
Foto : Dokumentasi Nexus Foundation
Pada 1950-an, warga pesisir Minamata, Jepang, mulai melihat hal yang aneh. Ikan mati bermunculan, kucing bergerak tak wajar, dan warga mengalami gangguan saraf yang sulit dijelaskan.
Saat itu, tidak banyak yang sadar bahwa sumber masalah berasal dari Merkuri. Zat beracun tersebut masuk ke perairan, berpindah ke rantai makanan, lalu masuk ke tubuh manusia.
Tragedi itu kemudian dikenal sebagai Penyakit Minamata. Hingga hari ini, kisah tersebut masih menjadi peringatan bagi dunia tentang bahaya pencemaran Merkuri.
“Minamata is not only a historical tragedy of Japan. It is a global warning of what happens when industrial pollution is ignored for too long,” ujar Yoichi Tani dari The Collaboration Centre for Minamata Disease Victims.
Ancaman Merkuri tidak berhenti pada lingkungan. Zat ini juga menyerang kesehatan manusia secara perlahan dan sering kali tanpa gejala yang jelas.
Paparan Merkuri dapat muncul melalui udara, tanah, maupun air. Dalam banyak kasus, manusia terpapar saat mengonsumsi pangan yang berasal dari wilayah tercemar.
Ikan dan hasil perairan menjadi salah satu jalur paparan yang paling sering terjadi. Bakteri di lingkungan perairan dapat mengubah Merkuri menjadi bentuk yang lebih beracun lalu masuk ke rantai makanan.
Korban pencemaran Merkuri bukan hanya pekerja tambang. Masyarakat umum juga berisiko ketika mengonsumsi pangan yang telah terkontaminasi.
Dampaknya pun tidak ringan. Paparan jangka panjang dapat memicu gangguan ginjal, kerusakan sistem saraf, hingga masalah tumbuh kembang pada anak.
Yang membuat Merkuri berbahaya adalah sifatnya yang senyap. Banyak gejala muncul secara perlahan sehingga masyarakat sering tidak menyadari sumber masalahnya.
Menurut Kementerian Kesehatan, gejala paparan Merkuri sering tidak spesifik dan dapat menyerupai gangguan kesehatan lain. Kondisi ini membuat proses deteksi menjadi lebih sulit.
Saat Minimata Menyasar Generasi Mendatang
Kelompok yang paling rentan terhadap penyakit Minimata ini bukanlah orang dewasa yang sehat. Risiko terbesar justru mengintai ibu hamil, janin, bayi, dan anak-anak.
“Kelompok yang paling berat menanggung dampak adalah janin, bayi, anak-anak, maupun ibu hamil,” jelas Ardyan Satya Indralaksmana, Pselaku Penilai Dampak Lingkungan Junior, Direktorat PB3 Kementerian Lingkungan Hidup
Saat ibu hamil terpapar Merkuri, zat tersebut dapat menembus plasenta dan masuk ke tubuh janin. Akibatnya, perkembangan otak dan sistem saraf berisiko mengalami gangguan sejak awal kehidupan.
Dampak itu bahkan dapat bertahan hingga bertahun-tahun. Gangguan kognitif, hambatan tumbuh kembang, dan masalah neurologis menjadi ancaman yang mungkin muncul kemudian.
Karena itu, banyak ahli menyebut Minimata sebagai ancaman lintas generasi. Dampaknya tidak berhenti pada satu orang atau satu waktu saja.
“Pencemaran merkuri membutuhkan biaya sangat besar dan waktu yang sangat panjang untuk dipulihkan,” lanjutnya
Indonesia sendiri terus berupaya menekan risiko tersebut. Pemerintah telah meratifikasi Konvensi Minamata dan menjalankan berbagai program pengurangan Merkuri pada sektor prioritas.
Salah satu target penting mencakup penghapusan alat kesehatan yang mengandung Merkuri di fasilitas layanan kesehatan. Pemerintah juga mendorong pengurangan penggunaan Merkuri pada pertambangan emas skala kecil.
Upaya lain berfokus pada deteksi dini, edukasi masyarakat, serta perlindungan kelompok rentan. Tenaga kesehatan juga terus memperkuat kemampuan untuk mengenali tanda paparan Merkuri sejak awal.
Tragedi Minamata menunjukkan satu pelajaran penting. Saat manusia mengabaikan pencemaran lingkungan, dampaknya dapat bertahan selama puluhan tahun.
“The impacts do not stop with one generation, but are passed down for decades to communities, the environment, and future generations,” kata Yoichi Tani.
Karena itu, isu Merkuri bukan hanya soal lingkungan. Isu ini menyangkut masa depan anak-anak yang tumbuh hari ini dan generasi yang akan lahir esok.