Di sebuah ruang kerja sederhana, selembar kain digelar di atas meja. Daun-daun yang telah dipilih dengan teliti disusun membentuk pola, lalu kain digulung sebelum memasuki tahap paling menentukan proses penguapan atau steaming. Selama bertahun-tahun, tahapan ini menjadi pekerjaan yang membutuhkan kesabaran ekstra bagi para pelaku usaha ecoprint. Suhu harus dijaga, kelembapan harus dipantau, dan hasil akhirnya sering kali bergantung pada pengalaman pembuatnya.
Persoalan itulah yang pertama kali ditemui tim mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang ketika melakukan observasi ke UMKM Kenikir Natural Ecoprint di Bululawang. Bukan sekadar mencari objek penelitian, mereka datang untuk memahami bagaimana sebuah proses produksi berjalan, sekaligus mencari celah yang bisa diperbaiki melalui teknologi.
Awalnya, mereka menemukan kenyataan yang cukup menyentuh. Pelaku UMKM tersebut sempat menghentikan produksi karena permintaan yang menurun dan proses pembuatan ecoprint yang sangat bergantung pada cuaca. Musim hujan membuat pengeringan kain menjadi lebih sulit sehingga produktivitas ikut menurun. Kondisi itu memperlihatkan bahwa tantangan UMKM bukan hanya soal pemasaran, tetapi juga efisiensi proses produksi.
Berawal dari Kebutuhan Nyata UMKM
Dari sinilah gagasan Steam Press Ecoprint mulai lahir.
Alih-alih langsung merancang alat di laboratorium, tim memilih menjadikan kebutuhan pelaku usaha sebagai titik awal inovasi. Mereka mencatat setiap hambatan yang muncul selama proses produksi, mulai dari pengaturan kelembapan hingga tekanan saat proses pencetakan motif daun.
“Kita memang disuruh riset dulu ke UMKM. Dari situ baru cari inovasi yang bisa membantu mereka,” ungkap salah satu anggota tim saat menceritakan awal pengembangan alat tersebut.
Proses itu membuat inovasi mereka terasa berbeda. Steam Press Ecoprint tidak hadir sebagai teknologi yang lahir dari asumsi, melainkan dari kebutuhan nyata di lapangan.
Menguji Prototipe di Luar Laboratorium
Ketika prototipe selesai dirakit, tantangan berikutnya justru dimulai. Sebuah inovasi tidak cukup hanya bisa berfungsi di meja praktikum. Ia harus diuji untuk mengetahui apakah benar-benar relevan bagi pengguna.
Selama proses pengembangan, tim beberapa kali melakukan pengujian terhadap cara kerja alat. Fokus utamanya adalah menjaga kelembapan uap tetap stabil sekaligus menghasilkan tekanan yang lebih merata pada permukaan kain.
Pada metode konvensional, pengrajin harus terus mengawasi proses steaming karena suhu dan kelembapan dapat berubah sewaktu-waktu. Sebaliknya, Steam Press Ecoprint menggunakan sistem listrik sehingga kondisi uap menjadi lebih konsisten. Di saat yang sama, bagian press dirancang agar tekanan tersebar merata sehingga motif daun dapat tercetak lebih optimal tanpa perlu dipukul satu per satu seperti metode manual.
Perubahan itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi pelaku usaha kecil, setiap tahapan yang lebih efisien berarti waktu produksi yang lebih singkat dan peluang menghasilkan kualitas produk yang lebih seragam.
Tim juga menyadari bahwa setiap hasil uji coba selalu membuka ruang evaluasi baru.
“Sebenarnya alat ini masih banyak yang harus diperbaiki. Untuk dipakai UMKM, kami juga harus mempertimbangkan kebutuhan listriknya supaya tidak memberatkan,” ujar anggota tim tersebut.
Kesadaran untuk terus menyempurnakan alat menjadi bagian penting dari proses inovasi. Mereka tidak terburu-buru menyatakan alat telah siap dipasarkan, melainkan memilih mengumpulkan masukan terlebih dahulu sebelum benar-benar diterapkan secara luas.
Inovasi yang Terus Disempurnakan
Bagi Gen Z yang tumbuh di era prototype, feedback loop, dan budaya trial and error, pendekatan seperti ini terasa sangat relevan. Inovasi tidak lagi dipandang sebagai produk yang langsung sempurna, melainkan sesuatu yang berkembang melalui kolaborasi bersama penggunanya.
Steam Press Ecoprint menunjukkan bahwa proses mendengarkan pengguna sama pentingnya dengan kemampuan merancang teknologi.
Bahkan ketika melakukan pengujian, tim menemukan tantangan yang sebelumnya tidak mereka perkirakan. Konsumsi daya listrik alat ternyata cukup besar sehingga perlu dilakukan penyesuaian apabila nantinya digunakan oleh UMKM dengan kapasitas listrik terbatas. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa keberhasilan inovasi bukan hanya ditentukan oleh fungsi alat, tetapi juga kesesuaiannya dengan kondisi pengguna di lapangan.
Meski masih berupa prototipe, arah pengembangannya sudah terlihat jelas. Steam Press Ecoprint berpotensi membuat proses produksi menjadi lebih efisien, mengurangi kebutuhan air dibanding metode konvensional, serta membantu menghasilkan motif yang lebih konsisten. Tim juga menilai penggunaan uap dalam jumlah lebih sedikit dapat mendukung proses produksi yang lebih ramah lingkungan, meski konsumsi energi listrik masih menjadi aspek yang perlu dioptimalkan.
Harapan Baru bagi Industri Ecoprint
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah inovasi tidak selalu diukur dari seberapa canggih teknologinya. Nilainya justru muncul ketika inovasi tersebut mampu menjawab persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat.
Steam Press Ecoprint mungkin masih berada pada tahap penyempurnaan. Namun langkah kecil yang dimulai dari observasi ke UMKM, dilanjutkan dengan serangkaian uji coba dan evaluasi, telah menunjukkan bagaimana kampus dapat menjadi ruang lahirnya solusi yang dekat dengan kebutuhan pelaku usaha.
Di tengah berkembangnya ekonomi kreatif dan meningkatnya perhatian terhadap produk berkelanjutan, kolaborasi semacam ini menjadi pengingat bahwa inovasi terbaik bukanlah yang selesai di ruang kelas, melainkan yang terus berkembang bersama orang-orang yang akan menggunakannya.
Karena pada akhirnya, sebuah teknologi baru benar-benar memiliki arti ketika ia mampu membuat pekerjaan seseorang menjadi lebih mudah, lebih efisien, dan memberi harapan baru bagi usaha yang terus bertahan di tengah berbagai tantangan.