Merkuri rantai makanan menjadi ancaman yang semakin nyata. Merkuri tidak berhenti di kawasan tambang, tetapi bergerak melalui sungai, laut, lalu masuk ke rantai makanan hingga akhirnya dikonsumsi manusia melalui ikan di meja makan. Perjalanan merkuri dalam rantai makanan membuat masyarakat yang tidak pernah menginjak kawasan tambang pun tetap berisiko mengalami paparan logam beracun tersebut.
Isu tersebut menjadi sorotan dalam webinar internasional “70 Years After the Minamata Tragedy: Is Indonesia Free from Mercury?” yang diselenggarakan Nexus 3 Foundation dalam rangka Mercury Awareness Week. Para pembicara menegaskan bahwa pencemaran merkuri merupakan ancaman kesehatan lintas generasi karena mampu bertahan lama di lingkungan dan terus berpindah melalui ekosistem.
Human Rights Officer Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights (OHCHR), Ana Paula Souza, menjelaskan bahwa merkuri merupakan logam yang sangat beracun dan mudah terakumulasi dalam rantai makanan. Menurutnya, masyarakat sering kali tidak menyadari bahwa sumber paparan terbesar justru berasal dari pangan yang dikonsumsi setiap hari.
“Mercury accumulates in dangerous levels in the food chain. Consumption of contaminated food can cause neurological and behavioral disorders,” ujar Anna Paula.
Ia menambahkan bahwa merkuri juga dapat menembus plasenta sehingga meningkatkan risiko gangguan perkembangan janin, malformasi, hingga penurunan kecerdasan (IQ). Karena sifatnya yang persisten, pencemaran merkuri dapat bertahan selama puluhan bahkan ratusan tahun di lingkungan.
Dari Tambang hingga Piring Makan
Sebagian besar pencemaran merkuri saat ini berasal dari aktivitas pertambangan emas skala kecil (Artisanal and Small-Scale Gold Mining/ASGM). Dalam proses pemisahan emas, merkuri dicampurkan dengan material tambang sehingga membentuk amalgam. Setelah emas dipisahkan, sisa merkuri sering kali dibuang begitu saja ke lingkungan.
Di perairan, bakteri akan mengubah merkuri anorganik menjadi metil merkuri, bentuk yang jauh lebih beracun dan mudah diserap organisme hidup. Senyawa ini kemudian masuk ke plankton, dimakan ikan kecil, berpindah ke ikan yang lebih besar, hingga akhirnya dikonsumsi manusia. Proses tersebut dikenal sebagai bioakumulasi dan biomagnifikasi.
Anna Paula menegaskan bahwa paparan tidak hanya dialami pekerja tambang. Masyarakat yang tinggal jauh dari lokasi pertambangan pun tetap beresiko ketika mengkonsumsi ikan atau makanan laut yang telah terkontaminasi.
“Miners and nearby communities are exposed to mercury directly through mining activities or indirectly through the food chain, such as by consuming mercury-contaminated fish,” jelasnya.
Hal senada disampaikan perwakilan IPEN Southeast and East Asia Regional Hub, yang mengingatkan bahwa pencemaran merkuri terus bergerak melalui sungai, tanah, hingga rantai makanan.
“Mercury pollution continues in rivers and soils, in food chains, and in the bodies of workers, women, children, and communities living closest to contamination and exposure,” ujarnya.
Paparan merkuri menjadi semakin sulit dikendalikan karena gejalanya tidak muncul secara langsung. Gangguan saraf, tremor, penurunan kemampuan kognitif, hingga gangguan perkembangan pada anak sering kali baru terlihat setelah paparan berlangsung dalam waktu lama.
Edukasi Konsumen dan Pemulihan Lingkungan Menjadi Kunci
Dalam webinar tersebut, para pembicara menekankan bahwa penanganan merkuri tidak cukup hanya menghentikan penggunaannya di lokasi tambang. Kawasan yang telah tercemar perlu dipulihkan agar pencemaran tidak terus berpindah ke generasi berikutnya melalui air, tanah, maupun sumber pangan.
Anna Paula menyebut negara memiliki kewajiban untuk melakukan rehabilitasi lokasi tercemar, menyediakan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak, serta memastikan masyarakat memperoleh informasi mengenai risiko pangan yang terkontaminasi merkuri.
Ia juga menyoroti pentingnya hak masyarakat untuk mengetahui kondisi lingkungan di sekitarnya, termasuk akses terhadap data pencemaran dan keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan.
Sementara itu, perwakilan IPEN mengingatkan bahwa implementasi Konvensi Minamata tidak boleh berhenti pada ratifikasi semata. Pengawasan terhadap penggunaan merkuri, penguatan sistem kesehatan, serta pelibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk mencegah munculnya korban baru.
Dalam konteks gaya hidup berkelanjutan, edukasi kepada konsumen juga dinilai semakin penting. Memahami asal-usul pangan, mengenali wilayah yang memiliki risiko pencemaran, hingga mendukung upaya pengurangan penggunaan merkuri menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat.
Pesan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa menjaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pilihan makanan, tetapi juga kondisi lingkungan tempat makanan itu berasal. Selama pencemaran merkuri masih terjadi di hulu, ancamannya dapat terus mengalir hingga ke meja makan.
Tujuh dekade setelah tragedi Minamata di Jepang, para pembicara sepakat bahwa pelajaran terbesar bukan hanya tentang bahaya merkuri, tetapi juga pentingnya mencegah pencemaran sejak sumbernya. Sebab ketika merkuri telah memasuki rantai makanan, dampaknya tidak lagi mengenal batas wilayah maupun generasi.