
Foto: kompas.id
Di tengah persaingan untuk mendapatkan gelar sebagai pembangun citra, bagi sebagian orang, penghargaan mungkin menjadi tujuan akhir dari sebuah perjalanan. Namun, tidak bagi Sulaiman Sulang, SSos, MAP, atau yang akrab disapa Pak Sule. Penghargaan Kalpataru Jawa Timur yang ia terima pada 2023 hanyalah satu titik dalam perjalanan panjangnya untuk menggerakkan masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan.
Jauh sebelum namanya dikenal sebagai penggiat lingkungan, Sule mengaku tidak memiliki pengetahuan khusus mengenai isu lingkungan. Titik balik itu datang pada 2011, ketika ia mengikuti pelatihan pengelolaan sampah di SMA tempatnya bekerja. Dari sana, pandangannya mulai berubah.
“Awalnya saya juga tidak paham soal lingkungan, saya belajar dari nol. Setelah ikut pelatihan, saya mulai sadar bahwa persoalan sampah ini harus ditangani bersama,” ungkapnya.
Kesadaran tersebut mendorongnya untuk bergerak melalui dunia pendidikan. Saat masih aktif bekerja sebagai Tendik di SMKN 6 Malang, ia menginisiasi program bank sampah di sekolah. Melalui program tersebut, siswa diajak memilah dan mengumpulkan sampah yang kemudian ditabung layaknya uang.
Namun langkah itu tidak selalu mendapat dukungan positif. Sule masih mengingat bagaimana sebagian orang memandang sebelah mata upayanya.
Alih-alih mundur, tanggapan tersebut justru menjadi semangat yang mendorongnya untuk terus bergerak. Ia percaya bahwa perubahan perilaku membutuhkan waktu dan konsistensi. Perlahan, program yang sempat dipandang sebelah mata itu mulai menunjukkan dampaknya. Tidak hanya membantu mengurangi sampah, tetapi juga membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini.
Perjalanan panjang tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Sule juga aktif mengedukasi masyarakat, mendampingi sekolah-sekolah untuk membentuk budaya peduli lingkungan, membentuk Forum Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI), hingga terlibat dalam berbagai program pelestarian lingkungan. Bersama jejaring yang dibangunnya, puluhan ribu pohon juga telah ditanam di berbagai wilayah Jawa Timur.
Baginya, seluruh pencapaian itu tidak pernah didorong oleh keinginan untuk memperoleh penghargaan.
“Saya tidak pernah mengejar penghargaan. Bagi saya yang penting itu bagaimana kita bisa bermanfaat untuk masyarakat dan lingkungan. Kalau kemudian ada penghargaan, itu bonus,” ujarnya.
Penghargaan Kalpataru bagi Sule
Penghargaan Kalpataru yang diterimanya menjadi pengakuan atas kerja keras dan perjuangan panjang yang selama ini dilakukannya secara konsisten. Penghargaan tersebut bukan sekadar simbol keberhasilan individu, melainkan pengingat bahwa perubahan besar sering kali lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.
Di tengah meningkatnya tantangan lingkungan saat ini, Sule juga berharap semakin banyak anak muda yang terlibat dalam gerakan serupa. Menurutnya, menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aktivis, melainkan tanggung jawab bersama.
“Kalau bukan kita yang peduli lingkungan, lalu siapa lagi? Mulainya tidak harus besar. Mulai saja dari diri sendiri dan lingkungan sekitar,” pungkasnya.
Kalpataru mungkin telah menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan Sule. Namun bagi dirinya, perjuangan menjaga lingkungan masih jauh dari selesai. Sebab pada akhirnya, penghargaan terbesar bukanlah trofi atau sertifikat, melainkan ketika semakin banyak orang mulai peduli dan bergerak untuk menjaga bumi tempat mereka hidup.