
Dokumentasi: Tim Natera
Malang — Persoalan sampah organik masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah. Di sisi lain, sebagian besar limbah dapur seperti kulit buah dan sayuran sebenarnya memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat. Berangkat dari kondisi tersebut, Carlo Institute Green Living menggelar Webinar Nasional bertajuk “Mengungkap Potensi Eco Enzyme Mendukung Pertanian & Peternakan” sebagai ruang belajar bersama mengenai pengelolaan sampah organik yang mudah diterapkan oleh masyarakat.
Webinar yang menghadirkan Founder Eco Enzyme Batu, Gung Endah Tuti Rahayu, tidak hanya membahas cara membuat eco-enzyme, tetapi juga menekankan pentingnya membangun kesadaran lingkungan melalui perubahan kebiasaan sehari-hari. Bagi Gung Endah, eco-enzyme bukan sekadar cairan hasil fermentasi, melainkan pintu masuk untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap sampah yang dihasilkan setiap hari.
Edukasi Lingkungan Dimulai dari Sampah Dapur
Dalam pemaparannya, Gung Endah menjelaskan bahwa eco-enzyme merupakan larutan hasil fermentasi kulit buah dan sayuran segar menggunakan gula dan air selama tiga bulan dengan perbandingan 1 bagian gula, 3 bagian bahan organik, dan 10 bagian air. Menurutnya, formula tersebut merupakan standar yang tidak perlu diubah karena telah melalui proses penelitian yang panjang.
Ia menilai, keistimewaan eco-enzyme bukan hanya terletak pada manfaatnya yang beragam, tetapi juga karena proses pembuatannya sederhana, murah, dan dapat dilakukan siapa saja di rumah.
“Yang terpenting sebenarnya adalah kita belajar mengolah sampah. Kalau kesulitan mendapatkan jenis gula tertentu, yang utama tetap bagaimana sampah organik itu tidak berakhir di tempat pembuangan,” jelasnya saat sesi pemaparan materi.
Melalui webinar ini, peserta diajak memahami bahwa pengelolaan sampah tidak selalu membutuhkan teknologi rumit. Limbah dapur yang selama ini dianggap tidak berguna justru dapat diubah menjadi produk ramah lingkungan yang memiliki banyak fungsi.

Dokumentasi: Tim Natera
Webinar Menjadi Ruang Belajar yang Mudah Diakses
Sebagai mentor eco-enzyme tingkat nasional, Gung Endah telah mengedukasi masyarakat melalui berbagai komunitas, grup pembelajaran, hingga webinar daring. Pendekatan ini dinilai mampu menjangkau lebih banyak peserta dari berbagai daerah tanpa harus bertemu secara langsung.
Dalam webinar tersebut, peserta tidak hanya memperoleh materi dasar mengenai eco-enzyme, tetapi juga diberikan kesempatan berdiskusi secara interaktif mengenai proses fermentasi, bahan yang dapat digunakan, hingga pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa peserta mengajukan pertanyaan mengenai bahan baku yang tepat, jenis wadah fermentasi, hingga waktu panen eco-enzyme. Seluruh pertanyaan dijawab secara rinci agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki bekal untuk mempraktikkannya secara mandiri di rumah.
Pendekatan dialog seperti ini membuat webinar tidak berhenti sebagai kegiatan berbagi informasi, melainkan menjadi ruang belajar yang mendorong masyarakat berani mencoba mengolah sampah organiknya sendiri.
Mengubah Pola Pikir tentang Sampah Organik
Selain menjelaskan aspek teknis, Gung Endah juga menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap sampah organik. Menurutnya, kulit buah dan sisa sayuran bukan lagi limbah yang harus segera dibuang, melainkan sumber daya yang masih memiliki nilai apabila dikelola dengan benar.
Ia mengingatkan bahwa proses membuat eco-enzyme sebaiknya dilakukan dengan penuh semangat karena tujuan utamanya adalah menjaga bumi. Bahkan, ia mengajak masyarakat untuk melihat sampah sebagai “anugerah” yang dapat memberikan manfaat ketika berada di tangan orang yang tepat.
Pandangan tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam webinar. Perubahan perilaku masyarakat tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dapat tumbuh dari aktivitas sederhana seperti memilah sampah dan memanfaatkan limbah organik yang tersedia di rumah.
Dari Edukasi Menuju Gerakan Lingkungan
Melalui penyelenggaraan webinar nasional ini, Carlo Institute Green Living menunjukkan bahwa edukasi memiliki peran penting dalam membangun kepedulian lingkungan. Dengan memanfaatkan platform digital, informasi mengenai pengelolaan sampah organik dapat menjangkau lebih banyak kalangan, mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswa, komunitas lingkungan, hingga pelaku pertanian dan peternakan.
Semakin banyak masyarakat memahami cara mengolah sampah organik, semakin besar pula peluang berkurangnya volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Eco-enzyme pada akhirnya bukan hanya menghasilkan cairan multifungsi, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran bahwa setiap orang memiliki peran dalam menjaga lingkungan.
Melalui webinar seperti ini, perubahan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan, melainkan berkembang menjadi kebiasaan baru yang dimulai dari rumah. Ketika semakin banyak orang memilih mengolah daripada membuang sampah organik, langkah kecil itu akan menjadi bagian dari gerakan bersama menuju lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.