Bank Sampah Sekolah Inisiasi Sulaiman Sulang yang Membantu Siswa Membayar SPP

Sule saat berbagi cerita tentang perjalanan pengelolaan sampah dan gerakan lingkungan yang membawanya dari Kota Malang hingga forum internasional.
Dokumentasi: Tim Natera

MALANG – Sampah sering kali dianggap sebagai barang tidak berguna yang harus segera dibuang. Namun, di tangan Suleman Sulang atau yang akrab disapa Sule, sampah justru menjadi sarana pendidikan sekaligus solusi ekonomi bagi siswa. 

Melalui program Bank Sampah Berbasis Sekolah, Sule berhasil mengubah cara pandang siswa terhadap sampah. Tidak hanya mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan, program ini juga membantu sebagian siswa memperoleh tambahan uang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mereka.

Inovasi tersebut menjadi salah satu program yang mengawali perjalanan Sule sebagai pegiat lingkungan hingga dikenal di berbagai daerah bahkan tingkat internasional.

Berangkat dari Realitas Siswa yang Kesulitan Membayar SPP

Sule mengisahkan bahwa ide mendirikan Bank Sampah Sekolah muncul ketika dirinya melihat kondisi sejumlah siswa yang mengalami kesulitan ekonomi.

Saat itu, masih banyak siswa yang menunggak pembayaran sekolah hingga akhirnya tidak dapat mengambil ijazah setelah lulus. Kondisi tersebut membuatnya berpikir bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pendidikan.

“Saya melihat ada siswa yang kesulitan membayar biaya sekolah. Akhirnya saya berpikir, apakah sampah ini bisa menjadi solusi sekaligus media edukasi,” ujarnya.

Dari pemikiran sederhana tersebut, lahirlah program Bank Sampah Berbasis Sekolah pada tahun 2012. Program itu mengajak siswa mengumpulkan sampah bernilai ekonomis dari rumah untuk kemudian ditimbang dan diuangkan oleh pihak sekolah.

Bagi Sule, tujuan utama program tersebut bukan sekadar menghasilkan uang, melainkan menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia sekolah.

Mengubah Sampah Menjadi Nilai Ekonomi

Konsep yang diterapkan dalam Bank Sampah Sekolah sebenarnya cukup sederhana. Sekolah menyediakan sistem transaksi layaknya perbankan, namun yang disetorkan bukan uang, melainkan sampah yang telah dipilah.

Siswa membawa berbagai jenis sampah seperti koran bekas, botol plastik, kardus, maupun kertas yang masih memiliki nilai jual. Setelah ditimbang, sampah tersebut langsung dihargai sesuai jenis dan beratnya.

“Misalnya siswa membawa lima kilogram koran. Kalau harga per kilogram lima ribu rupiah, maka mereka langsung menerima dua puluh lima ribu rupiah,” jelasnya.

Sampah yang telah terkumpul kemudian dijual kembali kepada pihak ketiga atau pengepul dengan harga yang sedikit lebih tinggi. Selisih keuntungan tersebut digunakan untuk mendukung operasional bank sampah di sekolah.

Melalui sistem ini, siswa tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga belajar mengenai konsep pengelolaan sampah, ekonomi sirkular, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Memilah sampah bersama siswa-siswi sma
Dokumentasi: Instagram @mr_sule

Edukasi Perubahan Perilaku Sejak Dini

Meski sering dikaitkan dengan manfaat finansial, Sule menegaskan bahwa tujuan terbesar dari Bank Sampah Sekolah adalah membentuk perubahan perilaku siswa.

Menurutnya, kebiasaan membuang sampah sembarangan harus dicegah sejak dini. Sekolah menjadi tempat yang strategis untuk membangun kesadaran tersebut karena siswa menghabiskan banyak waktu di lingkungan pendidikan.

“Kalau sejak kecil mereka terbiasa memilah sampah dan memahami nilainya, sampai dewasa mereka akan lebih peduli terhadap lingkungan,” katanya.

Ia mengakui bahwa pada awal pelaksanaannya tidak sedikit pihak yang mempertanyakan program tersebut. Bahkan ada yang menilai siswa diajarkan menjadi pemulung karena diminta mengumpulkan sampah.

Namun kritik tersebut tidak menghentikan langkahnya. Baginya, siswa justru sedang belajar memahami bahwa sampah bukan sesuatu yang harus dibuang sembarangan.

“Saya tidak mengajarkan anak menjadi pemulung. Saya mengajarkan mereka bahwa sampah bisa dikelola dengan benar dan memiliki nilai,” tegasnya.

Pendekatan tersebut perlahan membuahkan hasil. Siswa mulai terbiasa memilah sampah dan lebih sadar terhadap kebersihan lingkungan sekolah maupun rumah.

Menginspirasi Sekolah Lain di Kota Malang

Keberhasilan program Bank Sampah Sekolah membuat konsep tersebut mulai dikenal luas. Banyak sekolah yang kemudian tertarik menerapkan sistem serupa setelah melihat manfaat yang dirasakan siswa.

Menurut Sule, saat ini sebagian besar sekolah di Kota Malang telah memiliki program bank sampah dalam berbagai bentuk. Beberapa di antaranya bahkan mengembangkan inovasi sendiri sesuai kebutuhan masing-masing.

Tidak hanya berhenti di lingkungan sekolah, edukasi pengelolaan sampah yang dilakukan Sule juga berkembang ke tingkat masyarakat melalui bank sampah berbasis komunitas.

Ia aktif memberikan pendampingan secara gratis kepada sekolah maupun kelompok masyarakat yang ingin membangun sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.

“Kalau masyarakat paham bahwa sampah punya nilai, maka jumlah sampah yang dibuang sembarangan juga akan berkurang,” ujarnya.

Dari Program Sederhana Menjadi Gerakan Lingkungan

Bagi Sule, Bank Sampah Sekolah bukan sekadar program lingkungan, melainkan gerakan sosial yang menyentuh banyak aspek kehidupan.

Program tersebut membantu siswa yang membutuhkan, meningkatkan kesadaran lingkungan, sekaligus mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Lebih dari satu dekade setelah pertama kali dijalankan, gagasan sederhana itu masih terus menginspirasi banyak pihak. Dari tumpukan sampah yang sering dianggap tidak berharga, Sule menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil di lingkungan sekolah.

“Lingkungan yang bersih itu berawal dari kebiasaan. Kalau anak-anak sudah terbiasa peduli sejak sekolah, dampaknya akan terasa sampai masa depan,” pungkasnya.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.