.

Jika bank konvensional menerima uang sebagai simpanan, TAPA menerima sampah anorganik yang telah dipilah oleh warga. Sampah tersebut kemudian ditimbang, dikategorikan berdasarkan jenisnya, lalu dikonversi menjadi nilai ekonomi yang dicatat sebagai tabungan nasabah.

Jenis sampah yang diterima umumnya berupa botol plastik, kardus, kertas, logam, hingga berbagai material anorganik lain yang masih memiliki nilai jual dalam rantai daur ulang.

Konsep ini menjadikan sampah tidak lagi dipandang sebagai barang buangan, melainkan sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), Indonesia menghasilkan puluhan juta ton sampah setiap tahun. Namun sebagian besar sampah tersebut masih berakhir di TPA karena rendahnya tingkat pemilahan dari sumber.

Dalam konteks itulah, program seperti TAPA menjadi penting. Selain memberikan insentif ekonomi, program ini juga membantu memperpanjang umur material yang masih bisa dimanfaatkan kembali.

Partisipasi Warga Menentukan Keberhasilan

Berbeda dengan sistem pengelolaan sampah yang sepenuhnya bergantung pada petugas kebersihan, keberhasilan TAPA justru bergantung pada partisipasi masyarakat.

Mayedha menjelaskan bahwa langkah paling penting bukanlah menyetorkan sampah ke bank sampah, melainkan membiasakan diri untuk memilah sampah sejak dari rumah.

“Kalau bisa milah dan setor sendiri ke bank sampah, bagus. Tapi kalau nggak bisa, cukup lakukan itu. Karena banyak masyarakat yang bilang sudah milah, tapi nanti di truknya dicampur,” katanya.

Menurutnya, pemilahan sederhana antara sampah organik dan anorganik sudah memberikan dampak besar bagi proses pengelolaan di hilir.

Ketika sampah sampai ke fasilitas pengolahan atau TPS 3R, petugas masih harus memilah kembali material yang memiliki nilai jual. Semakin baik pemilahan dilakukan di tingkat rumah tangga, semakin ringan pekerjaan mereka.

“Nah, dengan kita milah itu sebenarnya sudah sangat meringankan tugas mereka,” ujar Mayedha.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi juga persoalan perilaku.

Mengurangi Sampah Sebelum Sampai ke TPA

Di balik mekanisme tabungan dan nilai ekonomi yang ditawarkan, tujuan terbesar TAPA adalah mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Mayedha menilai persoalan sampah saat ini sudah memasuki fase yang mengkhawatirkan. Banyak daerah mulai menghadapi keterbatasan kapasitas TPA akibat volume sampah yang terus meningkat setiap tahun.

“TPA-TPA akan ditutup karena overload,” ujarnya.

Ia mencontohkan beberapa daerah yang mulai mendorong pengelolaan sampah berbasis komunitas karena tekanan terhadap sistem pembuangan semakin besar.

“Ketika TPA itu overload, mau buka TPA di mana lagi?” lanjutnya.

Menurut laporan World Bank melalui What a Waste 2.0, volume sampah global diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan urbanisasi. Tanpa perubahan sistem pengelolaan, banyak kota akan menghadapi tantangan serius terkait kapasitas pembuangan sampah.

Karena itu, konsep bank sampah dipandang sebagai salah satu strategi untuk mengurangi tekanan terhadap TPA dengan cara mengalihkan material yang masih bernilai ke jalur daur ulang.

Sampah Bukan Lagi Akhir, tetapi Awal

Bagi BSIL, keberhasilan program tabungan sampah tidak diukur semata dari jumlah kilogram sampah yang terkumpul. Yang lebih penting adalah perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah itu sendiri.

Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna mulai dipandang sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Dari situlah muncul kesadaran bahwa setiap rumah memiliki peran dalam menyelesaikan persoalan sampah.

Menjelang akhir wawancara, Mayedha menyampaikan harapannya agar edukasi mengenai pemilahan sampah tidak berhenti sebagai informasi semata, melainkan segera diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Setiap orang sudah harus sadar menyelesaikan masalah sampahnya sendiri. Karena itu adalah potensi bencana di kemudian hari,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar atau teknologi canggih. Kadang, perubahan justru dimulai dari langkah sederhana yaitu memisahkan botol plastik dari sisa makanan, menyimpan kardus bekas, lalu menyetorkannya ke bank sampah.

Melalui TAPA, BSIL menunjukkan bahwa sampah yang dipilah bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan. Sebab ketika masyarakat mulai menabung sampah, yang sebenarnya sedang ditabung bukan hanya uang, melainkan masa depan kota yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.