
Foto: Dok Pribadi/Natera
Pagi itu matahari Kota Batu baru naik setengah, tetapi halaman depan Retrorika sudah tampak hidup lebih dulu. Daun-daun monstera bergerak pelan tertiup angin, pot-pot philodendron bertengger di rak kayu bekas jendela, dan akar-akar liana merayap santai di dinding bata. Seolah-olah kafe itu punya paru-paru sendiri yang membuat udara di sekelilingnya terasa lebih ringan, lebih sejuk.
Ismi, CEO Retrorika, berdiri di antara rimbunan itu sambil menepuk-nepuk daun tanaman seperti sedang menyapa teman lama. “Awalnya kami mau bikin kafe bertema sukulen dan kaktus,” katanya sambil tertawa kecil. “Tapi panasnya itu lho enggak kuat. Akhirnya kita putar arah tanaman yang bisa jadi peneduh, yang bikin adem.”
Dari sinilah Retroplant lahir lini bisnis tanaman hias yang kini menjadi jantung hijau Retrorika.
Dari Konservasi ke Kanopi Hidup
Retrorika sejak awal bukan sekadar kafe. Ia tumbuh dari visi sederhana,ruang diskusi bagi mereka yang peduli lingkungan. Tetapi ketika cahaya matahari terlalu menyengat untuk membuat ruangan nyaman, kebutuhan bertemu kreativitas. Tanaman tidak lagi sekadar dekorasi. Mereka menjadi solusi.
“Kalau cuma bikin kafe model green house, itu sudah banyak,” ujar Ismi. “Kami ingin ruang yang benar-benar hidup. Yang menyejukkan, bukan hanya Instagramable.”
Maka suami Ismi seorang desainer yang terbiasa mendaur ulang barang bekas menjadi furnitur mulai menata ruang. Barang-barang rustik itu dipadukan dengan tanaman rindang sirih gading, monstera, kuping gajah, hingga tanaman merambat yang dibiarkan menjalar membentuk lorong hijau.
Kafe itu berubah menjadi taman rumah. Teduh. Damai. Tempat orang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga bernapas.
Tanaman Sebagai Pendingin Ruang Alami
Gen Z mungkin mengenal istilahnya natural cooling system. Tapi Retrorika sudah melakukannya sejak 2018. Tanaman berfungsi sebagai peneduh, penyaring udara, sekaligus penurun suhu ruangan. Tidak ada AC besar yang menderu, tidak ada ruangan kedap yang dinginnya menusuk.
Tanaman-tanaman tinggi ditempatkan di titik rawan panas. Yang rimbun dibiarkan memayungi meja-meja luar. Yang tahan teduh berada di bawah lampu-lampu bekas yang dialihfungsikan. Semua tertata seperti taman hutan mini.
“Banyak yang enggak sadar,” kata Ismi, “di dalam kafe ini suhu ruangan lebih rendah tanpa harus menyalakan AC besar. Semua karena tanaman.”
Tanaman tidak hanya menyejukkan, tapi juga memurnikan. Debu tersaring, udara lebih lembap, dan sensasi “panas kota” seperti menghilang begitu seseorang melangkah masuk.
Di Balik Daun: Sistem Pemeliharaan yang Tidak Main-main
Retroplant bukan sekadar memajang tanaman. Sistem di baliknya rapi dan serius. Kesuburan tanaman di kafe ini berasal dari kompos buatan sendiri hasil dari pengolahan sisa makanan dan daun dapur.
Setiap hari, sisa sayuran, kulit buah, dan daun pisang ditampung. Lalu diolah melalui mesin penggiling dan pencacah sebelum masuk ke komposter. Prosesnya memakan waktu 5–6 bulan sebelum berubah menjadi kompos siap pakai.
“Media tanam Retroplant dicampur dengan kompos panenan sendiri,” jelas Ismi. “Muter. Dari dapur, jadi kompos, jadi tanaman yang bikin kafe ini adem.”
Hasilnya terasa langsung: daun-daun menjadi tebal dan sehat, tidak pucat, tidak mudah rontok. Bahkan banyak pelanggan yang bertanya, “Tanaman di sini kenapa bagus-bagus semua?”
Ismi menjawab sederhana karena mereka diberi makan dari dapur sendiri.
Ketika Tanaman Menjadi Identitas
Di dalam ruang penuh daun itu, banyak pengunjung merasa seperti berada di taman botani versi mini. Anak-anak muda sering datang hanya untuk foto, atau sekadar duduk di sudut hijau yang sejuk sambil bekerja dengan laptop.
Beberapa tanaman bahkan dijual untuk pelanggan yang “lapar mata”. “Customer Surabaya itu lapar mata sekali,” kata Ismi sambil terkekeh. “Mereka bilang, ‘Bu, tanamannya lucu banget, boleh saya beli?’ ya boleh, kalau memang siap untuk dirawat.”
Retroplant menjadi lebih dari sekadar lini bisnis. Ia adalah identitas visual Retrorika. Tampilan rustic bercampur hijau membuat siapa pun langsung mengenali kafe itu bahkan tanpa membaca namanya.
Tanaman sebagai Pendidikan Ekologis
Setiap dua pekan sekali, Retrorika mengadakan program SASISU. SASISU yang berarti Sabtu Sinau Seru, berisi workshop dan diskusi tentang alam, salah satunya perawatan tanaman.
Pengunjung diajak memahami cara memelihara tanaman, membuat kompos sederhana, hingga mengenal nilai ekologis bambu yang digunakan sebagai tisu dan wadah makanan.
Tanaman menjadi media pendidikan yang halus tetapi efektif. Tidak ada ceramah kaku. Hanya percakapan di antara daun.
Hutan Mini yang Mengubah Cara Kita Nongkrong
Retrorika bisa saja menjadi kafe biasa. Tetapi keberadaan Retroplant menjadikannya sesuatu yang lain, tempat di mana tanaman bekerja sebagai arsitek, pendingin, dan penjaga keseimbangan.
Di tengah kota yang makin panas, hutan mini seperti ini lebih dari sekadar estetika. Ia bagian dari perlawanan terhadap polusi dan jejak karbon. Bahkan kini Retrorika sedang menuju pendataan low-carbon footprint, dan tanaman menjadi salah satu variabel penting dalam perhitungan itu.
Di akhir kunjungan, Ismi menatap tanaman-tanaman di sekelilingnya. “Kalau bukan kita yang bikin ruang adem, siapa lagi? Alam sudah kasih cara paling sederhana untuk menyejukkan bumi ya lewat tanaman.”
Dalam hutan mini Retrorika, pesan itu terasa sangat jelas. Udara lebih segar. Ruang lebih tenang. Dan di setiap helai daun, ada harapan kecil untuk masa depan yang lebih hijau.