Ketika Rempah Dapur Naik Kelas Jadi Pewarna Batik

Aroma kunyit dan teh biasanya identik dengan dapur rumah. Temulawak sering direbus jadi jamu, sementara secang lebih akrab sebagai minuman hangat berwarna merah. Namun di sebuah rumah sederhana di Kota Malang, rempah-rempah itu justru berubah fungsi. Bukan untuk diminum, melainkan menjadi warna pada selembar kain.

Tangan Bu Susi bergerak pelan sambil membuka gulungan kain ecoprint yang baru selesai dikukus. Motif daun perlahan muncul di permukaan kain, membentuk pola abstrak dengan warna coklat, kuning, hingga merah bata. Tidak ada bau bahan kimia menyengat seperti di kebanyakan proses pewarnaan tekstil. Yang tercium justru aroma dedaunan dan rebusan rempah.

Di tengah tren sustainable fashion yang mulai ramai dibicarakan anak muda, Rumah Kreasi Ken Ken mencoba menunjukkan bahwa kain cantik tidak selalu harus lahir dari pewarna sintetis. Dari dapur dan halaman rumah, mereka meracik warna sendiri.

Berawal dari Rasa Penasaran

Perjalanan Bu Susi masuk ke dunia ecoprint dimulai sekitar lima hingga enam tahun lalu, saat teknik itu masih belum banyak dikenal di Malang. Ia rela belajar ke Jogja, Bandung, hingga Jakarta demi memahami cara memindahkan warna dan bentuk daun ke atas kain.

Awalnya sekadar rasa penasaran terhadap hal baru, tetapi lama-lama berubah menjadi kecintaan. Bahkan kebiasaan sehari-harinya ikut berubah. Saat orang lain berjalan-jalan sambil mencari tempat nongkrong atau spot foto, Bu Susi justru sibuk memperhatikan daun di pinggir jalan.

“Kalau lagi pergi itu mesti cari daun,” ujar Susi sambil tertawa.  

Tidak semua daun bisa digunakan. Ia memilih daun yang memiliki kandungan tanin tinggi agar warna bisa keluar saat dikukus atau dipukul ke kain. Daun jati menjadi salah satu favorit karena mampu menghasilkan warna yang kuat dan pekat.

Kunyit, Secang, dan Teh Jadi Pewarna

Yang membuat Rumah Kreasi Ken Ken berbeda adalah keberaniannya menggunakan bahan-bahan yang dekat dengan keseharian masyarakat. Bahan pewarna tidak datang dari pabrik kimia, tetapi dari rempah dan tumbuhan yang biasa ditemui di dapur maupun halaman rumah.

Kunyit menghasilkan warna kuning hangat. Temulawak memberi nuansa lebih pekat. Teh menghadirkan warna coklat lembut, sementara kayu secang menghasilkan semburat merah alami. Bahkan kulit mahoni yang sering jatuh begitu saja di jalan ternyata bisa berubah menjadi warna earthy yang elegan.

“Teh itu juga bisa, bagus teh. Kadang dicampur secang sama teh,” ujar Susi.  

Menurutnya, warna alami memang tidak selalu setajam pewarna sintetis. Namun justru di situlah karakter uniknya muncul. Setiap rebusan rempah menghasilkan tone berbeda, tergantung campuran bahan, lama perebusan, hingga jenis kain yang digunakan.

Slow Fashion di Tengah Budaya Serba Instan

Bagi generasi muda yang tumbuh di era fast fashion, proses membuat kain ecoprint mungkin terdengar terlalu lama. Namun di Rumah Kreasi Ken Ken, proses panjang itu justru dianggap sebagai bagian penting dari nilai sebuah karya.

Kain harus dicuci menggunakan sabun tanpa busa terlebih dahulu, lalu masuk tahap pemordanan agar warna lebih menempel. Setelah itu kain dikeringkan, disusun bersama daun atau rempah, digulung, lalu dikukus selama berjam-jam.

Untuk batik warna alam, prosesnya bahkan lebih panjang. Satu kain bisa dicelup berkali-kali agar warna menjadi lebih kuat dan tahan lama.

“Kadang sampai lima belas kali supaya warnanya keluar sesuai yang diinginkan,” kata Susi.  

Di tengah budaya serba cepat, proses itu menjadi pengingat bahwa pakaian tidak lahir begitu saja. Ada waktu, tenaga, dan eksperimen panjang di balik setiap warna yang muncul di atas kain.

Bukan Sekadar Estetik, Tapi Juga Ramah Lingkungan

Tren warna earthy dan fashion berbasis alam memang sedang populer di media sosial. Anak muda mulai mencari pakaian yang tidak sekadar estetik, tetapi juga lebih ramah lingkungan.

Rumah Kreasi Ken Ken mencoba menjawab tren itu lewat proses produksi yang minim limbah. Daun-daun sisa pewarnaan tidak dibuang begitu saja, melainkan dikembalikan ke tanah menjadi kompos.

Baginya, konsep ramah lingkungan bukan sekadar label jualan. Semua bahan yang digunakan diupayakan tetap aman ketika kembali ke alam.

Warna Alam yang Punya Cerita

Sore mulai turun ketika kain-kain itu dijemur di halaman rumah. Warna-warna alami tampak menyala terkena cahaya matahari. Sulit membayangkan bahwa coklat lembut pada kain itu berasal dari teh dan kayu, sementara kuning cerahnya datang dari kunyit dapur yang biasa ditemukan di rak bumbu.

Tidak ada dua kain yang benar-benar sama. Setiap daun meninggalkan jejak berbeda. Setiap rebusan rempah menciptakan karakter warna sendiri.

Di tangan Rumah Kreasi Ken Ken, rempah-rempah tidak lagi sekadar bahan masakan. Mereka berubah menjadi medium seni, sekaligus pengingat bahwa alam sebenarnya sudah menyediakan banyak hal termasuk warna tanpa harus merusaknya terlebih dahulu.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.