
Foto: dokumentasi pribadi/natera
Memperkenalkan cara membuat bungkus ramah lingkungan dari lilin dan lebah EPYC (Environmental Proactive Youth Community Indonesia) dan Ilitterless menggelar diskusi bertajuk Workshop Beeswax Wrap yang digelar di Equal Coffee, Malang (20/06/26). Tidak hanya mendengarkan paparan materi, peserta diajak merasakan langsung proses membuat beeswax wrap, pembungkus makanan berbahan kain dan lilin lebah yang dapat digunakan berulang kali sebagai alternatif pengganti plastik sekali pakai.
Di awal kegiatan, peserta dikenalkan dengan konsep gaya hidup ramah lingkungan melalui kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan beralih dari plastik wrap menuju beeswax wrap yang lebih memiliki sifat berkelanjutan.
Amalia Zulfa dari EPYC. menjelaskan bahwa beeswax wrap merupakan kain yang dilapisi lilin lebah sehingga memiliki sifat lentur sekaligus aman digunakan untuk membungkus makanan. Menurutnya, penggunaan beeswax wrap menjadi salah satu solusi sederhana untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai.
“Secara sederhananya beeswax wrap ini adalah wrap atau kemasan yang berasal dari kain kemudian dilapisi sama lilin lebah. Dia bisa dijadikan alternatif dari plastik wrap karena lebih sustain,” jelas Amalia.
Tak berhenti pada penjelasan mengenai fungsi dan manfaatnya, peserta juga diajak mengenali karakteristik beeswax wrap, mulai dari makanan yang dapat dibungkus, cara merawatnya, hingga masa pakainya yang dapat bertahan sekitar enam hingga dua belas bulan, tergantung intensitas penggunaan.
Menariknya, sesi praktik menjadi bagian yang paling dinantikan. Setelah memahami teori dasar, peserta mulai mengenal bahan-bahan yang digunakan sebelum mencoba membuat beeswax wrap secara mandiri. Mereka belajar bagaimana lilin lebah diaplikasikan pada kain hingga menghasilkan pembungkus makanan yang fleksibel dan siap digunakan.
Amalia juga menunjukkan bahwa beeswax wrap tidak harus langsung dibuang ketika lapisan lilinnya mulai menipis. Peserta justru diajarkan cara memperbarui lapisan tersebut agar dapat digunakan kembali.
Teman-teman juga bisa nambahin lilinnya sendiri pakai lilin yang sama. Nanti dipanasin, diolesin lagi, nanti dia akan jadi kayak baru lagi,” ungkapnya.
Melalui praktik langsung ini, peserta tidak hanya memahami konsep keberlanjutan secara teori, tetapi juga memperoleh keterampilan yang dapat diterapkan di rumah. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana, termasuk membuat sendiri pembungkus makanan yang lebih aman bagi lingkungan.
Workshop ini menjadi contoh bahwa edukasi lingkungan akan terasa lebih bermakna ketika peserta dilibatkan secara langsung dalam prosesnya. Dari selembar kain dan lapisan lilin lebah, peserta belajar bahwa mengurangi sampah plastik bukanlah sesuatu yang rumit, melainkan kebiasaan kecil yang dapat dimulai dari dapur sendiri.