Dari Malang ke Forum Internasional, Sulaiman Gagaskan Pengelolaan Sampah Mendunia

Sule saat berbagi cerita tentang perjalanan pengelolaan sampah dan gerakan lingkungan yang membawanya dari Kota Malang hingga forum internasional.
Dokumentasi: Tim Natera

Kota Malang – Sebuah teguran sederhana menjadi titik awal perjalanan panjang Suleman Sulang atau yang akrab disapa Sule dalam dunia lingkungan. Siapa sangka, langkah yang dimulai dari pengelolaan sampah di lingkungan sekolah kini mengantarkannya menjadi delegasi Indonesia di forum internasional dan bekerja sama dengan berbagai pihak dari luar negeri.

Pria asal Flores, Nusa Tenggara Timur itu mengaku mulai aktif di bidang lingkungan sejak tahun 2011. Saat itu, ia mengikuti pelatihan pengelolaan sampah yang kemudian mengubah cara pandangnya terhadap isu lingkungan.

“Waktu itu saya ditegur anak SMA karena membuang sampah sembarangan. Saya malu sekali. Dari situ saya mulai belajar dan mendalami lingkungan,” ungkapnya saat ditemui tim natera.id

Berawal dari Sekolah dan Bank Sampah

Perjalanan Sule tidak langsung menuju panggung internasional. Ia memulainya dari ruang kelas dan lingkungan sekolah tempatnya mengajar.

Melalui program Adiwiyata, ia belajar secara otodidak tentang pengelolaan lingkungan. Fokus utamanya saat itu adalah persoalan sampah yang sering dianggap sepele.

Pada tahun 2012, ia menggagas program bank sampah berbasis sekolah. Ide tersebut muncul ketika melihat banyak siswa mengalami kesulitan membayar biaya pendidikan.

“Anak-anak membawa sampah dari rumah, kami timbang, lalu diuangkan. Selain lingkungan lebih bersih, mereka juga mendapat manfaat ekonomi,” jelasnya.

Program tersebut perlahan berkembang dan menginspirasi banyak sekolah lain. Tak hanya di Kota Malang, konsep bank sampah yang ia kembangkan kemudian menjadi rujukan berbagai institusi pendidikan dan komunitas.

Kesuksesan program itu membuat namanya mulai dikenal. Ia diundang ke berbagai daerah untuk berbagi pengalaman tentang pengelolaan sampah dan pemberdayaan masyarakat.

Dari Malaysia hingga Abu Dhabi

Seiring berjalannya waktu, kiprah Sule semakin luas. Berbagai inovasi yang ia lakukan bersama siswa dan komunitas lingkungan menarik perhatian banyak pihak.

Pada 2019, ia bersama siswanya mendapat kesempatan mempresentasikan karya inovasi berbahan limbah plastik di Malaysia. Tidak berhenti di sana, inovasi tersebut juga berhasil lolos dalam ajang internasional yang berkaitan dengan lingkungan di Abu Dhabi.

“Awalnya saya hanya fokus mengedukasi soal sampah. Tapi ternyata karya-karya sederhana yang kami buat mendapat perhatian sampai luar negeri,” katanya.

Pengalaman tersebut membuka lebih banyak kesempatan. Ia mulai diundang dalam berbagai forum nasional terkait pengelolaan sampah dan lingkungan hidup. Di forum-forum itulah ia bertemu banyak praktisi dan pegiat lingkungan dari berbagai daerah.

Menariknya, Sule mengaku dirinya tidak memiliki latar belakang pendidikan lingkungan. Ia merupakan lulusan Sastra Inggris dan Administrasi Publik. Namun, keterbatasan itu justru menjadi motivasi untuk terus belajar.

Membawa Gagasan Indonesia ke Forum Dunia

Pandemi Covid-19 menjadi babak baru dalam perjalanan Sule. Ketika berbagai aktivitas edukasi lingkungan terhenti, ia mengalihkan fokus pada gerakan penanaman pohon.

Bersama komunitas yang dibentuknya, ia menginisiasi program sedekah oksigen dan berhasil menanam ribuan pohon di berbagai wilayah Jawa Timur hingga Bali.

Gerakan tersebut kemudian berkembang menjadi berbagai aksi lingkungan lainnya, mulai dari konservasi sumber mata air, edukasi perubahan iklim, hingga Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI).

Dari berbagai program itulah namanya semakin dikenal. Salah satu pencapaian penting terjadi ketika ia dipercaya menjadi delegasi Indonesia dalam AIS Forum (Archipelagic and Island States Forum), forum internasional yang membahas isu kelautan dan lingkungan negara-negara kepulauan.

Di forum tersebut, Sule membawa gagasan sederhana tentang pengelolaan sampah dari hulu.

“Kalau sampah bisa selesai di darat, maka potensi sampah masuk ke sungai dan laut juga berkurang. Ternyata ide sederhana itu diapresiasi oleh banyak negara,” ujarnya.

Menurutnya, pengelolaan sampah bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan manusia, keberlanjutan ekosistem laut, dan masa depan generasi mendatang.

Kolaborasi Lintas Negara dan Generasi

Hingga kini, Sule aktif bekerja sama dengan berbagai pihak dari luar negeri, termasuk Norwegia, Jerman, dan Jepang dalam program pengelolaan sampah serta konservasi lingkungan.

Namun di tengah berbagai pencapaian tersebut, ia tetap berpegang pada prinsip yang sama: mengajak masyarakat bergerak bersama.

Baginya, persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan oleh satu individu atau satu lembaga saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, media, dunia usaha, hingga masyarakat umum.

Ia juga menaruh perhatian besar pada keterlibatan anak muda dalam gerakan lingkungan. Hampir setiap kegiatan yang dilakukannya selalu melibatkan mahasiswa dan generasi muda.

“Suara anak muda itu penting. Mereka adalah pemimpin masa depan. Kalau sejak sekarang peduli lingkungan, dampaknya akan terasa untuk Indonesia ke depan,” tuturnya.

Dari sebuah teguran sederhana hingga tampil di forum internasional, perjalanan Sule menunjukkan bahwa perubahan besar seringkali berawal dari langkah kecil. Baginya, menjaga lingkungan bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bentuk pengabdian yang harus terus dilakukan, di mana pun berada.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.