Dari Observasi hingga Prototype, Begini Proses Pengembangan Steam Press Ecoprint

Kelompok Mahasiswa Teknik Industri saat mempraktikkan alat Steam Press Ecoprint
Foto: agroredaksi.com

Sebuah inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium canggih. Terkadang, ia bermula dari perjalanan sederhana menyambangi pelaku usaha, mendengar keluhan, lalu mencoba merangkai solusi. Itulah proses yang dilalui sekelompok mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat mengembangkan Steam Press Ecoprint, sebuah alat yang dirancang untuk membantu proses produksi kain ecoprint menjadi lebih efisien.

Perjalanan mereka dimulai dari tugas mata kuliah yang mengharuskan mahasiswa melakukan observasi langsung ke UMKM. Tak hanya mencari ide di atas meja, tim memilih terjun ke lapangan untuk memahami persoalan yang benar-benar dialami pelaku usaha.

“Awalnya itu kan emang dari tugas matkul disuruh riset ke UMKM. Suruh cari-cari UMKM kecil yang sekiranya itu kita bisa bantuin buat cari inovasinya,” ujar Andin, salah satu anggota tim.

Pencarian tersebut membawa mereka ke sebuah UMKM ecoprint di Bululawang. Dari hasil diskusi dengan pemilik usaha, mereka menemukan bahwa proses produksi masih bergantung pada cuaca. Ketika musim hujan datang, pengeringan kain menjadi lebih sulit sehingga produktivitas ikut menurun. Di sisi lain, proses pencetakan motif daun masih dilakukan secara manual sehingga hasil tekanan pada kain belum selalu merata.

Berbekal temuan tersebut, tim mulai menyusun konsep alat yang mampu menggabungkan proses penguapan dan pengepresan dalam satu sistem. Mereka kemudian mencari berbagai referensi untuk memahami metode produksi ecoprint yang sudah ada.

“Terus aku cari-cari di YouTube sih, metode apa saja sih yang biasanya. Terus aku lihat itu ada anak sekolah pakai setrika. Jadi itu kan panas bisa ya, dari situ panas dan uap kita gabungin,” tutur Andin.

Konsep tersebut kemudian berkembang menjadi Steam Press Ecoprint, alat yang memanfaatkan uap untuk menjaga kelembapan kain sekaligus sistem press agar tekanan pada motif daun menjadi lebih merata.

“Sebenarnya steam-nya itu buat biar kainnya kelembapannya terkontrol. Kalau pakai metode yang biasa saja kita harus pantau terus. Kadang bisa naik turun. Kalau pakai ini kan enggak karena kita pakai listrik,” jelasnya.

Namun, merancang konsep hanyalah awal dari perjalanan. Tantangan berikutnya adalah mewujudkan ide tersebut menjadi sebuah prototipe. Keterbatasan waktu dan biaya membuat tim mengurungkan rencana menggunakan jasa vendor. Sebagai gantinya, mereka memilih merakit alat secara mandiri.

“Seharusnya vendor ya. Tapi kemarin karena udah mepet, terus uangnya juga udah ini. Yaudah kita beli alat, ini kan dari alat sablon press-nya. Jadi sablon bekas, kita cari-cari yang bekas. Terus sama steam-nya kita beli,” ungkap Andin.

Meski menggunakan komponen sederhana, proses perakitan tetap membutuhkan berbagai penyesuaian agar mesin press dan perangkat steam dapat bekerja dalam satu sistem. Seluruh biaya pengembangan pun sebagian besar ditanggung sendiri oleh anggota tim dengan memanfaatkan komponen bekas untuk menekan pengeluaran.

Hasilnya memang belum sempurna. Steam Press Ecoprint masih berstatus prototipe dan membutuhkan sejumlah penyempurnaan, terutama terkait konsumsi daya listrik agar lebih sesuai dengan kebutuhan UMKM. Namun, bagi tim pengembang, proses tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan berinovasi.

Karena kita yang buat, jadi kita tahu kurangnya di mana,” kata Andin.

Bagi mereka, nilai sebuah inovasi tidak hanya terletak pada alat yang berhasil diciptakan, tetapi juga pada keberanian untuk memulai dari masalah nyata, bereksperimen dengan berbagai kemungkinan, dan terus menyempurnakan solusi. Dari sebuah tugas kuliah, lahirlah pengalaman merancang teknologi yang berpotensi menjawab kebutuhan industri kreatif berbasis lingkungan di masa depan.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.