Pagi itu, puluhan orang berdiri di sekitar sumber mata air. Ada mahasiswa, warga desa, komunitas lingkungan, guru, perangkat desa, hingga anak-anak muda yang baru pertama kali ikut kegiatan konservasi. Mereka datang bukan karena dibayar. Bukan pula karena kewajiban.
Mereka datang karena satu ajakan sederhana: menanam pohon untuk masa depan.
Di tengah kerumunan itu, berdiri Sulaiman Sulang atau yang lebih akrab dipanggil Pak Sule. Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai penggerak lingkungan di Malang Raya. Namun jika ditanya apa rahasia terbesar dari berbagai program yang ia jalankan, jawabannya bukan soal dana, penghargaan, atau popularitas.
Baginya, kunci perubahan lingkungan adalah kolaborasi.
“Masalah lingkungan tidak bisa diselesaikan sendirian. Kita harus bergandeng tangan,” ujar Sule.
Gerakan yang Tumbuh dari Banyak Pertemuan
Perjalanan Pak Sule di dunia lingkungan dimulai pada 2011 ketika mengikuti pelatihan pengelolaan sampah. Dari sana, ia mulai belajar tentang bank sampah, edukasi lingkungan, hingga program sekolah berbasis lingkungan.
Namun yang membuat gerakannya berkembang bukan hanya ide-ide yang ia miliki. Yang lebih penting adalah kemampuannya menghubungkan banyak orang dalam satu tujuan yang sama.
Saat mengembangkan program bank sampah sekolah, misalnya, ia tidak berhenti di satu sekolah saja. Ia mendatangi sekolah lain, berbagi pengalaman, memberikan pelatihan secara gratis, lalu membantu mereka membangun sistem serupa. Program yang awalnya lahir dari satu sekolah akhirnya menyebar ke berbagai SD, SMP, dan SMA di Malang.
Ketika pandemi datang pada 2020 dan aktivitas edukasi tatap muka terhenti, Pak Sule kembali mengandalkan jejaring yang sudah ia bangun. Ia menghubungi sekolah, komunitas, dan masyarakat untuk menjalankan gerakan penanaman pohon yang kemudian berkembang menjadi aksi besar di berbagai daerah.
Dari situ, satu hal menjadi jelas perubahan lingkungan selalu bergerak lebih cepat ketika dikerjakan bersama.
Dari Mahasiswa hingga Pemerintah Daerah
Yang menarik dari gerakan Pak Sule adalah keberagaman orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Dalam satu kegiatan, bisa ditemukan mahasiswa dari berbagai kampus, guru, pelajar, komunitas lingkungan, warga desa, pelaku usaha, hingga pemerintah daerah. Bahkan beberapa tamu dari luar negeri pernah ikut belajar langsung mengenai pengelolaan sampah dan konservasi yang ia lakukan.
Menurut Pak Sule, keberhasilan sebuah program lingkungan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon yang ditanam atau banyaknya sampah yang terkumpul. Yang lebih penting adalah seberapa luas gerakan itu melibatkan masyarakat.
Karena itu, setiap program yang ia rancang selalu menggunakan pendekatan kolaboratif atau yang ia sebut sebagai pendekatan multipihak.
“Tidak hanya saya datang lalu selesai. Saya pasti melibatkan berbagai pihak. Komunitas masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas lokal, sampai media,” katanya.
Pendekatan ini membuat setiap kegiatan tidak berhenti sebagai seremoni satu hari. Setelah penanaman pohon selesai, misalnya, masih ada warga yang merawat pohon. Setelah edukasi sampah dilakukan, masih ada komunitas yang melanjutkan kampanye di lingkungannya.
Gerakan terus hidup karena memiliki banyak pemilik.
Anak Muda Bukan Penonton
Di tengah banyaknya isu lingkungan yang kini ramai dibahas di media sosial, Pak Sule melihat anak muda sebagai kekuatan terbesar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Hampir semua kegiatan yang ia lakukan melibatkan mahasiswa dan pelajar. Bukan sekadar menjadi peserta, tetapi juga sebagai panitia, fasilitator, hingga penggerak di lapangan.
Menurutnya, suara anak muda memiliki daya pengaruh yang besar dalam mendorong perubahan.
“Suara anak muda itu suara yang didengar. Mereka adalah generasi yang nanti akan melanjutkan kepemimpinan dan menentukan masa depan lingkungan,” katanya.
Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton yang mengonsumsi informasi tentang lingkungan dari layar ponsel. Anak muda perlu hadir langsung di lapangan, memahami persoalan, lalu ikut menjadi bagian dari solusi.
Dalam berbagai proyeknya, mahasiswa sering dilibatkan untuk membantu survei lapangan, pendataan pohon, dokumentasi kegiatan, hingga penyusunan proposal pendanaan. Dari situ mereka belajar bahwa aktivisme lingkungan tidak hanya soal memungut sampah atau menanam pohon, tetapi juga soal membangun jaringan, mengelola program, dan memengaruhi kebijakan.
Lingkungan adalah Urusan Bersama
Bagi Pak Sule, tantangan terbesar dalam isu lingkungan bukanlah kurangnya ide. Tantangan terbesar adalah membuat lebih banyak orang peduli.
Itulah sebabnya ia terus menulis buku, mengadakan workshop, membangun komunitas, dan memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan pesan lingkungan.
Ia percaya bahwa setiap orang memiliki peran. Pemerintah membuat kebijakan. Komunitas menggerakkan warga. Sekolah membangun kesadaran sejak dini. Media menyebarkan informasi. Anak muda membawa energi dan kreativitas.
Semua saling melengkapi.
Di tengah krisis iklim, persoalan sampah, dan berkurangnya ruang hijau, kisah Pak Sule menunjukkan bahwa gerakan lingkungan tidak selalu lahir dari lembaga besar atau proyek bernilai miliaran rupiah.
Kadang, perubahan dimulai dari satu orang yang bersedia mengajak orang lain berjalan bersama.
Karena pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan pekerjaan individu. Ia adalah gerakan kolektif yang tumbuh dari ribuan tangan, ribuan langkah, dan satu tujuan yang sama: memastikan bumi tetap layak ditinggali oleh generasi berikutnya.