Menanam Ide dan Memanen Perubahan, Ketika Sule Menulis untuk Menjaga Lingkungan

Di rak kerjanya, buku-buku itu tersusun rapi. Sebagian membahas bank sampah, sebagian lagi menjadi modul pembelajaran tentang konservasi sumber mata air, pengelolaan lingkungan, hingga praktik hidup berkelanjutan. Bagi banyak orang, buku mungkin hanya menjadi dokumentasi. Namun bagi Sulaiman Sulang yang akrab disapa Sule setiap halaman adalah cara lain menanam pohon.

Bedanya, pohon yang ia tanam melalui tulisan tumbuh di dalam pikiran.

Selama lebih dari satu dekade, Sule dikenal aktif menggerakkan masyarakat melalui aksi nyata. Ia menginisiasi bank sampah, mengajak ribuan orang menanam pohon, membangun komunitas lingkungan, hingga mendampingi sekolah dan masyarakat untuk lebih peduli terhadap alam. Namun di balik aktivitas lapangan yang padat, ada satu kebiasaan yang terus ia rawat menulis.

Baginya, aksi dan literasi bukan dua hal yang terpisah.

“Kalau edukasi saja tanpa aksi, percuma. Kalau aksi saja tanpa edukasi juga percuma. Makanya saya menulis buku,” ujar Sule ketika menceritakan alasan di balik puluhan buku yang telah diterbitkannya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menggambarkan filosofi yang ia pegang selama ini. Sebuah gerakan lingkungan tidak akan bertahan lama jika hanya bergantung pada satu orang. Pengetahuan harus didokumentasikan agar dapat dipelajari, diteruskan, bahkan dikembangkan oleh orang lain.

Menulis dari Pengalaman, Bukan Sekedar Teori

Selama bertahun-tahun mendampingi sekolah, komunitas, hingga pemerintah daerah, Sule menyadari bahwa banyak praktik baik yang berhenti hanya sebagai cerita. Padahal, pengalaman lapangan dapat menjadi panduan bagi siapa saja yang ingin memulai gerakan serupa.

Karena itu, ia mulai menyusun berbagai buku dan modul pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata. Mulai dari pengelolaan bank sampah berbasis sekolah, konservasi lingkungan, hingga modul pembelajaran yang dapat digunakan guru SD dan SMP. Seluruhnya berangkat dari aksi yang telah lebih dulu ia lakukan di lapangan.

Bahkan, ia menyebut seluruh bukunya lahir dari praktik langsung, bukan sekadar teori.

Pendekatan itu membuat tulisannya terasa dekat dengan kebutuhan pembaca. Guru dapat menjadikannya referensi pembelajaran, mahasiswa menggunakannya sebagai rujukan penelitian, sementara komunitas dapat mengadaptasi gagasan tersebut menjadi program di daerah masing-masing.

Tidak sedikit pula kepala sekolah yang membeli buku-bukunya sebagai bahan pendamping kegiatan lingkungan di sekolah. Beberapa di antaranya bahkan telah dikutip dalam penelitian akademik hingga publikasi internasional.

Memperluas Gerakan Melalui Berbagai Media

Di era media sosial yang bergerak serba cepat, Sule justru memilih memperluas gerakan melalui berbagai medium.

Ia aktif membagikan dokumentasi kegiatan di media sosial, mengunggah video di YouTube, hingga menulis buku agar pesan yang dibawa tidak berhenti setelah sebuah kegiatan selesai. Menurutnya, ketika sebuah aksi terdokumentasi dan dipublikasikan, dampaknya bisa menjangkau lebih banyak orang dibandingkan peserta yang hadir secara langsung.

Pendekatan ini terasa sangat relevan dengan generasi muda saat ini.

Di tengah budaya berbagi konten, literasi lingkungan tidak lagi hanya hadir dalam bentuk buku tebal. Ia bisa berupa video singkat, infografik, modul digital, hingga cerita inspiratif yang dibagikan melalui media sosial. Yang terpenting bukan medianya, melainkan bagaimana pengetahuan tersebut mampu menggerakkan orang lain untuk bertindak.

Bagi Sule, tulisan adalah investasi jangka panjang.

Ketika ia tidak bisa hadir mengisi pelatihan di suatu tempat, bukunya tetap dapat “berbicara”. Ketika aksi penanaman pohon telah selesai, modul yang ia susun masih bisa digunakan guru untuk mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan kepada murid-murid mereka.

Apresiasi yang Menguatkan Semangat Berbagi

Pada 2025, Sule menerima penghargaan sebagai penulis buku terbanyak kategori tenaga pendidikan tingkat Jawa Timur. Penghargaan tersebut diraihnya melalui seleksi yang melibatkan peserta dari berbagai kabupaten dan kota. Namun baginya, penghargaan bukanlah tujuan utama.

Yang jauh lebih penting adalah ketika seseorang membaca bukunya, lalu memutuskan memulai bank sampah di sekolah, mengajak tetangga memilah sampah, atau menanam pohon di lingkungan tempat tinggalnya.

“Saya tidak pernah minta bayaran. Yang penting ilmu saya menyebar,” katanya ketika menjelaskan mengapa ia membiarkan bukunya dipublikasikan melalui berbagai platform digital.

Semangat berbagi itulah yang membuat literasi menjadi bagian penting dari gerakan lingkungannya.

Menanam Gagasan untuk Generasi Mendatang

 Sule percaya bahwa perubahan perilaku adalah inti dari seluruh gerakan lingkungan. Menanam pohon memang penting, begitu pula membersihkan sungai atau memilah sampah. Namun tanpa perubahan cara berpikir, seluruh aksi itu akan terus diulang tanpa menghasilkan dampak yang berkelanjutan.

Karena itu, ia terus menulis.

Di tengah kesibukannya mendampingi komunitas, mengisi pelatihan, menjadi narasumber, hingga melakukan aksi konservasi, ia masih meluangkan waktu untuk mendokumentasikan pengalaman menjadi buku dan materi pembelajaran. Baginya, ilmu yang dibagikan akan hidup lebih lama daripada sekadar dokumentasi kegiatan.

Di zaman ketika perhatian publik hanya bertahan beberapa detik di layar gawai, langkah Sule menjadi pengingat bahwa tulisan tetap memiliki kekuatan yang tidak tergantikan. Ia mampu melintasi ruang dan waktu, menginspirasi orang yang bahkan belum pernah bertemu langsung dengan penulisnya.

Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya soal menanam pohon atau memungut sampah. Perubahan juga lahir dari kata-kata yang mampu menggerakkan pikiran, mengubah kebiasaan, dan menyalakan keberanian untuk memulai aksi.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa  Sule tidak pernah berhenti menulis. Karena setiap buku yang lahir bukan sekadar kumpulan halaman, melainkan benih-benih perubahan yang ia titipkan kepada generasi berikutnya.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.