
Foto: Team UMM
Kain ecoprint yang dihiasi motif dedaunan alami, sering kali menyimpan tantangan yang tak mudah bagi pelaku usaha. Proses produksi yang masih bergantung pada cuaca, teknik manual, hingga hasil cetakan yang tidak selalu konsisten menjadi hambatan yang kerap dihadapi UMKM ecoprint. Berangkat dari persoalan tersebut, sekelompok mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Steam Press Ecoprint, sebuah inovasi yang dirancang untuk membantu proses produksi menjadi lebih efisien sekaligus mendukung praktik ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Ide pengembangan alat ini tidak muncul begitu saja. Semuanya berawal dari tugas mata kuliah yang mengharuskan mahasiswa melakukan riset langsung ke UMKM untuk menemukan persoalan nyata di lapangan. Andin, anggota tim mengaku memilih UMKM ecoprint di Bululawang sebagai lokasi observasi setelah melihat potensi usaha tersebut.
“Awalnya itu kan emang dari tugas matkul disuruh riset ke UMKM. Suruh cari-cari UMKM kecil yang sekiranya itu kita bisa bantuin buat cari inovasinya,” ungkapnya.
Dari hasil observasi, mereka menemukan bahwa produksi ecoprint masih sangat dipengaruhi musim. Saat musim hujan, proses pengeringan menjadi lebih sulit sehingga menghambat produktivitas. Selain itu, proses pencetakan motif daun yang masih dilakukan secara manual membuat hasil warna dan tekanan pada kain kurang merata.
Berangkat dari permasalahan tersebut, mereka merancang Steam Press Ecoprint dengan menggabungkan sistem uap (steam) dan mesin press. Menurutnya, teknologi ini mampu membantu menjaga kelembapan kain agar tetap stabil selama proses produksi.
“Sebenarnya steam-nya itu buat biar kainnya kelembapannya terkontrol. Kalau pakai metode yang biasa saja kita harus pantau terus. Kadang bisa naik turun. Kalau pakai ini kan enggak karena kita pakai listrik,” jelas Andin.
Tak hanya itu, sistem press juga dirancang agar tekanan pada kain lebih merata sehingga motif daun dapat tercetak lebih optimal. Inovasi ini diharapkan mampu mengurangi ketidakkonsistenan hasil yang sering muncul pada proses manual.
Proses pengembangannya pun tidak mudah. Dengan keterbatasan waktu dan biaya, tim memutuskan merakit alat secara mandiri menggunakan mesin press sablon bekas yang dipadukan dengan perangkat steam. Inspirasi tersebut mereka peroleh dari berbagai referensi, termasuk video demonstrasi di YouTube yang kemudian dikembangkan menjadi konsep baru sesuai kebutuhan ecoprint.
Meski masih berupa prototipe, alat ini dinilai memiliki potensi mendukung praktik produksi yang lebih ramah lingkungan. Dibandingkan metode konvensional, penggunaan air menjadi lebih sedikit sehingga limbah yang dihasilkan pun berkurang.
“Kalau dari segi airnya itu iya. Kalau pakai yang tradisional kan airnya harus banyak, terus pembuangannya juga banyak. Kalau ini kan sekali aja,” ujarnya.
Bagi tim pengembang, inovasi tidak harus menunggu sempurna untuk diwujudkan. Mereka berharap semakin banyak mahasiswa berani mengembangkan solusi atas persoalan yang ditemui di masyarakat.
“Jangan ragu, udah eksekusi aja. Percaya aja dulu. Karena kita yang buat, jadi kita tahu kurangnya di mana. Ternyata ada yang suka, bahkan bisa membawa nama baik kampus dan prodi,” tutup Andin.
Dengan menghubungkan kebutuhan UMKM, inovasi teknologi, dan prinsip keberlanjutan, Steam Press Ecoprint menunjukkan bahwa gagasan sederhana dari ruang kuliah dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat ekonomi kreatif yang lebih adaptif dan ramah lingkungan.