GungEndah mengajak Mengubah Cara Pandang Masyarakat terhadap Sampah Organik

Setiap tong fermentasi eco enzyme dilengkapi catatan komposisi bahan dan waktu fermentasi sebagai bentuk dokumentasi sekaligus memastikan proses pengolahan limbah organik berjalan sesuai tahapan.
Dokumentasi: Tim Natera

Malang – Di banyak rumah, kulit buah, sisa sayuran, hingga nasi basi masih dianggap sebagai sampah yang harus segera dibuang. Padahal, di balik tumpukan limbah organik tersebut tersimpan potensi besar yang sering kali luput dari perhatian. Bagi Gungendah, Founder sekaligus Mentor Eco Enzyme Batu, persoalan utama bukan terletak pada banyaknya sampah organik yang dihasilkan masyarakat, melainkan pada cara pandang yang selama ini menganggap sampah sebagai sesuatu yang tidak lagi memiliki nilai.

Berawal dari Rasa Penasaran terhadap Limbah Dapur

Sejak Januari 2020, Gungendah mulai mengenal eco enzyme ketika mencari cara membuat pupuk untuk tanaman yang dibudidayakan. Dari sebuah komunitas daring, ia mengetahui bahwa limbah dapur seperti kulit buah dan sayur ternyata dapat difermentasi menjadi cairan yang memiliki banyak manfaat. Penemuan itu mengubah cara pandangnya terhadap sampah.

“Saya jatuh hati sama eco enzyme karena ternyata manfaatnya bukan hanya untuk pupuk, tetapi juga bisa membantu mengurangi sampah organik yang selama ini langsung dibuang,” ungkapannya GungEndah.

Berangkat dari rasa penasaran, Gungendah mulai mempelajari proses pembuatannya secara mandiri. Ia aktif bertanya kepada mentor, menyusun modul pembelajaran, hingga ikut mengajar kelas daring bersama relawan dari berbagai daerah. Saat pandemi COVID-19 melanda, minat masyarakat terhadap pembelajaran daring meningkat. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk memperluas edukasi mengenai pengelolaan sampah organik melalui kelas WhatsApp yang diikuti peserta dari berbagai wilayah di Indonesia.

Edukasi Eco Enzyme Tidak Selalu Diterima dengan Mudah

Namun, memperkenalkan eco enzyme ternyata bukan perkara mudah. Ketika mulai melakukan sosialisasi di Kota Batu, ia kerap menghadapi penolakan. Banyak masyarakat menganggap metode tersebut terlalu baru dan belum terbukti manfaatnya. Bahkan, ia harus berjuang sendiri mendatangi berbagai instansi agar gagasan tersebut mendapatkan ruang.

“Saya berpikir, ini kan sesuatu yang baik. Kenapa ditolak? Tapi saya tidak pernah berhenti mengajak orang. Saya percaya kalau ingin ada perubahan, harus terus mencoba,” katanya.

Kesempatan itu akhirnya datang ketika ia bertemu dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu. Dari pertemuan tersebut lahir berbagai program edukasi yang melibatkan bank sampah, kader lingkungan, hingga kelompok PKK. Menurut Gungendah, perubahan perilaku masyarakat tidak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan orang-orang yang mampu menjadi penggerak di lingkungannya masing-masing agar edukasi dapat terus berlanjut.

Membangun Perubahan Melalui Praktik dan Pendekatan Kreatif

Pendekatan yang dilakukan pun tidak sekadar memberikan teori. Setiap sosialisasi selalu diikuti praktik langsung membuat eco enzyme. Dengan cara tersebut, masyarakat tidak hanya memahami konsepnya, tetapi juga memperoleh pengalaman mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Meski begitu, tantangan terbesar justru datang setelah latihan selesai. Tidak sedikit peserta yang memilih meminta produk jadi dibanding mencoba membuatnya sendiri. Kondisi tersebut membuat Gungendah mengubah strategi edukasi.

Ia kemudian membuka kelas pembuatan sabun berbahan eco enzyme secara gratis, tetapi dengan satu syarat: peserta harus terlebih dahulu membuat eco enzyme berdasarkan modul yang telah disusun.

“Orang lebih tertarik belajar bikin sabun daripada bikin eco enzyme. Akhirnya saya jadikan kelas sabun sebagai pemantik supaya mereka mau mengolah sampah organiknya terlebih dahulu,” jelasnya.

Strategi sederhana itu berhasil mendorong lebih banyak orang mulai memanfaatkan limbah dapur daripada langsung membuangnya. Bagi Gungendah, mengubah kebiasaan masyarakat memang membutuhkan pendekatan yang kreatif dan bertahap.

Pencatatan jenis limbah organik, takaran bahan, dan tanggal pembuatan menjadi bagian penting dalam proses fermentasi eco enzyme agar hasil yang diperoleh dapat dipantau selama masa pengolahan.
Dokumentasi: Tim Natera

Mengubah Kebiasaan Masyarakat Dimulai dari Rumah Tangga

Perjalanan edukasi tersebut terus berkembang. Berawal dari grup kecil, kini ribuan peserta dari berbagai daerah bergabung dalam kelas-kelas pembelajaran yang ia kelola. Menurutnya, penyebaran informasi tidak lagi bergantung pada promosi besar-besaran di media sosial. Sebagian besar peserta justru datang melalui rekomendasi dari orang-orang yang telah merasakan manfaat eco enzyme.

Selain mengedukasi masyarakat, Gungendah juga aktif mendampingi pengelolaan sampah di Kota Batu. Bersama DLH, ia pernah terlibat dalam penyemprotan eco enzyme di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk membantu mengurangi bau menyengat. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga.

Menurutnya, persoalan terbesar saat ini bukan kurangnya teknologi, melainkan belum terbentuknya kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Karena itu, ia terus mendorong masyarakat agar tidak lagi menganggap sampah organik sebagai limbah yang menjijikkan.

Salah satu cara yang ia perkenalkan adalah merendam sisa makanan menggunakan larutan eco enzyme sebelum diangkut ke tempat pengolahan. Cara tersebut membantu mengurangi bau, mencegah datangnya lalat, sekaligus mempermudah proses pengomposan.

“Banyak orang bilang itu terlalu sulit. Tapi kalau sejak awal kita sudah pesimis, bagaimana mungkin bisa membuat perubahan?” ujarnya.

Bagi Gungendah, perubahan besar selalu diawali dari langkah sederhana. Ketika masyarakat mulai terbiasa memilah kulit buah, sisa sayuran, dan limbah organik lainnya, mereka sebenarnya sedang membangun kebiasaan baru yang berdampak bagi lingkungan.

Mengubah cara pandang terhadap sampah organik memang tidak bisa dilakukan dalam semalam. Namun, melalui edukasi yang konsisten, pendampingan yang berkelanjutan, dan kemauan untuk terus mencoba, sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai perlahan dapat berubah menjadi sumber manfaat bagi manusia maupun lingkungan.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.