
Foto: Dok Pribadi/Natera
Kota Malang – Gaya hidup ramah lingkungan sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat Indonesia. Jauh sebelum istilah zero waste atau sustainable living populer, praktik ramah lingkungan sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Hal ini diungkapkan oleh DK Wardhani saat merefleksikan perubahan gaya hidup dari masa lalu hingga sekarang. Menurutnya, kebiasaan masyarakat pada masa lalu cenderung lebih sederhana sekaligus lebih hemat sampah. Banyak aktivitas sehari-hari yang tanpa disadari mendukung keberlanjutan lingkungan, meskipun pada saat itu belum dikenal sebagai gerakan lingkungan.
Wardhani menjelaskan bahwa sistem penggunaan ulang seperti botol kaca isi ulang dan penggunaan wadah pribadi dulunya menjadi kebiasaan umum. Selain mengurangi limbah, kebiasaan tersebut juga mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan barang. Namun, perubahan zaman membawa perubahan pola konsumsi masyarakat. Munculnya berbagai produk instan dan layanan berbasis digital membuat masyarakat semakin bergantung pada kemudahan. Akibatnya, jumlah sampah yang dihasilkan pun meningkat secara signifikan.
Budaya Praktis yang Memicu Ledakan Sampah
Wardhani melihat bahwa budaya serba praktis menjadi salah satu faktor utama meningkatnya volume sampah rumah tangga. Kemudahan yang ditawarkan oleh layanan modern membuat masyarakat semakin jarang mempertimbangkan dampak lingkungan dari setiap keputusan konsumsi.
Ia menilai bahwa kemudahan yang terus berkembang membuat masyarakat tidak lagi terbiasa dengan proses yang membutuhkan usaha lebih. Banyak orang memilih produk sekali pakai karena dianggap lebih praktis, meskipun berdampak buruk bagi lingkungan.
“Dulu beli minyak goreng dituang ke botol, beli kecap tukar botol. Sekarang ibu-ibu tinggal gofood. Kepraktisan jadi hal utama, dan produsen pun diuntungkan. Masyarakat kita itu sudah sangat dimanjakan dengan berbagai kemudahan.”
Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga mulai merambah ke wilayah lain. Kebiasaan memesan makanan secara daring, menggunakan kemasan sekali pakai, serta membeli produk dalam kemasan kecil menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Menurut Wardhani, produsen juga turut mengambil peran dalam mendorong pola konsumsi tersebut. Produk dengan kemasan praktis sering kali dianggap lebih menarik dan mudah dipasarkan, sehingga semakin banyak pilihan produk sekali pakai di pasaran.
Ia menilai bahwa kondisi ini menciptakan tantangan baru dalam upaya pengurangan sampah. Jika pada masa lalu masyarakat terbiasa menggunakan ulang barang, kini kebiasaan tersebut mulai tergantikan oleh budaya instan.
Mengubah Mindset di Tengah Kemudahan
Perubahan gaya hidup yang semakin praktis membuat upaya mengurangi sampah menjadi tidak mudah. Wardhani menilai bahwa tantangan terbesar bukan hanya terletak pada teknologi atau sistem pengelolaan sampah, tetapi pada pola pikir masyarakat.
Menurutnya, masyarakat saat ini sudah terbiasa dengan kenyamanan yang ditawarkan oleh berbagai layanan modern. Oleh karena itu, mengajak masyarakat kembali pada kebiasaan yang lebih ramah lingkungan membutuhkan pendekatan yang tidak sederhana.
“Perubahan perilaku harus dimulai dari kesadaran individu terhadap dampak dari setiap keputusan konsumsi. Kesadaran ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah sampah yang dihasilkan, tetapi juga dengan sumber daya alam yang digunakan dalam setiap produk.”
“Gaya hidup ramah lingkungan tidak harus berarti kembali sepenuhnya ke masa lalu. Sebaliknya, masyarakat perlu mengambil nilai-nilai baik dari kebiasaan lama dan menyesuaikannya dengan kondisi saat ini.”
Dalam berbagai kegiatan edukasi yang ia lakukan, Wardhani sering mengajak masyarakat untuk mulai dari langkah kecil, seperti membawa wadah sendiri saat membeli makanan atau memilih produk dengan kemasan yang dapat digunakan kembali.
Ia percaya bahwa perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa dampak besar dalam jangka panjang. Ketika masyarakat mulai menyadari bahwa kemudahan memiliki konsekuensi terhadap lingkungan, diharapkan akan muncul kesadaran untuk memilih alternatif yang lebih bijak.
Menemukan Keseimbangan antara Nostalgia dan Inovasi
Wardhani menilai bahwa nostalgia terhadap kebiasaan lama dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran lingkungan di masa kini. Dengan mengingat kembali praktik sederhana di masa lalu, masyarakat dapat melihat bahwa hidup ramah lingkungan sebenarnya bukan hal yang sulit dilakukan.
Namun, ia juga menyadari bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, yang dibutuhkan bukanlah penolakan terhadap kemajuan, melainkan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi secara bijak.
Menurutnya, keseimbangan antara nilai-nilai lama dan inovasi modern menjadi kunci dalam menghadapi tantangan lingkungan saat ini. Masyarakat perlu memahami bahwa setiap kemudahan memiliki dampak, dan setiap pilihan konsumsi membawa konsekuensi terhadap alam.
Melalui berbagai edukasi dan kampanye yang ia jalankan, Wardhani berharap masyarakat dapat kembali meninjau kebiasaan sehari-hari mereka. Dengan begitu, gaya hidup ramah lingkungan tidak lagi dianggap sebagai beban, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlanjutan bumi.