
Foto: Dok Pribadi/Natera
Malang – Berawal dari rasa penasaran terhadap seni ecoprint yang saat itu masih tergolong langka di Indonesia, Susi, perintis Rumah Kreasi Ken Ken di Malang, memulai perjalanan belajarnya ke berbagai kota sejak sekitar lima hingga enam tahun lalu. Dari hobi mencoba hal-hal baru dan kecintaannya pada kerajinan berbasis alam, ia kemudian membangun Rumah Kreasi Ken Ken menjadi UMKM kreatif yang mengembangkan produk ecoprint, batik pewarna alami, dan berbagai kerajinan ramah lingkungan.
Di sebuah sudut rumah yang dipenuhi kain, daun-daun kering, dan hasil karya tekstil berwarna alami, Bu Susi bercerita bahwa perjalanan Rumah Kreasi Ken Ken tidak dimulai dari rencana bisnis besar. Semuanya berawal dari ketertarikan pribadi terhadap teknik ecoprint, sebuah metode pewarnaan kain menggunakan bentuk dan pigmen alami dari daun serta tumbuhan.
Saat pertama kali mengenal ecoprint, menurutnya, teknik tersebut belum sepopuler sekarang. Informasi dan pelatihan masih terbatas sehingga ia harus mencari ilmu langsung dari para perajin yang lebih dulu menguasainya.
“Awal-awal tahun sekitar lima atau enam tahun yang lalu itu membuat ecoprint masih langka. Kita masih butuh untuk belajar. Waktu itu belajar di Jogja, belajar di Bandung, belajar di Jakarta,” ujar Bu Susi saat diwawancarai tim Natera.
Perjalanan belajar itu tidak selalu mudah. Selain harus mengeluarkan biaya dan waktu untuk mengikuti pelatihan di luar kota, ia juga harus memulai dari nol untuk memahami karakter daun, teknik pewarnaan, hingga proses produksi yang cukup rumit.
Namun bagi Bu Susi, tantangan tersebut justru menjadi bagian dari proses yang menyenangkan.
“Karena saya juga hobi untuk hal-hal yang baru,” katanya.
Ketika Daun Menjadi Sumber Inspirasi
Ketertarikan Bu Susi terhadap ecoprint bukan hanya karena hasil visualnya yang unik, tetapi juga karena kedekatannya dengan alam. Sejak mendalami teknik ini, ia mengaku memiliki kebiasaan baru yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat menggambarkan kecintaannya pada proses kreatif tersebut.
“Kita kalau lagi ke mana gitu, mesti cari daun,” ujarnya sambil tertawa.
Dalam dunia ecoprint, tidak semua daun dapat digunakan. Daun yang dipilih harus memiliki kandungan tanin atau pigmen alami yang mampu meninggalkan jejak warna pada kain.
“Daun jati, daun lanang, pokoknya daun-daun yang keluar taninnya, keluar warnanya,” jelasnya.
Kebiasaan mencari daun itu kemudian berkembang menjadi sumber inspirasi yang terus memperkaya karya-karyanya. Setiap daun memiliki bentuk, tekstur, dan warna berbeda sehingga menghasilkan motif yang tidak pernah benar-benar sama.
Karakter unik tersebut menjadi salah satu alasan mengapa produk ecoprint memiliki nilai tersendiri dibanding tekstil produksi massal.
Dari Penjahit Menjadi Perajin Ecoprint
Sebelum mengenal ecoprint, Bu Susi sebenarnya telah lama berkecimpung di dunia jahit-menjahit. Pengalaman tersebut membuatnya akrab dengan kain dan berbagai teknik pengolahan tekstil.
Ketika ecoprint mulai dikenal, ia melihat peluang untuk menggabungkan keterampilan menjahit dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan.
Rumah Kreasi Ken Ken kemudian berkembang tidak hanya memproduksi kain ecoprint, tetapi juga berbagai produk turunan seperti tas, pakaian, syal, hingga kerajinan tekstil lainnya.
Menurut Bu Susi, perbedaan utama produk ecoprint dengan tekstil konvensional terletak pada penggunaan bahan dan proses produksinya.
“Kalau ini alam. Pewarna alam. Kalau yang itu sintetis,” ujarnya sambil menunjukkan perbedaan antara produk ecoprint dan tekstil biasa.
Dalam proses ecoprint, warna dihasilkan dari daun, tanaman, hingga bahan alami lain tanpa bergantung pada pewarna sintetis dalam jumlah besar. Bahkan beberapa proses memanfaatkan material yang sering dianggap tidak berguna, seperti paku berkarat yang digunakan untuk menghasilkan warna tertentu.
“Jadi memang benar-benar dari alam. Dikembalikan ke alam juga nggak masalah,” katanya.
UMKM Kreatif yang Tumbuh dari Proses Belajar
Perjalanan Rumah Kreasi Ken Ken menunjukkan bahwa sebuah UMKM tidak selalu lahir dari modal besar. Dalam kasus Bu Susi, usaha tersebut tumbuh dari proses belajar yang panjang dan kemauan untuk terus mencoba.
Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap produk ramah lingkungan, Rumah Kreasi Ken Ken mulai dikenal melalui berbagai pameran dan kegiatan UMKM di berbagai daerah. Bu Susi bahkan pernah mengikuti pameran hingga ke Batam dan Bali untuk memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas.
Meski demikian, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah mengalami berbagai kendala ketika mengikuti pameran di luar daerah, mulai dari persoalan teknis hingga biaya operasional yang tidak sedikit. Namun pengalaman tersebut justru memperkuat keyakinannya untuk terus mengembangkan usaha yang dirintis dari rumah.
Ecoprint dan Tren Produk Berkelanjutan

Foto: Dok Pribadi/Natera
Apa yang dilakukan Rumah Kreasi Ken Ken sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap produk fesyen dan kerajinan yang lebih berkelanjutan. Menurut United Nations Environment Programme, industri tekstil merupakan salah satu sektor yang memiliki dampak lingkungan cukup besar, sehingga penggunaan bahan alami dan praktik produksi yang lebih bertanggung jawab semakin didorong secara global.
Dalam konteks tersebut, ecoprint menjadi salah satu alternatif yang menawarkan pendekatan lebih dekat dengan alam melalui penggunaan bahan-bahan alami dan proses produksi yang relatif lebih ramah lingkungan.
Meski demikian, Bu Susi mengingatkan bahwa membuat produk ecoprint bukan pekerjaan instan. Setiap lembar kain membutuhkan tahapan yang panjang, mulai dari pencucian, mordanting, penataan daun, hingga proses pengukusan.
“Kalau kain ini prosesnya sekitar tiga hari,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap masyarakat semakin menghargai proses di balik setiap karya kerajinan yang dibuat secara manual.
Rumah Kreasi Ken Ken, Ruang untuk Terus Bertumbuh
Bagi Bu Susi, Rumah Kreasi Ken Ken bukan sekadar tempat produksi kerajinan. Tempat tersebut menjadi ruang belajar, berbagi pengalaman, sekaligus wadah untuk mengenalkan bahwa kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan.
Perjalanan yang dimulai dari hobi mencari daun kini telah berkembang menjadi UMKM kreatif yang terus tumbuh bersama alam. Dari lembaran kain putih hingga motif daun yang tercetak permanen, setiap karya di Rumah Kreasi Ken Ken menyimpan cerita tentang ketekunan, proses belajar, dan keyakinan bahwa sesuatu yang sederhana dari alam dapat memiliki nilai yang luar biasa.
