
Dokumentasi: Instagram @mr_sule
Malang, Natera.id – Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, berkurangnya ruang hijau, hingga kualitas udara yang terus menurun, menanam pohon menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan. Kesadaran inilah yang melatarbelakangi lahirnya gerakan Sedekah Oksigen, sebuah inisiatif penghijauan yang dipelopori oleh Sule dengan mengajak masyarakat berpartisipasi dalam aksi nyata menjaga bumi melalui penanaman pohon.
Gerakan tersebut tidak hanya berfokus pada penanaman ribuan bibit, tetapi juga membangun kesadaran bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berkontribusi terhadap lingkungan. Melalui konsep Sedekah Oksigen, masyarakat diajak melihat bahwa satu pohon yang ditanam hari ini akan memberikan manfaat bagi banyak orang dalam jangka waktu yang panjang.
Berawal dari Edukasi Sampah hingga Penghijauan
Sebelum dikenal melalui gerakan penanaman pohon, Sule lebih dahulu aktif melakukan edukasi mengenai pengelolaan sampah kepada masyarakat, sekolah, hingga berbagai komunitas. Namun, ketika pandemi COVID-19 membatasi berbagai kegiatan tatap muka, ia mulai memikirkan bentuk edukasi lingkungan yang tetap dapat dilakukan dengan aman sekaligus memberikan dampak jangka panjang.
Momentum tersebut kemudian melahirkan gerakan Sedekah Oksigen pada tahun 2020. Saat itu, Pemerintah Kota Malang memberikan dukungan berupa sekitar 11 ribu bibit pohon pule yang kemudian ditanam bersama masyarakat di berbagai wilayah. Seiring berjalannya waktu, gerakan ini terus berkembang hingga menjangkau Malang Raya, Pasuruan, Surabaya, Jember, Trenggalek, Yogyakarta, hingga Bali.
Konsistensinya dalam membagikan dan menanam pohon pule bahkan membuat banyak masyarakat mengenalnya dengan sebutan “Pak Pule”. Meski demikian, bagi Sule, julukan tersebut bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa penghijauan merupakan tanggung jawab bersama.
“Saya mengajak masyarakat, ayo kita tanam pohon, ayo kita pilah sampah, ayo kita konservasi air. Ketika saya mendapat apresiasi, itu tidak saya simpan sendiri, tetapi saya putar kembali menjadi aksi lingkungan,”ujar Sule.
Menanam Pohon sebagai Investasi Kehidupan
Selama lebih dari tiga tahun berjalan, gerakan Sedekah Oksigen telah berhasil menanam sekitar 30 ribu pohon di berbagai daerah. Seluruh proses dilakukan secara terencana, mulai dari survei lokasi, koordinasi dengan pemerintah desa, pendataan titik tanam, hingga dokumentasi perkembangan pohon agar manfaatnya dapat dipantau dalam jangka panjang.
Menurut Sule, menanam pohon bukan sekadar memperbanyak ruang hijau. Pohon memiliki peran penting dalam menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, menjaga kualitas tanah, mengurangi risiko banjir, hingga mempertahankan debit sumber mata air.
Salah satu lokasi yang menjadi fokus gerakan ini adalah kawasan resapan air. Di salah satu titik konservasi, sekitar 3.000 pohon telah ditanam untuk membantu menjaga sumber mata air yang debitnya terus mengalami penurunan akibat perubahan fungsi lahan menjadi kawasan permukiman. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mengantisipasi dampak perubahan iklim yang semakin terasa.
Tidak hanya melakukan penanaman, setiap kegiatan juga melibatkan masyarakat sekitar agar pohon yang telah ditanam dapat dirawat bersama. Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan rasa memiliki sehingga tingkat keberhasilan penghijauan menjadi lebih tinggi dibandingkan jika hanya dilakukan secara seremonial.

Dokumentasi: Instagram @mr_sule
Kolaborasi Menjadi Kunci Gerakan Lingkungan
Sule meyakini bahwa persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu individu maupun satu komunitas saja. Dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak agar setiap gerakan memiliki dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.
Karena itu, setiap kegiatan selalu melibatkan pemerintah daerah, akademisi, komunitas lingkungan, media, pelaku usaha, tokoh masyarakat, hingga relawan dari berbagai kalangan. Menurutnya, kerja sama lintas sektor menjadi fondasi penting dalam membangun budaya peduli lingkungan.
“Masalah lingkungan harus bergandeng tangan. Kalau saya mengkritik, saya juga ikut membantu dengan edukasi. Saya mengajak masyarakat memilah sampah, membuat bank sampah, dan menanam pohon,” kata Sule.
Gerakan Sedekah Oksigen juga selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-13 mengenai penanganan perubahan iklim dan poin ke-15 tentang pelestarian ekosistem daratan. Melalui penghijauan, konservasi air, serta edukasi lingkungan, gerakan ini berupaya menghadirkan solusi yang dapat dilakukan langsung oleh masyarakat.
Sedekah Oksigen, Warisan untuk Generasi Mendatang
Bagi Sule, istilah Sedekah Oksigen dipilih karena menggambarkan manfaat pohon yang akan terus dirasakan dalam waktu yang sangat lama. Seseorang mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk menanam bibit, tetapi pohon tersebut dapat menghasilkan oksigen, menyerap karbon, menjaga kesuburan tanah, serta menjadi habitat berbagai makhluk hidup selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Nilai inilah yang ingin ditanamkan kepada masyarakat, bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus dimulai dari aksi besar. Menanam satu pohon, memilah sampah dari rumah, hingga menjaga sumber air merupakan bentuk kontribusi nyata yang dapat dilakukan oleh siapa saja.
Hingga kini, sekitar 30 ribu pohon telah menjadi saksi bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten. Di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks, gerakan Sedekah Oksigen menunjukkan bahwa kolaborasi, kepedulian, dan aksi nyata masyarakat mampu menjadi harapan baru bagi kelestarian lingkungan.
Melalui gerakan ini, Sule berharap semakin banyak orang menyadari bahwa bumi bukan sekadar tempat tinggal yang diwariskan oleh generasi sebelumnya, melainkan titipan yang harus dijaga bersama untuk generasi yang akan datang. Sebab, setiap pohon yang ditanam hari ini bukan hanya menghadirkan keteduhan, tetapi juga menjadi sedekah yang manfaatnya akan terus mengalir melalui udara bersih yang dihirup oleh banyak kehidupan.