
Dokumentasi: Tim Natera
Malang, — Di tengah maraknya tren kecantikan dan konsumsi produk skincare yang semakin meningkat, komunitas lingkungan iLitterless mengajak anak muda melihat makna kecantikan dari sudut pandang yang berbeda. Melalui kegiatan bertajuk “Beyond Beauty” yang diselenggarakan di Vosco Coffee Malang, peserta diajak memahami hubungan antara industri kecantikan, sampah kemasan, dan pentingnya gaya hidup yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Acara ini merupakan kolaborasi antara iLitterless dan Vosco Coffee yang menghadirkan diskusi interaktif, edukasi pengelolaan sampah, hingga workshop pembuatan bag charm dari limbah plastik HDPE (High Density Polyethylene). Tidak hanya membahas kecantikan dari sisi penampilan, kegiatan ini juga menyoroti bagaimana pilihan konsumsi sehari-hari dapat memberikan dampak bagi keberlanjutan lingkungan.
Krisis Sampah yang Semakin Dekat
Dalam sesi pembukaan, Founder iLitterless, Ence, menjelaskan bahwa persoalan sampah saat ini bukan lagi isu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Menurutnya, kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di berbagai daerah semakin terbatas dan membutuhkan perhatian bersama.
“Kalau TPA sudah penuh, maka setiap rumah harus mengelola sampahnya sendiri. Kalau tidak mampu mengelola, sampah akan menumpuk di depan rumah masing-masing,” ujar Ence.
Ia menjelaskan bahwa iLitterless berawal dari keresahan terhadap persoalan sampah yang terus meningkat, terutama sampah dari aktivitas sehari-hari di kafe, komunitas, dan berbagai kegiatan anak muda. Dari yang awalnya hanya bekerja sama dengan beberapa kafe di Malang, kini jaringan pengelolaan sampah yang mereka bangun telah berkembang hingga puluhan mitra.
Salah satu fokus utama iLitterless adalah pengelolaan kemasan minuman dan produk konsumsi yang sulit didaur ulang, termasuk kotak susu yang memiliki lapisan karton, plastik, dan aluminium foil.
Mengenal Ekonomi Sirkular Melalui Sampah
Dalam pemaparannya, Ence juga memperkenalkan konsep ekonomi sirkular, yaitu sistem yang memungkinkan suatu produk digunakan kembali sehingga tidak langsung berakhir menjadi limbah.
Menurutnya, selama ini masyarakat masih banyak menerapkan pola ekonomi linear, yaitu produksi, konsumsi, lalu dibuang. Padahal, banyak material yang sebenarnya masih memiliki nilai guna jika dikelola dengan tepat.
“Harapannya kita bergerak menuju ekonomi sirkular, sehingga barang yang sudah digunakan bisa kembali menjadi bahan baku baru dan tidak terus-menerus mengambil sumber daya alam,” jelasnya.
Ia mencontohkan bahwa plastik yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi berbagai produk baru seperti tempat sampah, kursi, meja, ember, hingga berbagai perlengkapan rumah tangga lainnya.

Dokumentasi: Tim Natera
Mendobrak Definisi Kecantikan
Selain membahas persoalan lingkungan, acara Beyond Beauty juga menghadirkan diskusi mengenai perubahan standar kecantikan dari masa ke masa. Dalam sesi tersebut, peserta diajak melihat bagaimana definisi cantik terus berkembang mengikuti perubahan sosial dan budaya.
Perwakilan iLitterless menjelaskan bahwa pada masa lalu kecantikan sering dikaitkan dengan status sosial, penampilan fisik, atau standar tertentu yang dibentuk masyarakat. Namun saat ini, kecantikan tidak lagi hanya diukur dari penampilan luar.
Melalui perkembangan media digital dan media sosial, masyarakat memiliki akses yang lebih luas terhadap berbagai tren kecantikan. Di sisi lain, kondisi tersebut juga mendorong meningkatnya konsumsi produk skincare dan kosmetik yang menghasilkan jumlah sampah kemasan cukup besar.
Dalam diskusi tersebut dijelaskan bahwa seorang mahasiswa saja dapat menggunakan belasan produk perawatan diri dalam satu hingga dua bulan. Jika dikalikan dengan jumlah mahasiswa di Kota Malang, angka kemasan yang dihasilkan bisa mencapai jutaan setiap bulannya.
“Kita sering tidak sadar bahwa setiap produk yang kita gunakan memiliki kemasan yang akhirnya menjadi sampah. Padahal kemasan tersebut sebenarnya masih memiliki nilai daur ulang yang tinggi,” ungkap salah satu pemateri.
Mengubah Sampah Menjadi Produk Bernilai
Sebagai bentuk praktik nyata, peserta kemudian mengikuti workshop pembuatan bag charm dari limbah plastik HDPE yang berasal dari tutup botol, botol sabun cair, dan berbagai kemasan plastik lainnya.
Plastik yang telah dibersihkan dan dicacah kemudian dilelehkan menggunakan metode sederhana sebelum dibentuk menjadi aksesori dengan berbagai warna dan desain menarik. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga pengalaman langsung mengenai proses daur ulang plastik.
Bagi iLitterless, edukasi semacam ini menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda. Mereka berharap masyarakat tidak lagi memandang sampah sebagai sesuatu yang tidak berguna, melainkan sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan kembali.
Melalui Beyond Beauty, iLitterless ingin menunjukkan bahwa kecantikan sejati tidak hanya tercermin dari penampilan, tetapi juga dari kepedulian terhadap lingkungan dan keberanian untuk mengambil langkah kecil yang berdampak besar bagi masa depan bumi.