Ketika Limbah Peternakan Menjadi Solusi Energi

Kotoran sapi di UMM diolah jadi biogas dan berubah menjadi listrik yang masuk ke jaringan PLN.
Foto: Dok Pribadi/Natera.

Malang – Halo Naters! Di banyak tempat, kotoran sapi identik dengan bau, lalat, dan persoalan sanitasi. Ia sering dianggap limbah yang harus segera dibersihkan atau dibuang jauh dari permukiman. Namun di kawasan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kotoran ternak justru diposisikan berbeda. Limbah ini menjadi sumber energi, diolah menjadi biogas yang mampu menghasilkan listrik dan masuk ke jaringan PLN.

Di sinilah PLTMH UMM tidak hanya berbicara soal pembangkit listrik, tetapi juga tentang bagaimana limbah peternakan bisa diubah menjadi bagian dari solusi energi berkelanjutan.

Limbah yang Dikumpulkan di Silo

Sumber biogas di PLTMH UMM berasal dari kotoran sapi yang dihasilkan peternakan milik Jurusan Peternakan UMM. Setiap hari, kotoran ternak dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam silo. Tidak ada proses rumit di tahap awal ini. Kotoran hewan dibiarkan terurai secara alami di dalam wadah tertutup hingga menghasilkan biogas (methana).

“Di sini kita punya unit pengelolaan ternak. Kotoran hewan dimasukkan ke silo, dan silo itu menghasilkan gas,” ujar pengelola saat menjelaskan prosesnya.

Gas yang muncul dari penguraian tersebut tidak dibiarkan terlepas ke udara. Ia ditangkap dan dimanfaatkan sebagai sumber energi. Dalam konteks ini, kotoran sapi tidak lagi dilihat sebagai sisa tak berguna, melainkan sebagai bahan baku energi terbarukan.

Pendekatan ini sekaligus menjawab persoalan lama dalam peternakan, yakni penumpukan limbah. Kotoran sapi yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan kini diolah masuk ke dalam sistem yang menghasilkan manfaat dan nilai guna baru.

Biogas Pengganti Bahan Bakar

Biogas yang dihasilkan digunakan untuk menggerakkan mesin berbasis pembakaran dalam. Gas ini berfungsi sebagai pengganti bahan bakar fosil, bukan bensin maupun solar.

“Gasnya dipakai seperti bensin, tapi biogas. Bukan bensin, bukan diesel,” jelasnya.

Mesin tersebut kemudian digunakan untuk menggerakkan generator. Dari sinilah listrik dihasilkan. Skema ini memperlihatkan bahwa energi dari limbah bisa mengambil peran yang selama ini didominasi oleh bahan bakar fosil.

Tanpa harus bergantung pada pasokan bensin atau solar, sistem biogas di PLTMH UMM memanfaatkan sumber energi yang tersedia setiap hari dan terus diperbarui oleh aktivitas peternakan. Selama sapi masih menghasilkan kotoran, energi pun tetap ada.

Bagi pengelola, biogas bukan sekadar alternatif teknis, tetapi juga pilihan etis. Menggunakan limbah sebagai energi berarti mengurangi ketergantungan pada sumber daya tak terbarukan sekaligus menekan dampak lingkungan.

Listrik dari PLTMH UMM ke Jaringan PLN

Energi yang dihasilkan dari biogas ini tidak berhenti di area pengelolaan. Daya listrik yang dihasilkan bisa mencapai sekitar 222 kilowatt dan disalurkan ke jaringan PLN.

“Kalau dayanya bisa sampai 222. Dan itu dijual ke PLN,” ujarnya.

Artinya, listrik dari kotoran sapi tidak hanya dimanfaatkan secara internal, tetapi juga berkontribusi pada sistem kelistrikan yang lebih luas. Ini menunjukkan bahwa energi terbarukan berbasis limbah mampu masuk ke skema resmi penyediaan listrik, bukan sekadar proyek kecil berskala lokal.

Keterhubungan dengan PLN juga memberi pesan penting: energi bersih dari limbah bukan sesuatu yang marginal. Ia bisa diintegrasikan dengan sistem energi nasional, selama dikelola dengan konsisten dan berkelanjutan.

Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dan tekanan terhadap sumber energi fosil, model seperti ini menawarkan alternatif yang relevan, terutama di wilayah yang memiliki potensi peternakan.

Sisa Limbah Lebih Aman bagi Lingkungan

Setelah gas diambil, sisa kotoran tidak lagi memiliki karakteristik yang sama seperti limbah mentah. Proses di dalam silo membuat residu menjadi lebih stabil dan tidak lagi berbahaya seperti sebelumnya.

“Begitu gasnya diambil, sisa limbah kotoran hewan sudah tidak berbahaya lagi,” jelas pengelola.

Hal ini penting, karena persoalan limbah peternakan tidak hanya berhenti pada produksi energi. Jika tidak dikelola dengan baik, sisa kotoran tetap bisa mencemari tanah dan air. Dalam sistem biogas ini, limbah mengalami dua kali manfaat: menghasilkan energi dan mengurangi potensi pencemaran.

Cerita biogas di PLTMH UMM menunjukkan bahwa solusi lingkungan tidak selalu datang dari teknologi canggih atau skala besar. Kadang, butuh tumbuh dari pengelolaan limbah yang selama ini dipandang sepele. Dari pengelolaan ternak, lahir energi dari kotoran, muncul listrik. Sebuah pengingat bahwa masa depan energi bersih bisa dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan keseharian.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.