
Perjuangan lingkungan tidak selalu dilakukan dengan menanam pohon atau membersihkan sungai. Bagi Sulaiman Sulang, menjaga lingkungan juga bisa dilakukan melalui tulisan yang ia buktikan dengan ciptakan 44 buku tentang kesadaran lingkungan.
Sebagai penggiat lingkungan ia aktif dalam mendampingi masyarakat untuk mengelola sampah, menggerakkan aksi tanam pohon, dan mengedukasi sekolah. Pria yang akrab disapa Pak Sule itu juga punya cara lain untuk menyebarkan kepedulian terhadap lingkungan selain dengan aksi, yaitu menulis buku.
Bagi Pak Sule, menulis bukan sekadar menuangkan ide, namun juga menjadi upaya untuk memastikan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya dapat terus hidup dan menjangkau lebih banyak orang.
“Saya menulis karena ingin berbagi pengalaman. Tidak semua orang bisa hadir dalam pelatihan atau kegiatan lingkungan, tetapi mereka bisa belajar lewat buku,” ujarnya.
Menariknya, perjalanan menulis itu berawal dari kegelisahan pribadinya. Selama bertahun-tahun mendampingi sekolah dan masyarakat, Pak Sule menemukan banyak praktik baik yang sering kali hilang begitu saja karena tidak terdokumentasikan. Padahal, menurutnya, pengalaman lapangan menyimpan banyak pelajaran yang dapat diterapkan di tempat lain.
Melalui buku-bukunya, ia mendokumentasikan berbagai isu lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah, pendidikan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, hingga praktik-praktik sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga alam sekitar.
Baginya, perubahan perilaku tidak bisa terjadi hanya melalui imbauan sesaat. Kesadaran lingkungan perlu terus ditanamkan melalui berbagai cara, termasuk literasi.
“Kalau hanya ceramah, orang mungkin lupa. Tapi kalau ditulis, ilmunya bisa dibaca kembali, dibagikan, dan dimanfaatkan oleh orang lain,” katanya.
Di tengah era digital yang serba cepat, langkah Pak Sule mungkin terdengar tidak efektif. Namun, di situlah letak keunikannya. Saat banyak informasi bisa datang dan pergi dalam hitungan detik, buku justru menjadi medium yang mampu menyimpan pengetahuan dalam jangka panjang.
Buku-buku yang ditulisnya juga menjadi pelengkap dari berbagai gerakan lingkungan yang selama ini ia jalankan. Apa yang ia lakukan di lapangan tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi, melainkan diubah menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari oleh masyarakat luas.
Bagi Pak Sule, menjaga lingkungan bukan hanya soal aksi, tetapi juga soal mewariskan pemahaman kepada generasi berikutnya. Sebab tanpa pengetahuan, perubahan yang dibangun hari ini berisiko berhenti di tengah jalan.
“Harapan saya sederhana, semoga semakin banyak orang yang peduli lingkungan dan mau melakukan perubahan dari hal-hal kecil di sekitarnya,” tuturnya.
Pada akhirnya, saat sebagian orang memilih menanam pohon untuk menghijaukan bumi, Pak Sule memilih menanam gagasan melalui tulisan. Jika pohon membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh besar, begitu juga dengan kesadaran lingkungan. Bedanya, benih yang ia tanam bukan berada di tanah, melainkan di halaman-halaman buku yang terus mengajak pembacanya untuk lebih peduli terhadap bumi.