
Dokumentasi: Tim Mahasiswa UMM
Kota Malang – Di balik sebuah inovasi, selalu ada persoalan yang lebih dulu ditemukan. Begitu pula dengan lahirnya gagasan alat steam press ecoprint yang dikembangkan oleh mahasiswa Teknik Industri UMM. Sebelum sampai pada tahap perancangan alat, mereka terlebih dahulu turun ke lapangan untuk memahami kondisi yang benar-benar dialami pelaku usaha ecoprint.
Bagi sebagian orang, ecoprint mungkin hanya terlihat sebagai produk kain dengan motif daun yang unik dan bernilai seni tinggi. Namun di balik proses pembuatannya, terdapat berbagai tantangan yang kerap dihadapi para pengrajin. Tantangan inilah yang kemudian menjadi titik awal mahasiswa dalam mencari solusi yang relevan.
Berawal dari Kunjungan ke UMKM Ecoprint
Proses tersebut bermula dari tugas perkuliahan yang mengharuskan mahasiswa melakukan riset terhadap UMKM. Tujuannya bukan sekadar mengamati usaha yang berjalan, tetapi juga mengidentifikasi permasalahan yang berpotensi diselesaikan melalui inovasi teknologi.
Dalam pencarian tersebut, tim menemukan sebuah UMKM ecoprint di wilayah Bululawang, Kabupaten Malang. Usaha tersebut dikenal melalui berbagai produk berbasis ecoprint yang pernah dipamerkan hingga mengikuti ajang fashion show.
Dari hasil wawancara dan observasi, mahasiswa mulai mendapatkan gambaran mengenai kondisi yang dihadapi pelaku usaha. Meski produk yang dihasilkan memiliki nilai estetika tinggi, proses produksinya masih sangat bergantung pada metode konvensional.
“Awalnya memang dari tugas kuliah untuk riset ke UMKM. Dari situ kami mencari usaha yang sekiranya bisa dibantu melalui inovasi,” ungkap salah satu anggota tim pengembang.
Ketika Produksi Masih Bergantung pada Cuaca
Salah satu persoalan utama yang ditemukan adalah proses produksi yang sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Dalam metode ecoprint tradisional, pengrajin masih mengandalkan proses pengeringan dan pengolahan yang membutuhkan kondisi lingkungan tertentu agar hasilnya optimal.
“Ketika musim hujan datang, produktivitas menjadi menurun. Waktu pengerjaan menjadi lebih lama dan kualitas hasil akhir berpotensi berbeda dibandingkan saat cuaca mendukung”. Ujarnya
Ketergantungan terhadap faktor alam ini membuat proses produksi sulit diprediksi. Bagi pelaku usaha yang harus memenuhi permintaan konsumen dalam jumlah tertentu, kondisi tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri.
Selain itu, metode manual juga menuntut pengawasan yang lebih intens selama proses berlangsung. Pengrajin harus terus memantau kondisi bahan agar hasil motif dan warna dapat muncul dengan baik pada kain.
Tantangan Kualitas yang Tidak Selalu Konsisten
Selain faktor cuaca, persoalan lain yang cukup menonjol adalah konsistensi hasil produksi. Dalam teknik ecoprint manual, tekanan yang diberikan pada daun dan kain seringkali berbeda-beda.
Akibatnya, motif yang muncul tidak selalu seragam. Ada bagian yang menghasilkan cetakan daun dengan jelas, tetapi ada pula yang kurang maksimal. Hal yang sama juga terjadi pada warna yang dihasilkan.
Bagi pelaku usaha, konsistensi merupakan aspek penting. Produk dengan kualitas yang stabil akan lebih mudah dipasarkan dan meningkatkan kepercayaan pelanggan. Sebaliknya, hasil yang terlalu bervariasi dapat mempengaruhi nilai jual produk.
Temuan inilah yang kemudian menjadi perhatian mahasiswa saat memetakan akar persoalan. Mereka melihat bahwa tantangan ecoprint bukan hanya soal kreativitas desain, tetapi juga berkaitan dengan proses produksi yang masih membutuhkan banyak penyempurnaan.

Dokumentasi: Tim Natera saat wawancara bersama
Dari Masalah Menuju Gagasan Solusi
Setelah memahami berbagai kendala yang ada, tim mulai mencari referensi mengenai metode produksi ecoprint yang lebih efektif. Mereka mempelajari berbagai teknik yang digunakan oleh pengrajin maupun inovator lain melalui sumber digital dan dokumentasi daring.
Dari proses tersebut muncul gagasan untuk menggabungkan sistem uap panas (steam) dengan mekanisme press dalam satu alat. Konsep ini diharapkan mampu membantu menjaga kelembaban selama proses berlangsung sekaligus menghasilkan tekanan yang lebih merata pada kain.
“Penggunaan sistem berbasis listrik memungkinkan kondisi proses lebih terkontrol dibandingkan metode konvensional yang memerlukan pemantauan secara terus-menerus”. Ujar salah satu tim saat diwawancara
Meski demikian, mereka menyadari bahwa alat yang dikembangkan masih berada pada tahap awal dan membutuhkan berbagai penyempurnaan sebelum benar-benar dapat diterapkan secara luas oleh pelaku usaha.
Pentingnya Memahami Masalah Sebelum Berinovasi
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu dimulai dari ide besar. Dalam banyak kasus, solusi justru lahir dari kemauan untuk mendengarkan dan memahami persoalan yang dialami masyarakat secara langsung.
“Bagi kami mahasiswa, riset lapangan menjadi tahap yang tidak dapat dilewatkan. Melalui interaksi dengan pelaku usaha, kami memperoleh pemahaman mengenai tantangan produksi yang mungkin tidak terlihat dari luar”. ujar salah satu anggota tim
Pendekatan semacam ini menjadi pengingat bahwa teknologi seharusnya hadir untuk menjawab kebutuhan nyata. Sebelum menciptakan alat atau sistem baru, memahami masalah secara mendalam adalah langkah pertama yang harus dilakukan.
Dari persoalan cuaca, proses manual, hingga kualitas hasil yang belum konsisten, berbagai tantangan yang dihadapi pelaku ecoprint menjadi dasar lahirnya sebuah inovasi. Meskipun masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut, langkah kecil tersebut menunjukkan bagaimana riset lapangan dapat membuka peluang solusi yang lebih tepat sasaran bagi dunia usaha.