Berburu Motif dari Alam
Di dalam bagasi motor, di sudut mobil, bahkan di kantong plastik yang dibawanya saat bepergian, hampir selalu ada satu hal yang sama: daun. Bagi sebagian orang, daun yang gugur di pinggir jalan mungkin hanya dianggap sampah organik. Namun bagi Susi, pendiri Rumah Kreasi Ken-Ken di Kota Malang, daun adalah sumber inspirasi sekaligus bahan utama yang menghidupkan karya-karya ecoprint miliknya.
Kebiasaan itu bahkan menjadi bahan candaan di antara teman-temannya. Ke mana pun pergi, Susi hampir selalu menyempatkan diri memperhatikan tanaman di sekitar. Jika menemukan daun dengan bentuk unik atau warna menarik, ia tak segan memungut dan membawanya pulang.
“Jeleknya ya, kalau lagi ke mana gitu, maunya mesti cari daun,” ujarnya sambil tertawa.
Kebiasaan tersebut bermula sekitar tahun 2018 ketika ia mulai mengenal teknik ecoprint, sebuah metode mencetak motif alami dari daun dan bunga ke atas kain. Saat itu ecoprint masih tergolong langka di Indonesia. Demi mempelajari teknik tersebut, Susi rela belajar ke berbagai kota seperti Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta.
“Awal-awal tahun sekitar lima sampai enam tahun yang lalu itu ecoprint masih langka. Saya belajar ke Jogja, Bandung, dan Jakarta karena waktu itu masih sedikit yang mengajarkan,” katanya.
Dari Jalanan hingga Lereng Gunung
Bagi Susi, berburu daun bukan sekadar mencari bahan baku. Kegiatan itu telah berubah menjadi cara menikmati perjalanan. Setiap tempat yang dikunjungi memiliki kemungkinan menghadirkan motif baru yang belum pernah ia temukan sebelumnya.
Daun jati, daun lanang, daun kayu putih, hingga berbagai tanaman liar menjadi koleksi yang selalu menarik perhatian. Ia memahami bahwa tidak semua daun dapat digunakan untuk ecoprint. Hanya daun yang memiliki kandungan tanin atau pigmen tertentu yang mampu meninggalkan jejak warna pada kain.
“Pokoknya yang keluar taninnya, keluar warnanya,” jelasnya.
Kebiasaan itu membuat perjalanan bersama teman-temannya sering berubah menjadi ekspedisi kecil. Seusai menghadiri pertemuan atau kegiatan UMKM, mereka kerap mampir ke kebun, kawasan pegunungan, hingga daerah pedesaan hanya untuk mencari daun.
Salah satu lokasi favoritnya adalah kawasan Batu dan Malang Selatan. Di sana ia sering menemukan berbagai jenis daun yang menghasilkan motif unik. Bahkan saat berkunjung ke Madura bersama rekan-rekannya, agenda mencari daun tetap menjadi kegiatan utama di sela perjalanan.
“Kalau habis pertemuan di Batu, biasanya pulangnya cari daun dulu. Sampai Malang Selatan juga pernah. Kadang cuma untuk cari daun,” katanya.
Bagi orang lain, aktivitas tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun di balik setiap lembar daun terdapat kemungkinan lahirnya motif baru yang tidak dapat diulang persis sama.
Ketika Daun Menjadi Karya
Setelah daun terkumpul, perjalanan panjang berikutnya dimulai. Daun-daun itu akan dipilih, disusun, lalu ditempelkan pada kain yang telah melalui berbagai tahapan pengolahan. Mulai dari pencucian, pemordanan, hingga proses pengukusan agar warna dan bentuk daun berpindah ke permukaan kain.
Tidak ada motif yang benar-benar sama. Bentuk daun, tekanan saat pengolahan, hingga kandungan pigmen alami menghasilkan karakter yang berbeda pada setiap kain.
Di Rumah Kreasi Ken-Ken, hasil ecoprint kemudian diolah menjadi berbagai produk seperti syal, outer, tas, hingga sepatu. Produk-produk tersebut telah dipasarkan ke berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Batam, Nusa Tenggara Timur, hingga sejumlah kota lainnya.
Menariknya, inspirasi tidak hanya datang dari daun yang ditemukan di alam bebas. Halaman rumah juga menjadi laboratorium kecil bagi Susi. Beberapa tanaman sengaja ditanam untuk memastikan pasokan daun tetap tersedia.
“Kalau daun, tinggal metik. Saya juga tanam di belakang rumah,” ujarnya.
Bagi Susi, alam selalu menyediakan sumber inspirasi selama manusia mau memperhatikannya. Daun yang gugur, tanaman liar di tepi jalan, hingga tumbuhan yang sering diabaikan dapat berubah menjadi karya bernilai tinggi.
Berbagi Ilmu, Menumbuhkan Kreativitas
Di balik kesibukannya memproduksi ecoprint, Susi juga aktif membagikan ilmunya kepada masyarakat. Ia kerap mengisi pelatihan bagi kelompok UMKM, komunitas perempuan, hingga warga desa yang ingin belajar membuat produk berbasis bahan alami.
Baginya, ilmu yang dimiliki tidak seharusnya berhenti pada dirinya sendiri. Semakin banyak orang yang memahami ecoprint dan pemanfaatan bahan alami, semakin besar pula peluang lahirnya produk kreatif yang ramah lingkungan.
“Kita sosial ya, biar ilmu kita itu bermanfaat,” katanya.
Di tengah gempuran produk tekstil massal dan tren fesyen yang serba cepat, Susi memilih berjalan dengan ritme yang berbeda. Ia masih percaya bahwa karya terbaik sering kali lahir dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar.
Bagi perempuan di balik Rumah Kreasi Ken-Ken ini, inspirasi tidak perlu dicari terlalu jauh. Kadang ia tumbuh di pinggir jalan, jatuh dari ranting pohon, lalu berubah menjadi motif yang bercerita di atas selembar kain. Dari perjalanan mencari daun itulah lahir karya-karya yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga mengajarkan bahwa alam selalu memiliki cerita untuk dibagikan.
