Siang itu, suasana di sebuah kafe di Kota Malang terasa berbeda dari biasanya. Bukan aroma kopi atau obrolan santai yang menjadi pusat perhatian, melainkan selembar kain bermotif yang sedang dilapisi lilin lebah. Di tangan para peserta, kain tersebut perlahan berubah menjadi beeswax wrap pembungkus makanan ramah lingkungan yang dapat digunakan berulang kali sebagai pengganti plastik sekali pakai.
Di balik kegiatan sederhana itu, ada kolaborasi dua komunitas lingkungan yang memiliki tujuan sama mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, memulai gaya hidup minim sampah. Mereka adalah EPYC Indonesia dan iLitterless.
Bagi sebagian peserta, workshop ini mungkin hanya terlihat sebagai kelas keterampilan. Namun bagi kedua komunitas tersebut, kegiatan ini adalah pintu masuk untuk membangun kesadaran yang lebih besar tentang persoalan sampah yang semakin mendesak.
Ketika Isu Lingkungan Perlu Bahasa yang Lebih Dekat
Selama bertahun-tahun, isu lingkungan sering dianggap rumit dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, sebagian besar persoalan lingkungan justru berawal dari kebiasaan sederhana, seperti penggunaan plastik sekali pakai.
Kesadaran itulah yang mendorong EPYC Indonesia untuk aktif mengedukasi anak muda melalui berbagai kegiatan komunitas. Dalam workshop tersebut, Amalia Zulfa dari EPYC Indonesia menjelaskan bahwa komunitas mereka berfokus pada isu lingkungan yang dekat dengan kehidupan generasi muda, mulai dari gaya hidup hijau hingga persoalan yang lebih luas seperti krisis iklim, polusi, dan sampah.
Alih-alih menggunakan pendekatan yang menggurui, EPYC memilih metode yang lebih relevan dengan keseharian anak muda. Workshop, diskusi santai, hingga aktivitas kreatif menjadi cara untuk menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil.
Salah satunya melalui penggunaan beeswax wrap.
Produk ini dibuat dari kain yang dilapisi lilin lebah sehingga dapat digunakan berulang kali untuk membungkus makanan kering atau buah-buahan. Selain mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, produk tersebut juga memperkenalkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Kolaborasi yang Berangkat dari Misi yang Sama
Workshop ini tidak akan terlaksana tanpa peran iLitterless yang menjadi mitra utama dalam kegiatan tersebut.
Dalam sesi pembukaan, Nina dari iLitterless menjelaskan bahwa organisasinya lahir pada 2021 dengan fokus pada pengelolaan sampah melalui tiga pendekatan utama yaitu edukasi, pengumpulan sampah, dan daur ulang. Mereka bekerja sama dengan puluhan kafe mitra untuk mengumpulkan serta memilah berbagai jenis sampah yang masih memiliki nilai guna.
Kolaborasi dengan EPYC Indonesia muncul dari kesamaan visi bahwa edukasi lingkungan perlu dilakukan secara langsung dan menyenangkan.
Bagi kedua komunitas, workshop bukan hanya tempat berbagi pengetahuan, melainkan ruang pertemuan bagi orang-orang yang ingin mulai menjalani gaya hidup lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
“Fokusnya ada tiga, yaitu edukasi, pengumpulan sampah, dan juga daur ulang,” jelas Nina saat memperkenalkan kegiatan iLitterless kepada peserta.
Kolaborasi semacam ini menjadi penting karena isu lingkungan tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat perlu bergerak bersama agar perubahan yang dihasilkan memiliki dampak yang lebih luas.
Menghubungkan Komunitas, Bisnis, dan Masyarakat
Menariknya, kegiatan tersebut juga melibatkan kafe mitra yang telah bekerja sama dengan iLitterless selama beberapa tahun.
Melalui program pengumpulan dan daur ulang kemasan minuman, sampah yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan kini diolah kembali menjadi produk baru seperti kotak tisu, tatakan gelas, hingga wadah penyimpanan yang digunakan kembali oleh kafe.
Skema ini menunjukkan bahwa ekonomi sirkular bukan sekadar konsep yang dibahas dalam seminar. Ia bisa hadir dalam praktik sehari-hari melalui kerja sama sederhana antara komunitas dan pelaku usaha.
Bagi peserta workshop, melihat langsung contoh nyata tersebut membuat pesan yang disampaikan terasa lebih konkret. Mereka tidak hanya mendengar tentang pentingnya memilah sampah, tetapi juga memahami ke mana sampah itu akan berakhir dan bagaimana proses daur ulang dapat memberi nilai baru.
Perubahan Besar Dimulai dari Kebiasaan Kecil
Di tengah derasnya arus konsumsi dan budaya serba praktis, gaya hidup minim sampah sering dianggap sulit dilakukan. Padahal, sebagian besar peserta workshop justru datang tanpa pengalaman sebelumnya mengenai beeswax wrap maupun praktik zero waste.
Melalui demonstrasi langsung, mereka belajar bahwa mengurangi sampah tidak harus dimulai dengan perubahan drastis. Membawa wadah sendiri, menggunakan pembungkus yang dapat dipakai ulang, atau memilah sampah dari rumah sudah menjadi langkah yang berarti.
Pendekatan inilah yang membuat kegiatan komunitas lingkungan semakin relevan bagi generasi muda. Mereka tidak lagi hanya berbicara tentang ancaman lingkungan di masa depan, tetapi menawarkan solusi yang bisa langsung diterapkan hari ini.
Membangun Gerakan dari Lingkaran Terdekat
Kolaborasi EPYC Indonesia dan iLitterless menunjukkan bahwa edukasi lingkungan paling efektif ketika dilakukan melalui pengalaman langsung dan interaksi antarkomunitas.
Di ruangan itu, para peserta memang pulang membawa beeswax wrap hasil karya mereka sendiri. Namun yang lebih penting, mereka membawa perspektif baru bahwa menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari aksi besar.
Kadang, perubahan dimulai dari selembar kain, sedikit lilin lebah, dan sebuah percakapan sederhana tentang sampah.
Ketika komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat mau duduk bersama dalam satu ruang yang sama, gaya hidup minim sampah tidak lagi terasa sebagai beban. Ia berubah menjadi kebiasaan baru yang tumbuh perlahan dari satu orang ke orang lain, dari satu komunitas ke komunitas berikutnya. Dan dari situlah gerakan lingkungan yang lebih besar mulai terbentuk.